Bancinya Sang Pembenci: Ketika Takut Menghadapi Kebenaran
Pada kenyataannya, kita kerap menemukan bahwa ada manusia yang tampak sangat berani ketika berbicara tentang orang lain, tetapi mendadak menjadi pengecut ketika kebenaran mulai berbicara tentang dirinya sendiri. Ia berani menuduh, tetapi takut dituduh. Berani mengkritik, tetapi alergi terhadap kritik. Berani membuka kesalahan orang lain, tetapi marah ketika kesalahannya sendiri dibicarakan. Bahkan, ia bisa tampil seolah-olah sebagai pembela kebenaran, padahal sesungguhnya ia hanya sedang membela citra dirinya. Di sini, kita menjumpai ironi manusia, bahwa kadang-kadang yang paling dibenci seseorang bukanlah kebohongan, melainkan kebenaran yang membongkar kebohongan yang selama ini dipercayai.
Istilah “banci” dalam tulisan ini tidak digunakan untuk menunjuk identitas gender tertentu. Dalam percakapan sehari-hari, kata ini memang kerap digunakan sebagai ejekan terhadap seseorang yang dianggap penakut atau tidak berani. Penggunaan semacam itu lahir dari stereotipe lama yang menghubungkan keberanian dengan maskulinitas. Oleh karena itu, istilah ini digunakan secara metaforis untuk menunjuk ketakutan mental dan moral dalam menghadapi kenyataan kebenaran.
Sementara itu, benci merupakan perasaan sangat tidak suka terhadap seseorang atau sesuatu. Kebencian bukan sekadar ketidaksukaan biasa, melainkan dapat berkembang menjadi amarah, permusuhan, penolakan, bahkan dorongan untuk menyerang sesuatu yang dianggap mengancam diri. Maka, “bancinya sang pembenci” dapat dimaknai sebagai manusia yang begitu takut menghadapi kebenaran sehingga ketakutannya berubah menjadi kebencian.
Takut pada Kebenaran
Kebenaran tidak selalu hadir dalam bentuk yang menyenangkan. Kadang-kadang kebenaran hadir seperti cermin. Ia tidak membuat wajah kita buruk, tetapi menampilkan realitas diri apa adanya. Masalahnya adalah tidak semua orang menyukai cermin. Seseorang dapat saja membangun citra diri sebagai orang baik, jujur, bijaksana, religius, berwibawa, berpendidikan, atau berjasa. Ketika citra tersebut telah dipercaya banyak orang, ia pun dapat menjadi tawanan citranya sendiri. Kemudian datanglah sebuah fakta, yang memperlihatkan adanya jarak antara citra dan kenyataan. Pada titik tersebut seseorang memiliki dua pilihan, yakni melihat ke dalam dirinya dan mengakui kekeliruan atau dapat menolak kenyataan dan menyerang siapa saja yang membawa cermin tersebut.
Pilihan kedua biasanya lebih mudah, sebab mengakui kesalahan membutuhkan kerendahan hati, mengakui kebohongan membutuhkan keberanian, meminta maaf membutuhkan kedewasaan, dan memperbaiki diri membutuhkan kemauan untuk meninggalkan kenyamanan semu. Sebaliknya, menyerang orang lain sering kali terasa lebih mudah daripada memperbaiki diri sendiri.
Dalam psikologi dikenal konsep disonansi kognitif, yaitu ketegangan yang muncul ketika keyakinan, nilai, atau gambaran seseorang tentang dirinya bertentangan dengan kenyataan yang dihadapinya. Seseorang merasa dirinya jujur, tetapi ditemukan berbohong; merasa dirinya adil, tetapi tindakannya ternyata merugikan orang lain; merasa dirinya rendah hati, tetapi perilakunya menunjukkan kesombongan; dan mengaku mencintai kebenaran, tetapi ketika fakta tidak sesuai dengan kepentingannya, ia justru menolak fakta tersebut.
Kontradiksi semacam itu dapat menimbulkan ketegangan dalam diri. Salah satu cara untuk meredakannya adalah mengubah perilaku yang tampak dalam kemampuan mengakui dan memperbaiki kesalahan. Namun demikian, ada pula orang yang memilih mempertahankan citra dirinya dengan menyangkal fakta, mencari pembenaran, menyalahkan orang lain, atau menyerang pihak yang mengungkapkan persoalan.
Dengan demikian, persoalan pun bergeser. Yang semula adalah tentang kebenaran, kemudian berubah tentang orang yang berani mengatakannya. Ini tentunya berbahaya, sebab kebenaran akhirnya tidak lagi diperiksa berdasarkan fakta dan argumentasi, tetapi berdasarkan siapa yang mengucapkannya. Sang pembenci yang sebenarnya sedang takut terhadap realitas kebenaran, sehingga berubah menjadi seorang pengecut alias banci.
Kiranya menyadari bahwa tidak semua kemarahan lahir dari keberanian. Kadang-kadang kemarahan justru lahir dari ketakutan, yakni takut kehilangan kehormatan, pengaruh, jabatan, pengikut, citra, dipermalukan, mengakui kesalahan, dan yang paling dalam adalah takut mengetahui bahwa gambaran diri tentang dirinya sendiri ternyata tidak sepenuhnya benar. Oleh karena itu, seseorang dapat membenci kritik bukan karena kritik tersebut salah, melainkan karena kritik tersebut menyentuh bagian dirinya yang ingin ia sembunyikan.
Yang terjadi kemudian adalah menyerang kritik, dan bukan menjawab substansinya; menyerang pribadi pengkritik, bukan memeriksa fakta; dan mencari kesalahan masa lalu orang lain, bukan menjawab kesalahan yang sedang dipersoalkan. Ini adalah salah satu bentuk pelarian manusia, dalam mana ketika tidak mampu memenangkan argumentasi, ia berusaha menghancurkan orang yang menyampaikan argumentasi tersebut.
Mencintai kebenaran tidak berarti menerima semua tuduhan sebagai kebenaran karena tidak setiap kritik benar, tidak setiap tuduhan memiliki bukti, dan tidak setiap orang yang mengaku membela kebenaran benar-benar sedang membela kebenaran. Dengannya, kita harus membedakan antara kebenaran, opini, persepsi, tuduhan, dan fitnah karena kebenaran membutuhkan pemeriksaan, fakta membutuhkan bukti, pendapat membutuhkan argumentasi, dan tuduhan membutuhkan pertanggungjawaban. Ini berarti bahwa seseorang tidak boleh disebut “pembenci kebenaran” hanya karena ia berbeda pendapat. Perbedaan pendapat merupakan bagian normal dari kehidupan manusia. Yang menjadi persoalan adalah ketika seseorang menolak fakta hanya karena fakta tersebut tidak sesuai dengan kepentingannya.
Relevansinya Zaman Sekarang
Persoalan ini menjadi semakin relevan pada era media sosial dewasa ini. Hari ini setiap orang memiliki ruang untuk berbicara dalam mana satu unggahan dapat dibaca ribuan bahkan jutaan orang serta citra seseorang dapat dibangun melalui foto, video, tulisan, komentar, dan berbagai bentuk konten digital. Kita hidup dalam zaman ketika citra dapat dibangun lebih cepat daripada karakter. Orang dapat terlihat bijaksana melalui kutipan-kutipan yang ia bagikan, tetapi kehidupan pribadinya mungkin tidak mencerminkan kata-kata tersebut. Yang lain dapat berbicara tentang kejujuran, tetapi tidak tahan ketika fakta mempertanyakan dirinya. Yang lain lagi dapat menyerukan toleransi, tetapi menghina orang yang berbeda pendapat. Dan, seseorang dapat mengaku mencintai kritik, tetapi langsung menyerang ketika kritik diarahkan kepadanya. Media sosial kemudian menjadi ruang ego yang mudah untuk mendapatkan pembenaran, karena kita cenderung berkumpul dengan orang-orang yang memiliki pandangan serupa.
Akibatnya, seseorang dapat hidup dalam lingkungan digital yang terus-menerus mengatakan bahwa dirinya benar. Dalam kondisi seperti ini, kebenaran menjadi tidak nyaman. Bukan karena kebenaran berubah, melainkan karena manusia semakin terbiasa mendengar apa yang ingin didengarnya. Oleh karena itu, tantangan terbesar zaman ini bukan hanya kemampuan berbicara, tetapi kemampuan mendengarkan sesuatu yang tidak ingin kita dengar. Kita membutuhkan keberanian untuk berhenti sejenak sebelum bereaksi. Ketika dikritik baiknya adalah tidak mempertanyakan “siapa", tetapi "kebenarannya". Ini sederhana, tetapi membutuhkan kedewasaan karena orang yang mengkritik kita tidak sepenuhnya benar. Namun demikian, bukan berarti seluruh kritiknya harus dibuang karena bisa jadi ada satu kalimat yang menyakitkan tetapi menyelamatkan. Dengannya, keberanian terbesar adalah mengalahkan ego.
Pada akhirnya, keberanian bukan hanya pada kemampuan melawan orang lain. Keberanian yang lebih tinggi adalah kemampuan melawan ego sendiri guna mengakui kesalahan dan kesediaan untuk berubah. Ini membutuhkan keberanian moral. Manusia yang benar-benar mencintai kebenaran tidak takut ketika kebenaran mengoreksi dirinya. Ia justru menjadikan koreksi sebagai kesempatan untuk bertumbuh, sebab kebenaran tidak selalu datang untuk mempermalukan kita. Kadang-kadang kebenaran datang untuk menyelamatkan kita dari diri kita sendiri.
Dengan demikian, sebelum membenci orang yang membawa cermin, lihatlah terlebih dahulu wajah kita di dalamnya, sebab yang sedang kita lawan bukan orang lain. Yang sedang kita lawan adalah kenyataan tentang diri sendiri. Dan, di situlah letak “banci” yang sesungguhnya, yakni bukan pada tubuh/fisik, penampilan, ataupun identitas seseorang, melainkan pada ketakutan moral untuk berdiri jujur di hadapan kebenaran. Sadarlah bahwa manusia yang sungguh berani bukan manusia yang tidak pernah takut, tetapi manusia yang tetap memilih kebenaran meskipun kebenaran itu memaksanya mengakui kesalahan dan mengubah dirinya.
Baca Juga:
Tentang Penulis
Andreas Neke, S.Ag., B.Th.
Pendidik dan penulis asal Flores, Nusa Tenggara Timur.
→ Lihat Profil PenulisMenyukai tulisan tentang makna hidup dan pergulatan manusia?
Temukan gagasan lebih mendalam dalam buku Remaja dan Pergumulan Jati Dirinya.
Lihat Buku →