Rumah bukan sekadar bangunan yang memiliki dinding, tiang, pintu, jendela, dan atap. Secara antropologis, rumah adalah ruang kebudayaan yakni tempat manusia membentuk identitas, mewariskan nilai, merawat ingatan, dan mengalami kehidupan bersama. Rumah menjadi semacam “tubuh kedua” manusia yakni tempat seseorang dilahirkan, dibesarkan, belajar mengenal dunia, serta menemukan dari mana ia berasal. Oleh karena itu, kehilangan rumah tidak hanya berarti kehilangan tempat tinggal, tetapi juga dapat berarti kehilangan sebagian dari identitas dan sejarah diri.
Secara antropologis, rumah selalu memiliki makna yang melampaui fungsi material. Di dalam rumah berlangsung proses pewarisan bahasa, tata krama, kepercayaan, simbol, ritual, dan nilai-nilai kehidupan. Rumah menjadi ruang di mana generasi tua berbicara kepada generasi muda, bukan hanya melalui kata-kata, tetapi juga melalui kebiasaan dan teladan. Apa yang dilakukan orang tua di dalam rumah perlahan menjadi cara anak memahami dunia.
Secara sosiologis, rumah merupakan ruang pertama terbentuknya relasi sosial. Keluarga, sebagai komunitas paling kecil, belajar mengenai kasih sayang, otoritas, tanggung jawab, solidaritas, konflik, perdamaian, dan pembagian peran dalam rumah. Rumah karena itu bukan ruang privat yang terpisah sepenuhnya dari masyarakat. Apa yang terjadi di dalam rumah pada akhirnya membentuk wajah masyarakat. Masyarakat yang penuh kepedulian biasanya bertumbuh dari keluarga yang mengajarkan kepedulian. Demikian pula masyarakat yang keras dan penuh konflik dapat berakar dari relasi keluarga yang kehilangan kehangatan.
Dalam masyarakat Bajawa-Ngada, pengertian tentang rumah menemukan kedalaman makna dalam konsepnya tentang sa’o. Sa’o bukan sekadar bangunan tradisional tempat seseorang tidur, makan, atau berlindung dari hujan dan panas. Lebih dari itu, sa’o merupakan ruang sosial, genealogis, simbolis, dan spiritual. Ia berkaitan erat dengan hubungan kekerabatan, sejarah leluhur, tanah, identitas keluarga, serta keberlangsungan komunitas.
Sa’o juga menghubungkan manusia dengan leluhur dan generasi yang akan datang. Oleh karena itu, berbicara tentang sa’o berarti berbicara tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan kepada siapa kita bertanggung jawab. Sa’o menjadi titik pertemuan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Di dalamnya tersimpan memori keluarga dan komunitas. Ia bukan hanya rumah bagi orang yang masih hidup, tetapi juga menjadi simbol kesinambungan kehidupan antar generasi.
Dalam konteks masyarakat Bajawa-Ngada, sa’o tidak dapat dilepaskan dari relasi sosial dan kekerabatan. Ia menjadi ruang untuk mengalami kebersamaan. Di dalam dan sekitar sa’o, manusia tidak hidup sebagai individu yang terisolasi, melainkan sebagai bagian dari suatu jaringan relasi yang lebih luas. Ada hubungan antara keluarga, kerabat, leluhur, tanah, dan komunitas. Oleh karena itu, sa’o memiliki dimensi sosial yang sangat kuat.
Dari pemahaman inilah gagasan tentang “sa’o sebagai lawo ine” memperoleh maknanya.
Secara harfiah dan simbolis, lawo ine dapat dibayangkan sebagai pakaian atau selimut seorang ibu yang memberikan kehangatan kepada anaknya. Seorang ibu yang melihat anaknya kedinginan tidak pertama-tama bertanya apakah anak itu pantas menerima kehangatan. Ia merangkul, menggendong, menyelimuti, dan mendekapnya. Dalam pelukan seorang ibu, anak menemukan bukan hanya panas tubuh, tetapi juga rasa aman. Anak menyadari bahwa aku tidak sendirian, tetapi ada seseorang yang menjagaku, yakni ibuku. Demikianlah sa’o idealnya hadir sebagai lawo ine.
Sa’o seharusnya menjadi rumah yang menghangatkan. Ia menjadi tempat ketika seseorang yang datang dengan luka dapat menemukan penerimaan. Ia menjadi ruang ketika seseorang yang lelah dapat beristirahat. Ia menjadi tempat ketika anak-anak belajar bahwa dunia mungkin keras, tetapi mereka masih memiliki ruang untuk pulang. Sa’o menjadi selimut kebudayaan yang menjaga manusia agar tidak kehilangan rasa sebagai bagian dari keluarga dan komunitas.
Dalam pengertian ini, kekuatan sa’o tidak pertama-tama terletak pada bentuk fisiknya. Rumah yang megah belum tentu menjadi lawo ine. Sebaliknya, rumah yang sederhana dapat menjadi tempat yang sangat hangat apabila di dalamnya hidup kasih, penghormatan, solidaritas, dan tanggung jawab.
Menjadi sangat penting kiranya jika sa’o tidak lagi memberikan kehangatan. Ini bukan sekadar tentang bangunan tradisional semata. Ia merupakan kondisi keluarga dan masyarakat. Ketika sa’o kehilangan fungsi sebagai ruang kasih, ia dapat berubah menjadi sekadar simbol yang kosong. Tiang-tiangnya mungkin tetap berdiri, tetapi relasi manusia di dalamnya mulai retak. Ritual mungkin tetap dilaksanakan, tetapi nilai yang mendasarinya kehilangan daya hidup. Nama keluarga mungkin tetap diwariskan, tetapi rasa tanggung jawab antar generasi semakin melemah.
Sa’o dapat menjadi dingin bukan karena angin malam, melainkan karena manusia di dalamnya berhenti saling merangkul. Ketika anggota keluarga lebih sibuk mempertahankan kepentingan pribadi daripada menjaga kebersamaan, lawo ine perlahan kehilangan maknanya. Ketika rumah menjadi tempat pertengkaran, penghinaan, kekerasan, atau perebutan kepentingan, rumah tidak lagi menjalankan fungsi antropologisnya sebagai ruang perlindungan. Ketika generasi muda merasa tidak diterima di rumah sendiri, mereka akan mencari kehangatan di tempat lain. Pada titik ini, masalahnya bukan lagi sekadar kehilangan tradisi, melainkan kehilangan makna rumah.
Oleh karena itu, mempertahankan sa’o tidak cukup hanya dengan mempertahankan bentuk arsitekturnya. Pelestarian sa’o harus disertai dengan pelestarian spirit sa’o. Rumah adat harus tetap menjadi ruang pembentukan manusia. Ia harus mampu menjembatani generasi tua dan generasi muda, menghidupkan solidaritas keluarga, merawat penghormatan kepada leluhur, dan sekaligus membuka ruang bagi perubahan zaman.
Sa’o sebagai lawo ine akhirnya mengajarkan sebuah antropologi yang sangat sederhana sekaligus mendalam bahwa manusia bukan sekedar membutuhkan tempat untuk pulang, tetapi lebih dari itu, manusia membutuhkan seseorang yang membuat kepulangan itu berarti. Sebuah rumah menjadi rumah bukan karena kayu dan batu yang menyusunnya, melainkan karena kasih yang membuat manusia ingin kembali kepadanya.
Dengan demikian, tantangan masyarakat Bajawa-Ngada hari ini bukan hanya bagaimana menjaga sa’o agar tetap berdiri, tetapi bagaimana memastikan bahwa sa’o tetap menjadi lawo ine, yakni selimut kasih yang menghangatkan, merangkul, melindungi, dan mempersatukan. Apabila sa’o tidak lagi menghangatkan, yang hilang bukan hanya sebuah rumah. Yang perlahan hilang adalah rasa memiliki, identitas, solidaritas, dan ingatan tentang siapa kita sebagai manusia Bajawa-Ngada.
Baca Juga:
Tentang Penulis
Andreas Neke, S.Ag., B.Th.
Pendidik dan penulis asal Flores, Nusa Tenggara Timur.
→ Lihat Profil PenulisMenyukai tulisan tentang makna hidup dan pergulatan manusia?
Temukan gagasan lebih mendalam dalam buku Remaja dan Pergumulan Jati Dirinya.
Lihat Buku →