ADVERTISEMENT
Humaniora

Tak Bisa Mengatur Kejadian, Tetapi Bisa Mengatur Dirimu

Andreas Neke. 27 August 2026 47 kali dibaca
Tak Bisa Mengatur Kejadian, Tetapi Bisa Mengatur Dirimu

Bayangkan seseorang yang telah bekerja keras selama bertahun-tahun, tetapi tiba-tiba kehilangan pekerjaannya. Ia kecewa, marah, bahkan merasa hidup tidak adil. Pada saat yang sama, orang lain menghadapi persoalan serupa, tetapi memilih berhenti sejenak, menerima kenyataan, dan tetap melanjutkan kehidupan melalui hal-hal yang bisa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Keduanya menghadapi peristiwa yang sama yakni kehilangan pekerjaan. Yang berbeda bukan kenyataannya, melainkan respons terhadap kenyataan itu.


Di sini kita menemukan salah satu gagasan penting dalam filsafat Stoa yang sering dikaitkan dengan Marcus Aurelius, "Kita tidak selalu dapat mengendalikan apa yang terjadi kepada kita, tetapi kita dapat memilih bagaimana merespons apa yang terjadi". Gagasan ini sederhana, tetapi memiliki kedalaman psikologis, sosial, dan filosofis yang luar biasa.


Secara psikologis, penderitaan tidak selalu berasal dari peristiwa. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering mengalami tekanan bukan hanya karena peristiwa yang terjadi, tetapi juga karena cara pikirnya terhadap peristiwa tersebut. Kegagalan, penghinaan, kehilangan, penolakan, kritik, perubahan keadaan, bahkan perlakuan buruk dari orang lain memang dapat menimbulkan luka. Namun, setelah peristiwa itu terjadi, manusia masih memiliki ruang untuk menentukan sikap. Seseorang dapat dihina, tetapi ia tidak harus membalas dengan penghinaan. Ia dapat dikhianati, tetapi tidak harus menghabiskan seluruh hidupnya dalam kebencian. Ia dapat mengalami kegagalan, tetapi tidak harus menyimpulkan bahwa dirinya adalah manusia yang gagal.


Di sinilah pentingnya membedakan antara peristiwa dan interpretasi terhadap peristiwa. Peristiwa berada di luar diri kita, tetapi interpretasi terhadap peristiwa memiliki ruang yang lebih besar untuk kita kelola. Inilah salah satu alasan mengapa dua orang yang mengalami kejadian yang sama dapat menunjukkan reaksi yang sangat berbeda. Yang satu tenggelam dalam kemarahan, yang lain memilih belajar. Yang satu menyalahkan semua orang, yang lain mengevaluasi dirinya. Yang satu melihat akhir, yang lain melihat kemungkinan baru.


Secara psikologis, kemampuan memilih respons merupakan bentuk regulasi diri. Kita tidak selalu dapat memilih apa yang kita rasakan pada detik pertama. Marah, sedih, takut, kecewa, atau cemas dapat muncul secara spontan, tetapi manusia mempunyai kemampuan untuk menentukan apa yang dilakukan setelah emosi itu muncul. Maka, menjadi kuat bukan berarti tidak pernah marah atau sedih, tetapi tidak membiarkan emosi sesaat mengambil alih seluruh keputusan hidup.


Secara sosiologis, kita hidup dalam dunia yang tidak bisa kita kendalikan. Manusia bukan makhluk yang hidup sendirian. Kita hidup dalam keluarga, komunitas, organisasi, masyarakat, dan negara. Oleh karena itu, sebagian besar pengalaman hidup kita dipengaruhi oleh tindakan orang lain. Kita tidak dapat mengendalikan apa yang dikatakan orang tentang kita. Kita tidak dapat mengatur bagaimana orang menilai kita. Kita tidak bisa memaksa semua orang menyukai kita. Dan,, kita bahkan tidak dapat memastikan bahwa kebaikan kita akan selalu dibalas dengan kebaikan pula.


Dalam masyarakat, selalu ada konflik kepentingan, perbedaan karakter, kecemburuan, kompetisi, prasangka, dan ketidakadilan. Oleh karena itu, keinginan untuk mengendalikan semua hal sebenarnya dapat menjadi sumber kelelahan psikologis. Kita ingin mengatur opini orang lain, memastikan semua orang memahami niat baik kita, mengubah karakter orang yang keras kepala, dan membuat orang yang membenci kita menjadi menyukai kita. Padahal, sebagian besar hal tersebut bukan berada dalam wilayah kendali kita. Yang berada dalam kendali kita adalah bagaimana kita berbicara, bertindak, menjaga integritas, menghadapi kritik, dan memilih untuk memperlakukan orang lain.


Dalam kehidupan sosial, prinsip ini menjadi sangat penting. Jika setiap penghinaan dibalas penghinaan, konflik akan berkembang. Jika setiap perbedaan pendapat dianggap sebagai permusuhan, masyarakat akan kehilangan ruang dialog. Oleh karena itu, kemampuan memilih respons bukan hanya persoalan pribadi, tetapi juga mempunyai konsekuensi sosial. Seseorang yang mampu mengendalikan dirinya dapat memutus mata rantai konflik yang sebenarnya bisa diperpanjang oleh reaksinya sendiri.


Marcus Aurelius mengajarkan kita tentang kebijaksanaan dalam mengendalikan diri. Marcus Aurelius adalah salah satu tokoh besar filsafat Stoa sekaligus Kaisar Romawi. Dalam Meditations, ia banyak merenungkan keterbatasan manusia dalam menghadapi dunia dan pentingnya mengendalikan penilaian, pikiran, serta tindakan diri sendiri.


Gagasan yang sering diringkas sebagai “kamu tidak bisa mengendalikan apa yang terjadi padamu, tetapi kamu bisa memilih responsmu” pada dasarnya mencerminkan semangat filsafat Stoa, yakni memusatkan perhatian pada apa yang berada dalam kendali kita dan menerima dengan jernih apa yang berada di luar kendali kita. Bagi seorang Stoik, dunia tidak selalu berjalan sesuai keinginan manusia. Ada kematian, kehilangan, penyakit, kegagalan, perubahan politik, pengkhianatan, bencana, dan berbagai keadaan yang tidak dapat diprediksi.


Masalahnya bukan bahwa semua hal buruk harus dianggap baik. Bukan pula bahwa manusia harus menjadi pasif terhadap ketidakadilan. Sebaliknya, manusia harus bertindak sebaik mungkin terhadap apa yang dapat dilakukan, tetapi menerima dengan tenang kenyataan bahwa hasil akhirnya tidak selalu berada dalam kendalinya. Kita dapat bekerja keras, tetapi tidak bisa menjamin keberhasilan. Kita dapat berkata jujur, tetapi tidak dapat memaksa orang mempercayai kita. Dan, kita dapat berbuat baik, tetapi tidak dapat memastikan orang lain akan membalasnya. Oleh karena itu, kebijaksanaan bukan terletak pada kemampuan menguasai dunia, melainkan kemampuan menguasai diri ketika dunia tidak berjalan sesuai keinginan.


Sering kali gagasan Stoa disalahpahami sebagai ajaran untuk menerima segala sesuatu secara pasif. Padahal, menerima kenyataan tidak sama dengan menyerah. Jika seseorang diperlakukan tidak adil, ia tetap dapat memperjuangkan keadilan. Jika terjadi korupsi, masyarakat tetap harus melawannya. Dan jika terjadi kekerasan, manusia tetap harus melindungi korban.


Yang harus dikendalikan adalah cara kita melakukan perlawanan. Kemarahan dapat menjadi energi untuk memperjuangkan perubahan, tetapi kemarahan yang tidak dikendalikan dapat berubah menjadi kebencian dan kekerasan. Oleh karena itu, yang terpenting bagi seorang Stoik bukan hanya mengapa sesuatu hal terjadi kepada seseorang tetapi juga apa tindakan terbaik yang dapat kulakukan dalam keadaan tersebut. Hal yang kedua membuat manusia bergerak dari posisi korban menuju posisi subjek.


Gagasan Marcus Aurelius terasa semakin relevan di tengah kehidupan modern dewasa ini. Media sosial membuat manusia terus-menerus berhadapan dengan komentar, kritik, perdebatan, provokasi, dan penilaian publik. Satu kalimat dapat membuat seseorang marah sepanjang hari, satu komentar dapat merusak hubungan, dan satu unggahan dapat memicu konflik panjang. Di tengah situasi seperti itu, kemampuan memilih respons menjadi semakin penting, karena tidak semua komentar harus dijawab, tidak semua tuduhan harus dibalas, dan tidak semua provokasi layak mendapatkan perhatian. Kadang-kadang, diam bukan kelemahan tetapi bentuk pengendalian diri.


Demikian pula dalam kehidupan politik, pekerjaan, pendidikan, keluarga, dan hubungan sosial. Kita akan selalu bertemu dengan orang yang tidak sesuai dengan harapan kita. Ada atasan yang tidak adil, rekan kerja yang tidak menyenangkan, teman yang berubah, orang yang salah memahami kita, dan keputusan yang mengecewakan. Kita tidak dapat mengendalikan semuanya, tetapi kita dapat memilih apakah akan menjadi pahit atau menjadi dewasa; menjadi pendendam atau belajar melepaskan; menjadi agresif atau tegas; menjadi korban keadaan atau tetap mengambil tanggung jawab atas hidup sendiri.


Pada akhirnya, kebebasan manusia tidak selalu terletak pada kemampuan menentukan apa yang terjadi, tetapi terletak pada kemampuan menentukan siapa diri kita ketika sesuatu terjadi kepada kita. Kita mungkin tidak dapat memilih badai yang datang, tetapi kita masih dapat memilih bagaimana berdiri ketika badai menerpa. Kita mungkin tidak dapat mengendalikan dunia, tetapi kita dapat mulai dengan mengendalikan diri sendiri. Dan, ini adalah salah satu bentuk kemenangan manusia yang paling sederhana sekaligus paling sulit yakni bukan memenangkan semua keadaan, melainkan tidak membiarkan keadaan mengalahkan karakter kita.



ADVERTISEMENT
Andreas Neke

Tentang Penulis

Andreas Neke, S.Ag., B.Th.

Pendidik dan penulis asal Flores, Nusa Tenggara Timur.

→ Lihat Profil Penulis

Menyukai tulisan tentang makna hidup dan pergulatan manusia?

Temukan gagasan lebih mendalam dalam buku Remaja dan Pergumulan Jati Dirinya.

Lihat Buku →
Remaja dan Pergumulan Jati Dirinya