Namamu Tak Disebut, Mengapa Anda Merasa Tersindir?
Ada sesuatu yang menarik dalam diri manusia, bahwa manusia bisa merasa sedang dibicarakan bahkan ketika namanya tidak pernah disebut. Seseorang menulis tentang kesombongan, tidak disebutkan nama. Seseorang berbicara tentang ketidakjujuran, tidak ada identitas. Seseorang mengkritik kebiasaan buruk yang hidup di tengah masyarakat tanpa foto, tidak ada inisial, dan tidak ada petunjuk personal. Tetapi, tiba-tiba seseorang marah dan merasa bahwa itu ditujukan kepada dirinya.
Menariknya, yang seharusnya muncul bukan soal mengapa seseorang menulis tentang saya, tetapi mengapa saya merasa tulisan itu berbicara tentang saya. Di antara kedua sorotan itu terdapat jarak yang sangat besar. Dan, di dalam jarak itu psikologi manusia bekerja di antaranya.
Manusia mempunyai kecenderungan untuk membaca dunia melalui pengalaman dirinya sendiri. Ketika membaca sebuah tulisan, kita tidak datang sebagai kertas kosong, karena kita membawa pengalaman, luka, konflik, ketakutan, rasa bersalah, ambisi, harga diri, dan sejarah pribadi. Oleh karena itu, satu kalimat yang terasa biasa saja bagi orang lain, tetapi bagi seseorang bisa terasa seperti sebuah pukulan berat. Bukan karena kalimat itu menyebut namanya, tetapi karena kalimat itu menyentuh "sesuatu" yang ada di dalam dirinya.
Di sinilah sebuah tulisan dapat berubah menjadi cermin. Cermin tidak pernah menuduh, menghina, dan hanya memperlihatkan. Tetapi, manusia kadang marah kepada cermin karena tidak menyukai apa yang dilihatnya, yakni kenyataan tentang realitas dirinya sendiri.
Begitu pula dengan sebuah tulisan. Penulis mungkin sedang berbicara tentang fenomena sosial, tetapi pembaca tertentu merasa dirinya sedang dipotret. Lalu, ia marah kepada penulis, padahal boleh jadi yang sebenarnya sedang ia lawan bukan penulis, melainkan gambaran tentang dirinya sendiri yang tiba-tiba muncul di dalam tulisan tersebut.
Ini adalah bagian yang sering dilupakan bahwa perasaan bukan bukti dari realitas yang sesungguhnya, dalam mana kita bisa merasa dituduh tanpa benar-benar dituduh; kita bisa merasa disindir tanpa benar-benar disindir; kita bisa merasa seseorang sedang berbicara tentang kita, padahal orang tersebut sedang berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih umum.
Secara psikologis, manusia mudah melakukan personalisasi, yakni menghubungkan sesuatu yang bersifat umum dengan dirinya secara khusus, apalagi jika tema yang dibicarakan menyentuh pengalaman atau persoalan yang sedang ia hadapi. Seorang penulis bisa saja menulis demikian, “Di zaman ini, banyak orang lebih sibuk membangun citra daripada memperbaiki karakter.” Tulisannya tanpa nama dan tidak menyebutkan identitas. Tetapi, seseorang langsung berkata, “Ini pasti tentang saya.” Pertanyaannya adalah dari mana kepastian itu datang. Dari tulisan atau dari pikiran sendiri...?
Di sini kita perlu belajar membedakan antara apa yang dikatakan dan apa yang kita tafsirkan dari apa yang dikatakan. Sering kali pertengkaran manusia tidak dimulai dari kata-kata, tetapi dari interpretasi terhadap kata-kata. Ada orang yang sebenarnya tidak sedang diserang, tetapi merasa terus-menerus diserang, karena ia mungkin membawa luka tertentu dalam dirinya. Orang yang pernah dipermalukan sangat mungkin menjadi sensitif terhadap pembicaraan mengenai harga diri. Orang yang pernah dituduh tidak jujur mungkin sangat defensif ketika membaca tulisan tentang kejujuran. Dan, orang yang takut kehilangan reputasi mungkin sangat cepat bereaksi terhadap kritik tentang citra sosial.
Dengan kata lain, yang menentukan keras atau lembutnya sebuah kata kadang bukan hanya kata itu sendiri, tetapi kondisi batin orang yang menerimanya. Pisau yang sama dapat digunakan untuk memotong buah atau melukai seseorang. Demikian pula kata-kata. Satu kalimat dapat menjadi bahan refleksi bagi seseorang, tetapi dapat menjadi ancaman bagi orang lain. Oleh karena itu, orang yang cepat tersinggung tidak selalu sedang menunjukkan bahwa penulisnya jahat. Bisa jadi ia sedang menunjukkan bahwa ada wilayah tertentu dalam dirinya yang sangat sensitif.
Namun demikian, kita juga harus berhati-hati, karena merasa tersinggung bukan bukti bahwa seseorang bersalah. Merasa tersinggung bisa saja memang salah memahami tulisan. Ia bisa saja memiliki pengalaman yang membuatnya lebih waspada. Oleh karena itu, kedewasaan bukan mengatakan, “Kalau tersinggung berarti benar.” Kedewasaan adalah bertanya, “Apa yang sebenarnya terjadi antara kata-kata itu dan perasaan saya?”
Persoalan menjadi lebih rumit ketika terjadi di media sosial. Media sosial membuat manusia hidup di hadapan publik. Harga diri, reputasi, dan citra pribadi menjadi sesuatu yang terus dipertontonkan. Akibatnya, kritik terhadap perilaku tertentu dapat dirasakan sebagai ancaman terhadap identitas. Orang tidak lagi hanya membela argumennya, tetapi membela dirinya. Ia ingin menunjukkan kepada publik bahwa “Saya bukan orang seperti yang digambarkan tulisan itu.”
Dengannya, lahirlah pembelaan panjang, lalu muncul komentar, dan kemudian orang lain ikut menafsirkan. Yang semula hanya sebuah refleksi sosial akhirnya menjadi drama personal. Ironisnya, semakin seseorang berusaha meyakinkan publik bahwa sebuah tulisan bukan tentang dirinya, semakin banyak orang justru mulai bertanya apakah tulisan itu memang tentang dirinya. Di sinilah paradoks media sosial bekerja. Keinginan untuk membersihkan nama justru kadang membuat nama itu semakin terlihat.
Ada kebijaksanaan yang sederhana tetapi sulit dilakukan bahwa tidak semua hal harus kita respons. Jika sebuah tulisan tidak menyebut nama kita, tidak memberikan identitas kita, dan tidak memiliki bukti bahwa kita sedang menjadi sasaran, mungkin respons terbaik adalah membaca, berpikir, lalu melanjutkan kehidupan. Tidak perlu setiap kalimat dimasukkan ke dalam hati. Tidak perlu setiap kritik dianggap sebagai serangan. Dan, tidak perlu setiap tulisan dicari siapa tokohnya, sebab hidup akan melelahkan jika kita menjadikan diri sendiri sebagai pusat dari segala sesuatu.
Dunia tidak selalu sedang membicarakan kita. Orang lain memiliki kehidupannya sendiri. Penulis memiliki pikirannya sendiri. Dan, masyarakat memiliki persoalannya sendiri. Tidak semuanya berputar mengelilingi kita. Dan, menerima kenyataan sederhana ini justru merupakan bentuk kesehatan psikologis.
Orang yang matang tidak selalu merasa perlu membantah ketika menemukan sesuatu yang tidak nyaman tentang dirinya. Ia berani bertanya: “Jangan-jangan ada bagian dari kritik itu yang benar?” Pertanyaan ini membutuhkan keberanian, sebab lebih mudah mengatakan, “dia iri”, “dia menyindir”, “dia tidak suka kepada saya”, daripada mengatakan bahwa “Mungkin saya perlu memperbaiki diri”.
Manusia memiliki kecenderungan mempertahankan gambaran positif tentang dirinya. Kita ingin percaya bahwa kita baik, jujur, rendah hati, bijaksana, dan benar. Ketika sebuah tulisan mengganggu gambaran itu, kita merasa terancam. Maka, kita menyerang tulisan tersebut agar tidak perlu berhadapan dengan kemungkinan bahwa ada sesuatu yang harus kita koreksi dalam diri. Padahal, pertumbuhan pribadi justru dimulai ketika manusia berani melihat dirinya tanpa kosmetik pembenaran.
Refleksi ini tidak boleh menjadi pembenaran bagi siapa pun untuk menulis secara sembarangan. Tidak menyebut nama bukan berarti seseorang bebas memfitnah. Tidak mencantumkan identitas bukan berarti seseorang boleh menyebarkan tuduhan yang dapat dikenali secara jelas oleh lingkungan tertentu. Ada perbedaan antara kritik sosial dan serangan terselubung. Ada perbedaan antara refleksi dan fitnah. Dan, ada perbedaan antara membicarakan fenomena dan mempermalukan seseorang secara tidak langsung.
Oleh karena itu, penulis juga memiliki tanggung jawab moral. Tulislah kritik terhadap perilaku, bukan kebencian terhadap manusia. Bicarakan persoalan, bukan menghakimi pribadi. Jika hendak mengkritik, pastikan kritik memiliki alasan, bukan sekadar emosi, sebab kebebasan berbicara tanpa tanggung jawab dapat berubah menjadi kekerasan simbolik.
Pada akhirnya, kita semua berhadapan dengan cermin. Ada satu pelajaran penting dari fenomena orang yang mudah tersinggung oleh tulisan yang tidak menyebut namanya. Manusia ternyata tidak hanya hidup bersama orang lain, tetapi juga hidup bersama bayangan dirinya sendiri. Kadang-kadang bayangan itu muncul dalam sebuah kata, kritik, cerita, serta percakapan. Dan ketika kita melihat diri sendiri berada di sana, kita mempunyai dua pilihan. Kita dapat menghancurkan cermin tersebut atau kita dapat memperbaiki wajah kita. Pilihan pertama menghasilkan kemarahan, sedangkan pilihan kedua menghasilkan pertumbuhan. Oleh karena itu, sebelum mengatakan bahwa tulisan itu pasti berbicara tentang saya, mungkin kita perlu bertanya lebih dalam, “Apa yang membuat saya merasa demikian?”
Jika jawabannya tidak ada, biarkan tulisan itu berlalu. Tetapi, jika jawabannya adalah pengalaman masa lalu, sembuhkanlah luka itu. Jika jawabannya adalah ketakutan terhadap penilaian orang lain, belajarlah melepaskan diri dari kebutuhan untuk selalu disukai. Dan jika ternyata ada bagian dari diri kita yang memang tercermin di sana, jangan buru-buru membenci cermin. Mungkin cermin itu tidak sedang menghina kita, tetapi mungkin ia sedang memberi kesempatan kepada kita untuk melihat diri sendiri.
Manusia yang dewasa bukan manusia yang tidak pernah tersinggung. Manusia yang dewasa adalah manusia yang mampu memeriksa alasan mengapa ia tersinggung sebelum menuduh orang lain telah menyakitinya. Dan mungkin, di situlah letak salah satu bentuk kebijaksanaan yang paling sederhana bahwa tidak semua kata adalah serangan. Tidak semua kritik adalah tuduhan. Dan, tidak setiap tulisan yang terasa dekat dengan kita sedang berbicara tentang kita. Kadang-kadang, kita sendirilah yang memasukkan nama kita ke dalam sebuah tulisan yang sebenarnya tidak pernah menyebut nama siapa pun.
Baca Juga:
Tentang Penulis
Andreas Neke, S.Ag., B.Th.
Pendidik dan penulis asal Flores, Nusa Tenggara Timur.
→ Lihat Profil PenulisMenyukai tulisan tentang makna hidup dan pergulatan manusia?
Temukan gagasan lebih mendalam dalam buku Remaja dan Pergumulan Jati Dirinya.
Lihat Buku →