MOSA: Pemimpin, Penjaga Tatanan, dan Cermin Moral Masyarakat Bajawa-Ngada
Berbicara tentang Mosa dalam kebudayaan masyarakat Bajawa-Ngada, berarti berbicara tentang kepemimpinan, yang tidak berhenti pada soal kekuasaan semata. Mosa bukan sekadar orang yang berada di depan, memberi perintah, atau memiliki kedudukan lebih tinggi daripada anggota komunitas lainnya. Tetapi, lebih dari itu adalah figur yang memikul tanggung jawab terhadap tatanan kehidupan bersama.
Oleh karena itu, makna Mosa harus dibaca secara antropologis, sosiologis, dan terutama secara moral. Sebab, dalam masyarakat tradisional yang ikatan sosialnya dibangun melalui hubungan darah, perkawinan, rumah adat, tanah, ritual, kewajiban timbal balik, dan penghormatan terhadap leluhur, kualitas seorang pemimpin akan selalu berpengaruh terhadap kualitas komunitas yang dipimpinnya. Mosa adalah pemimpin, tetapi lebih dalam dari itu, adalah penjaga keseimbangan hidup bersama.
Secara antropologis, masyarakat Bajawa-Ngada tidak mengenal manusia sebagai pribadi yang berdiri sendiri. Manusia selalu berada dalam jaringan relasi dengan keluarga, kerabat, suku, kampung, tanah, leluhur, dan Yang Ilahi. Dalam kerangka seperti ini, kepemimpinan tidak dapat dipisahkan dari struktur sosial dan kebudayaan yang membentuk komunitas. Mosa memperoleh makna karena ia berada di tengah relasi sosial tersebut. Ia tidak berdiri di luar masyarakat sebagai penguasa yang hanya mengatur dari atas, tetapi merupakan bagian dari komunitas yang terikat oleh norma, adat, kewajiban, dan tanggung jawab yang sama.
Seorang Mosa idealnya memahami asal-usul komunitasnya, mengetahui hubungan kekerabatan, menghormati struktur adat, memahami kewajiban antar anggota, dan mampu membaca persoalan yang muncul dalam kehidupan bersama. Oleh karena itu, seorang Mosa bukan hanya orang yang tahu memimpin, tetapi juga tahu menjaga kehidupan bersama.
Kepemimpinan Mosa mempunyai akar pada ingatan kolektif. Ia tidak hanya mengurus persoalan hari ini, tetapi juga membawa warisan masa lalu dan bertanggung jawab terhadap keberlangsungan generasi berikutnya. Dalam konteks ini, Mosa menjadi semacam jembatan antara leluhur, generasi sekarang, dan generasi yang akan datang.
Secara sosiologis, Mosa mempunyai fungsi penting dalam menjaga kohesi sosial. Masyarakat tidak mungkin hidup bersama tanpa norma. Selalu ada aturan mengenai apa yang dianggap benar dan salah, pantas dan tidak pantas, serta adil dan tidak adil. Ketika terjadi konflik, perselisihan keluarga, persoalan tanah, perkawinan, kewajiban adat, atau persoalan sosial lainnya, masyarakat membutuhkan figur yang mampu menjadi rujukan.
Di sinilah Mosa memperoleh fungsi sosialnya. Mosa menjadi penjaga keseimbangan tetapi bukan sumber ketegangan dan mempertajam konflik; menyatukan, bukan membelah; mendengar sebelum memutuskan; dan mempertimbangkan kepentingan bersama, bukan hanya kepentingan pribadi.
Kepemimpinan semacam ini menciptakan apa yang dalam sosiologi disebut sebagai kepercayaan sosial. Ketika masyarakat percaya kepada pemimpinnya, keputusan lebih mudah diterima, konflik lebih mudah diselesaikan, dan kerja bersama lebih mudah dilakukan. Sebaliknya, apabila seorang pemimpin kehilangan kepercayaan karena ketidakjujuran, keberpihakan yang tidak adil, kesombongan, penyalahgunaan kedudukan, dengannya kerusakan yang terjadi bukan hanya pada dirinya sendiri, tetapi juga menimbulkan runtuhnya kepercayaan sosial. Inilah sebabnya kualitas pribadi seorang Mosa memiliki konsekuensi sosial yang sangat besar.
Mosa Bukan Sekadar Jabatan
Ada satu kekeliruan yang perlu dihindari dalam memahami kepemimpinan tradisional, yang menganggap gelar atau kedudukan sebagai bukti otomatis bahwa seseorang memiliki kualitas kepemimpinan. Pada kenyataannya tidak demikian, karena kedudukan memberikan kewenangan, tetapi karakter memberikan legitimasi. Seseorang mungkin memiliki posisi sebagai Mosa, tetapi masyarakat akan menilai kepemimpinannya dalam perilaku hidup sehari-hari melalui kejujuran, kepercayaan, kemampuan menahan diri, keadilan, mengakui kesalahan, menjaga perkataan, menghormati orang miskin dan orang kecil, dan mampu mengutamakan kepentingan bersama.
Dalam kehidupan sosial, masyarakat akhirnya tidak hanya mengikuti keputusan seorang pemimpin, tetapi juga meniru perilakunya. Di sinilah dimensi moral seorang Mosa menjadi sangat penting. Moralitas Mosa pertama-tama bukan sesuatu yang terlihat ketika ia sedang berbicara dalam forum adat. Moralitas itu justru diuji dalam kehidupan sehari-hari, ketika tidak ada orang yang memperhatikannya.
Moralitas seorang Mosa dapat dilihat ketika memperlakukan keluarga, berbicara kepada orang lain, menggunakan kepercayaan yang diberikan, menghadapi godaan kepentingan pribadi, dan bersikap ketika memiliki kekuasaan. Pemimpin yang baik bukan pertama-tama orang yang pandai berbicara tentang moral. Ia adalah orang yang hidup bermoral.
Oleh karena itu, beberapa kualitas moral pribadi menjadi sangat penting. Adapun kualitas moral pribadi tersebut antara lain:
1. Kejujuran
Ungkapan masyarakat Bajawa-Ngada yang berhubungan dengan kejujuran adalah mori dhoro, bhoko dhora (kata dan perbuatan harus sejalan) dan pio pa’i, tuka pa’i (berkata benar, bertindak benar). Dalam konteks ini, Mosa harus memiliki integritas dalam perkataan dan perbuatan. Jika seorang pemimpin mengajarkan kejujuran tetapi dirinya sendiri mudah berbohong, masyarakat akan belajar bahwa kejujuran hanya slogan semata. Sebaliknya, ketika Mosa berani berkata benar sekalipun kebenaran itu merugikan dirinya, ia sedang mengajarkan moralitas melalui teladan.
2. Keadilan
Ungkapan yang selaras adalah beke meze, kasa kapa (yang besar jangan menindas yang kecil, yang kuat jangan meremehkan yang lemah). Yang selaras dengan itu adalah to’o penga to’o (memikul beban bersama, menanggung tanggung jawab bersama atau saling membantu dan saling menopang). Dalam konsep ini, Mosa harus mampu membedakan antara kepentingan pribadi dan kepentingan bersama. Keadilan berarti tidak menggunakan kedudukan untuk menguntungkan keluarga, kerabat, teman, atau kelompok sendiri ketika keputusan seharusnya berlaku bagi semua orang. Keadilan juga berarti berani mengatakan yang benar kepada orang terdekat dan mengatakan yang salah kepada orang yang tidak dekat.
3. Kerendahan Hati
Kerendahan hati sejajar dengan ungkapan le papa mesu yang mengajarkan agar manusia tidak meninggikan diri atau bersikap angkuh. Disadari bahwa kekuasaan mudah melahirkan jarak. Seorang Mosa yang merasa dirinya lebih tinggi karena kedudukannya dapat perlahan kehilangan hubungan dengan masyarakat. Dengannya, kerendahan hati membuat seorang pemimpin tetap mampu mendengar. Mosa yang tidak mau mendengar akhirnya hanya mendengar dirinya sendiri, padahal masyarakat membutuhkan pemimpin yang mampu mendengar suara yang bahkan tidak terdengar dalam forum resmi sekalipun.
4. Pengendalian Diri
Dalam hubungannya dengan kerendahan hati, ungkapan yang selaras berbunyi mata ngia, bhoko ngia. Ungkapan ini mengingatkan manusia agar menjaga pikiran, perkataan, dan perbuatan. Dalam kehidupan bersama, banyak konflik lahir karena orang tidak mampu mengendalikan amarah, iri hati, atau perkataan yang melukai. Kepemimpinan membutuhkan kemampuan menahan diri. Mosa yang mudah marah, mudah tersinggung, mudah mempermalukan orang, atau menggunakan emosi untuk mengambil keputusan dapat merusak kepercayaan masyarakat. Ini artinya bahwa pengendalian diri bukan kelemahan, tetapi justru kemampuan menahan diri, yang merupakan salah satu bentuk kekuatan moral.
5. Kesetiaan terhadap Tanggung Jawab
Ungkapan yang selaras dengan ini adalah dhora su'a, dhora sa'o. Ungkapan ini berkaitan dengan kewajiban seseorang terhadap keluarga, rumah adat (sa'o), dan komunitas. Setiap orang memiliki tanggung jawab yang tidak boleh diabaikan terhadap orang tua, saudara, tanah leluhur, dan masyarakat. Kesetiaan pada tanggung jawab tampak dalam kesediaan hadir ketika keluarga membutuhkan, ikut bekerja bersama, dan menanggung beban bersama. Mosa menerima kepercayaan bukan untuk menikmati kehormatan, tetapi untuk menjalankan tanggung jawab. Oleh karena itu, semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar tuntutan moral terhadap dirinya. Kehormatan seorang Mosa bukan terletak pada berapa banyak orang yang menghormatinya, tetapi pada berapa banyak kehidupan yang ia jaga melalui tanggung jawabnya.
Mosa: Dari Moralitas Pribadi Menjadi Moralitas Sosial
Ini adalah bagian paling penting dari jati diri seorang Mosa. Moralitas pribadi seorang Mosa tidak boleh berhenti pada kesalehan individu. Moralitas tersebut harus berubah menjadi moralitas sosial. Ini artinya bahwa kejujuran pribadi harus menghasilkan budaya kejujuran, keadilan pribadi harus menghasilkan tata kehidupan yang adil, kerendahan hati pribadi harus menghasilkan budaya saling menghormati, kepedulian pribadi harus menghasilkan solidaritas, disiplin pribadi harus menghasilkan keteraturan sosial, dan tanggung jawab pribadi harus menghasilkan budaya tanggung jawab sosial.
Dengan kata lain moralitas Mosa harus keluar dari dirinya dan menjadi kebiasaan masyarakat. Di sini kepemimpinan memperoleh makna yang jauh lebih dalam. Seorang Mosa yang jujur sedang melakukan lebih daripada menjaga nama baik dirinya, tetapi membangun kepercayaan sosial. Seorang Mosa yang adil sedang melakukan lebih daripada menjaga reputasi pribadinya, yakni bahwa setiap manusia mempunyai martabat yang harus dihormati. Seorang Mosa yang mampu meminta maaf sedang melakukan lebih daripada mengakui kesalahan pribadi, yakni bahwa mengakui kesalahan bukan kehinaan. Seorang Mosa yang menolak menggunakan kedudukan untuk kepentingan pribadi sedang membangun kesadaran bahwa jabatan adalah amanah, bukan kesempatan untuk mengambil keuntungan.
Dengan demikian, karakter pemimpin menjadi pedagogi sosial. Masyarakat belajar bukan hanya dari apa yang dikatakan Mosa, tetapi terutama dari apa yang dilakukannya. Dalam masyarakat tradisional, seorang pemimpin mempunyai kekuatan simbolik yang besar. Apa yang dilakukan pemimpin mudah menjadi rujukan kehidupan sosial, dalam mana jika Mosa menjaga adat, masyarakat belajar menghormati adat; jika Mosa menghormati orang lain, masyarakat belajar menghormati sesama; dan jika Mosa suka menyelesaikan persoalan melalui dialog, masyarakat belajar berdialog.
Sebaliknya, jika Mosa gemar mempermalukan orang, masyarakat dapat belajar saling mempermalukan; jika Mosa mengutamakan kepentingan pribadi, masyarakat dapat belajar bahwa kepentingan bersama dapat dikorbankan; dan jika Mosa menggunakan kekuasaan secara sewenang-wenang, masyarakat dapat belajar bahwa kekuasaan lebih penting daripada kebenaran.
Oleh karena itu, Mosa sesungguhnya adalah cermin moral masyarakat. Masyarakat mungkin tidak selalu mengatakan apa yang mereka lihat, tetapi perilaku pemimpin akan dibaca, diingat, dan diwariskan dalam ingatan sosial. Ini berarti bahwa krisis Mosa adalah krisis keteladanan, karena tantangan terbesar kepemimpinan bukan selalu kurangnya aturan adat, tetapi lebih dari itu adalah ketidaksesuaian antara nilai yang diucapkan dan perilaku yang dilakukan.
Kiranya menyadari bahwa budaya harus dipertahankan melalui karakter manusia yang menghidupinya. Masyarakat Bajawa-Ngada hari ini hidup dalam dunia yang berbeda dari masa lalu. Pendidikan semakin luas, teknologi berkembang, media sosial mengubah pola komunikasi, mobilitas masyarakat semakin tinggi, dan kepemimpinan formal negara hadir berdampingan dengan kepemimpinan adat. Dalam situasi seperti ini, Mosa tidak dapat hanya menjadi penjaga masa lalu. Ia perlu menjadi penjaga nilai yang mampu berbicara kepada zaman baru.
Pada akhirnya, Mosa yang ideal bukanlah manusia tanpa kesalahan. Ia tetap manusia. Ia dapat keliru, dapat gagal, dan dapat mengambil keputusan yang kurang tepat. Yang membedakannya adalah kemampuan untuk mengakui kesalahan, memperbaikinya, dan bertanggung jawab. Oleh karena itu, Mosa tidak harus menjadi manusia yang sempurna. Ia harus menjadi manusia yang dapat dipercaya. Ia harus mempunyai keberanian moral untuk mengatakan yang benar, kerendahan hati untuk mendengarkan, kebijaksanaan untuk mempertimbangkan kepentingan bersama, dan keteguhan untuk tidak menjual nilai demi keuntungan pribadi.
Makna terdalam Mosa terletak pada hubungan antara karakter pribadi dan kehidupan sosial. Moralitas pribadi tidak pernah sepenuhnya menjadi urusan pribadi seorang pemimpin. Ketika seseorang dipercaya menjadi Mosa, perilakunya mempunyai konsekuensi sosial, kejujurannya dapat menjadi kejujuran bersama, keadilannya dapat menjadi budaya keadilan, kerendahan hatinya dapat menjadi budaya penghormatan, dan kepeduliannya dapat menjadi solidaritas.
Sebaliknya, ketidakjujurannya dapat menghancurkan kepercayaan; ketidakadilannya dapat melahirkan perpecahan; kesombongannya dapat membangun budaya penghinaan; dan penyalahgunaan kedudukannya dapat membuat masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan. Oleh karena itu, Mosa bukan hanya pemimpin masyarakat. Mosa adalah salah satu pembentuk moral masyarakat.
Di sini kita memahami bahwa kepemimpinan sesungguhnya bukan terutama soal berada di depan, tetapi soal menjadi teladan yang membuat orang lain mampu hidup lebih baik. Mosa yang baik tidak menjadikan masyarakat bergantung kepadanya, tetapi membantu masyarakat menemukan kembali kekuatan moral yang hidup di dalam dirinya sendiri dalam membentuk komunitas yang mampu menjaga kebaikan bersama, bahkan ketika pemimpinnya tidak lagi berada di sana.
Dimensi ini mengajarkan bahwa kebajikan pribadi selalu memiliki dampak sosial. Kejujuran seseorang memperkuat masyarakat. Keadilan seseorang menghadirkan kedamaian. Kerendahan hati seseorang menciptakan persaudaraan. Pengendalian diri seseorang mencegah konflik. Dan, kesetiaan pada tanggung jawab menjaga keberlangsungan keluarga dan adat.
Dengan demikian, dalam kebudayaan Bajawa-Ngada, moralitas seorang Mosa bukan hanya urusan pribadi, melainkan jalan untuk merawat kehidupan bersama. Mosa yang baik bukan manusia yang hidup hanya untuk dirinya, melainkan manusia yang kejujurannya menumbuhkan kepercayaan, keadilannya melahirkan keseimbangan, kerendahan hatinya menumbuhkan persaudaraan, pengendalian dirinya menjaga kedamaian, dan kesetiaannya pada tanggung jawab memastikan bahwa kehidupan bersama tetap lestari.
Baca Juga:
Tentang Penulis
Andreas Neke, S.Ag., B.Th.
Pendidik dan penulis asal Flores, Nusa Tenggara Timur.
→ Lihat Profil PenulisMenyukai tulisan tentang makna hidup dan pergulatan manusia?
Temukan gagasan lebih mendalam dalam buku Remaja dan Pergumulan Jati Dirinya.
Lihat Buku →