Racun Keluarga: Ketika Kerabat Jadi Alat Melawanmu...!
Mungkin kita pernah mengalami situasi konflik dalam keluarga. Dalam situasi yang demikian, tidak semua orang yang datang menasihati kita benar-benar ingin membantu untuk menyelesaikan masalah yang ada. Terkadang, orang yang paling sering menasihati justru sedang membantu untuk mempertahankan sebuah sistem keluarga yang tidak sehat.
Dalam psikologi relasional keluarga, istilah yang sering digunakan adalah flying monkey. Istilah ini bukan merujuk pada "monyet terbang", tetapi untuk menggambarkan seseorang yang menjadi perpanjangan tangan pihak lain dalam sebuah konflik. Dia datang untuk membawa pesan, menyampaikan tekanan, mencari informasi, membujuk, menyalahkan, atau bahkan menyerang seseorang atas nama pihak yang sedang berkonflik.
Menariknya, flying monkey tidak selalu sadar bahwa dirinya sedang memainkan peran tersebut, yakni sedang "dipakai" alias "diperalat". Dia mungkin merasa sedang menjadi penengah yang sedang berupaya menyelamatkan keluarga, membela orang tua, dan menjaga keharmonisan keluarga. Padahal, tanpa disadari, dia sedang menjadi bagian dari pola relasional yang membuat konflik terus hidup dan kian membara.
Di sinilah persoalannya menjadi lebih kompleks karena keluarga bukan sekadar kumpulan individu, melainkan sebuah sistem. Ketika terjadi konflik antara dua orang atau dua kubu, anggota keluarga lainnya sering ikut terseret untuk mempertahankan keseimbangan sistem tersebut.
Kita buatkan contoh demikian. Seorang anak yang sedang bertumbuh dewasa menetapkan batasan terhadap orang tuanya, karena merasa terus-menerus direndahkan atau dikontrol. Alih-alih membicarakan masalah tersebut dengan orang yang bersangkutan, keluarga kemudian mulai bergerak menjadi penyelamat situasi.
Ada saudara yang berkata supaya jangan bertindak demikian kepada bapak dan mama; ada paman yang menelepon untuk menasihati agar menghormati orang tua; ada pasangan saudara yang mempertanyakan masalah apa yang sebenarnya sedang terjadi; dan ada anggota keluarga yang mengatakan agar mencintai dan memaafkan orang tua.
Pada akhirnya, seorang anak yang awalnya hanya sedang menetapkan batasan pribadi, harus menghadapi dilema dengan satu keluarga besar. Ini adalah salah satu bentuk triangulasi dalam relasi keluarga, yakni ketegangan antara dua orang yang dialihkan atau melibatkan pihak ketiga agar kecemasan dalam sistem keluarga terasa lebih mudah dan ditanggung bersama.
Masalahnya adalah pihak ketiga sering kali tidak datang untuk menyelesaikan konflik. Mereka justru menjadi alat untuk mempertahankan pola lama lewat kalimat-kalimat yang biasanya terdengar sangat bermoral. Sekilas, semuanya terdengar seperti ajakan untuk berdamai, tetapi sebenarnya tidak demikian. Kiranya kita memahami bahwa perdamaian dan pembungkaman adalah dua hal yang berbeda. Perdamaian terjadi ketika masalah dapat dibicarakan secara aman, setiap pihak memiliki suara, dan setiap batas dihormati. Sedangkan pembungkaman terjadi ketika seseorang diminta berhenti berbicara agar sistem kembali terlihat tenang, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Ini yang sering tidak disadari dalam keluarga. Keluarga bisa sangat mencintai seseorang, sekaligus tidak mampu menghormati batasan personal. Dan justru karena hubungan dalam keluarga itu sangat emosional, manipulasi dapat bekerja dengan sangat halus dan lembut dalam mana rasa bersalah, perasaan iba, status sebagai orang tua, dan kata “keluarga” sering menjadi alat pembungkaman terhadap kebenaran. Bahkan dalam konteks agama, budaya, serta nilai dan moralitas sekalipun, sering kali digunakan untuk membuat seseorang untuk kembali tunduk pada pola yang sebenarnya ingin ditinggalkan, karena keliru atau bahkan salah dan memiliki cacat yang kasat mata.
Di sinilah konsep flying monkey menjadi relevan, bukan untuk memberi label bahwa semua saudara, orang tua, atau anggota keluarga yang ikut campur adalah “orang jahat". Tidak sesederhana itu, karena sebagian mungkin memang sedang dimanipulasi, yang lain takut menjadi sasaran manipulasi berikutnya, sebagian tidak memiliki informasi lengkap, yang satu hanya mengetahui cerita dari satu sisi, sebagian tumbuh dalam keluarga yang mengajarkan bahwa mempertanyakan orang tua adalah bentuk ketidaktaatan, dan yang lain lagi memang terbiasa memperoleh rasa aman dengan mengikuti pihak yang paling dominan alias mayoritas.
Oleh karena itu, yang perlu dilihat bukan hanya siapa yang sedang berbicara, tetapi yang jauh lebih penting adalah pola apa yang sedang dipertahankan dalam pembicaraan tersebut. Penting diketahui bahwa keluarga yang sehat sering kali tidak takut pada konflik. Mereka lebih takut pada perubahan, karena ketika satu anggota keluarga mulai berkata “melawan”, maka seluruh sistem dapat terganggu; ketika seseorang mulai mandiri secara emosional, pola lama kehilangan kekuatan; ketika seseorang berhenti untuk merespons provokasi, drama kehilangan bahan bakarnya; dan ketika seseorang berhenti merasa bersalah, mekanisme kontrol menjadi jauh lebih sulit bekerja sebagaimana mestinya.
Dengannya, muncul tekanan dari berbagai arah, yang buka saja dalam bentuk kemarahan, tetapi justru dalam bentuk kelembutan yang terdengar tulus. Tetapi ketulusan sebuah kalimat tidak otomatis membuat tuntutannya sehat, karena seseorang boleh mencintai keluarganya dan tetap berkata tidak, seseorang boleh menghormati orang tua dan tetap memiliki batasan yang jelas, seseorang boleh menyayangi saudaranya dan tidak mau terlibat dalam konflik, dan seseorang bahkan boleh memilih untuk menjaga jarak tanpa harus membenci siapa pun.
Kiranya menyadari bahwa batasan bukan hukuman, melainkan ruang untuk menemukan informasi tentang bagaimana seseorang ingin diperlakukan sebagaimana mestinya. Dan di sinilah keluarga yang sehat seharusnya dapat berbeda, tanpa harus saling melukai dan menjauhi satu sama lain. Keluarga yang sehat tidak memerlukan satu anggota untuk menjadi kambing hitam agar anggota lainnya merasa baik-baik saja, tidak memaksa pihak ketiga untuk memilih kubu, tidak menggunakan rasa bersalah sebagai "mata uang" hubungan, dan yang paling penting, keluarga yang sehat mampu bertahan menghadapi perbedaan pendapat tanpa menganggapnya sebagai pengkhianatan.
Jadi, jika suatu hari beberapa anggota keluarga tiba-tiba datang membawa pesan yang sama, tekanan yang sama, bahkan kemarahan yang terasa seperti bukan milik mereka sendiri, jangan buru-buru bertanya perihal kebenarannya, tetapi terutama menyoalkan mengapa semua orang merasa harus ikut campur dalam hubungan yang sebenarnya bukan hubungan mereka. Terkadang masalah terbesar dalam keluarga bukan satu orang yang dianggap sulit, melainkan sebuah sistem yang telah terlalu lama terbiasa membuat satu orang mengalah demi mempertahankan kenyamanan semu bagi semua orang. Dan, ketika orang itu akhirnya berhenti mengalah, keluarga mungkin akan menyebutnya egois, narsistik, tidak tahu diri, berubah, durhaka, atau bahkan dianggap menghancurkan keluarga. Padahal bisa jadi, untuk pertama kalinya, ia hanya sedang belajar menjadi individu yang memiliki batasan yang jelas.
Ini berarti jangan terlalu cepat percaya pada suara mayoritas dalam sebuah keluarga. Banyak orang yang mengatakan bahwa seseorang itu bersalah, tidak selalu menunjukkan bahwa orang itu memang bersalah. Bisa jadi mereka hanya merasa terganggu karena tidak lagi memainkan peran yang mereka harapkan. Dan mungkin, ini bagian paling provokatif, bahwa terkadang keluarga tidak marah karena seseorang berubah menjadi buruk, tetapi mereka marah karena perubahan membuat mereka kehilangan cara lama untuk mengontrol anggota keluarga lainnya.
Namun demikian, tetap ada satu hal yang harus dijaga, yakni jangan menggunakan istilah flying monkey untuk melabeli setiap orang yang tidak setuju dengan kita. Psikologi bukan senjata untuk memenangkan konflik. Konsep ini seharusnya digunakan untuk memahami pola, bukan untuk menciptakan musuh baru, sebab tujuan akhirnya bukan memenangkan perang dengan keluarga. Tujuannya adalah keluar dari pola yang membuat semua orang terluka. Dan terkadang, bentuk kedewasaan tertinggi dalam keluarga bukan terus bertahan demi terlihat harmonis, melainkan mampu berkata, "Saya mencintai keluarga ini, tetapi tidak bersedia lagi kehilangan diri saya hanya untuk membuat keluarga merasa nyaman yang semu.”
Dan, yang tak kalah pentingnya adalah ketika telah menciptakan masalah, beranilah berhadapan secara langsung, tetapi bukan mengirim "monyet" atau harus menjadi "monyet" untuk menyelesaikan masalah yang telah Anda ciptakan. Inilah bentuk keberanian dan tanggung jawab moral tertinggi, yakni berani berbuat berani pula bertanggungjawab, tetapi bukan "lempar batu sembunyi tangan", apalagi menjadi " monyet" demi mempertahankan pola dominasi yang cenderung diskriminatif dan manipulatif.
Baca Juga:
Tentang Penulis
Andreas Neke, S.Ag., B.Th.
Pendidik dan penulis asal Flores, Nusa Tenggara Timur.
→ Lihat Profil PenulisMenyukai tulisan tentang makna hidup dan pergulatan manusia?
Temukan gagasan lebih mendalam dalam buku Remaja dan Pergumulan Jati Dirinya.
Lihat Buku →