Po Boro Toto Lema: Merawat Tradisi di Era Digital
Setiap kebudayaan memiliki caranya masing-masing dalam mengajarkan manusia untuk hidup bersama. Nilai-nilai itu tidak selalu hadir dalam bentuk hukum tertulis lewat buku-buku. Dalam banyak masyarakat tradisional, kebijaksanaan tersebut justru diwariskan melalui tutur, ungkapan, petuah, ritus, dan kebiasaan yang hidup dari generasi ke generasi berikutnya.
Dalam konteks kebudayaan masyarakat Bajawa-Ngada, Po Boro Toto Lema dapat dibaca dalam kerangka seperti itu, yakni sebagai ungkapan yang mengandung pandangan tentang manusia, tutur kata, relasi sosial, serta tanggung jawab moral seseorang terhadap sesamanya. Secara harfiah, rangkaian kata ini merujuk pada konsep komunikasi, kejujuran, dan pembagian yang adil. Po Boro Toto Lema mengandung elemen bahasa adat yang berkaitan dengan berbicara dengan benar, menunjukkan bukti/tanda, meluruskan sesuatu, dan memegang teguh ucapan (lidah/tutur kata).
Inti filosofisnya menekankan pentingnya keselarasan antara apa yang dikatakan oleh mulut (tutur) dengan apa yang dilakukan dalam tindakan nyata. Leluhur mewariskan bahwa kata-kata bukan sekadar bunyi, melainkan sebuah ikatan moral.
Tutur leluhur pada hakikatnya bukan sekadar kata-kata masa lalu. Ia merupakan bentuk pengetahuan budaya. Di dalamnya tersimpan pengalaman kolektif suatu masyarakat dalam menghadapi kehidupan, perihal bagaimana seseorang berbicara, menghormati orang lain, menyelesaikan perbedaan, dan menjaga keseimbangan hubungan dalam komunitas.
Oleh karena itu, membaca kembali Po Boro Toto Lema pada zaman sekarang bukan berarti memindahkan mentah-mentah sebuah nasihat lama ke dalam dunia baru. Namun, yang lebih penting adalah menemukan spirit filosofisnya, kemudian membawanya ke dalam konteks kehidupan manusia hari ini. Dan, salah satu ruang yang membutuhkan refleksi semacam itu adalah ruang digital.
Po Boro Toto Lema dalam Perspektif Antropologis-Filosofis
Secara antropologis, manusia tidak pernah hidup sendirian karena manusia adalah makhluk relasional. Identitas seseorang terbentuk melalui hubungannya dengan keluarga, kerabat, komunitas, alam, dan lingkungan sosialnya. Dalam masyarakat tradisional, hubungan-hubungan tersebut dipelihara melalui estafet norma yang secara turun-temurun. Di dalamnya, seseorang belajar bahwa perkataan memiliki akibat dan sebuah ucapan dapat mempererat persaudaraan, tetapi juga dapat menimbulkan konflik. Oleh karena itu, kemampuan berbicara selalu disertai dengan tuntutan untuk mempertanggungjawabkannya.
Pada titik ini, ungkapan budaya memperoleh kedudukannya yang penting. Dan, Po Boro Toto Lema dapat dipahami sebagai bagian dari sistem pengetahuan masyarakat tradisional yang mengajarkan bahwa tutur kata bukan sesuatu yang bebas dari tanggung jawab moral, karena kata-kata mempunyai daya sosial, dapat menjadi jembatan, tetapi dapat pula menjadi tembok; ia dapat menyembuhkan, tetapi juga dapat melukai.
Dalam masyarakat yang hubungan sosialnya begitu dekat, perkataan seseorang tidak berhenti pada dirinya sendiri. Apa yang dikatakan dapat menyentuh keluarga, kerabat, kelompok, bahkan kehormatan komunitas. Dengannya, etika berbicara bukan hanya persoalan sopan santun semata, melainkan bagian dari mekanisme menjaga kehidupan bersama.
Dari perspektif ini, Po Boro Toto Lema dapat ditempatkan dalam suatu pemahaman kebudayaan yang lebih luas: bahwa kebebasan individu selalu berjalan bersama tanggung jawab sosial. Manusia boleh berbicara, tetapi ia harus mempertimbangkan akibat dari perkataannya. Manusia boleh menyampaikan pendapat, tetapi pendapat itu tidak boleh menjadi alasan untuk menghancurkan martabat sesama manusia.
Secara filosofis, persoalan "tutur" membawa kita pada refleksi yang lebih mendalam, yakni tanggung jawab manusia terhadap kata-kata yang keluar dari mulutnya, karena bahasa bukan sekadar alat untuk menyampaikan informasi, tetapi membentuk cara manusia memahami dunia dan memahami sesamanya. Melalui kata-kata, seseorang dapat memberikan penghargaan, membangun kepercayaan, mengungkapkan kebenaran, tetapi juga dapat menciptakan kebencian dan permusuhan. Oleh karena itu, kebijaksanaan leluhur yang berkaitan dengan "tutur" sebenarnya menyentuh persoalan etika universal.
Ada beberapa prinsip fundamental yang dapat ditarik dari nuansa filosofis terhadap Po Boro Toto Lema. Pertama, kata-kata memiliki konsekuensi. "Tutur" yang diucapkan tidak selalu dapat ditarik kembali. Sebuah perkataan yang keluar di hadapan orang lain dapat meninggalkan luka bahkan ketika penuturnya sudah melupakannya. Kedua, kebenaran membutuhkan kebijaksanaan. Menyampaikan sesuatu yang dianggap benar tidak dengan sendirinya membuat seseorang bertindak secara etis. Cara menyampaikan kebenaran juga penting. Kebenaran yang disampaikan tanpa penghormatan terhadap martabat manusia dapat berubah menjadi penghinaan atau penistaan.
Ketiga, kebebasan berbicara mempunyai batasan moral. Batasan tersebut bukan terutama karena manusia tidak boleh berbeda pendapat, melainkan karena manusia hidup bersama orang lain yang juga memiliki martabat yang sama. Keempat, "tutur" yang baik berorientasi pada kehidupan. Kata-kata idealnya tidak hanya benar dari isinya saja, tetapi juga membawa kemungkinan bagi terciptanya hubungan yang lebih baik. Dengan demikian, Po Boro Toto Lema dapat dibaca sebagai sebuah etika relasional, bahwa manusia dinilai bukan hanya dari apa yang dipikirkan, tetapi juga dari bagaimana menghadirkan pikiran dalam hubungannya dengan orang lain.
Ketika Dunia Berubah dari Ruang Komunal ke Ruang Digital
Pada masa lalu, perkataan terutama beredar dalam ruang-ruang sosial yang relatif terbatas. Orang berbicara di rumah, kebun, tempat kerja, dalam pertemuan adat, di halaman rumah, atau dalam berbagai ruang perjumpaan komunitas yang sangat terbatas. Kini, manusia hidup dalam ruang sosial yang jauh lebih luas, yakni ruang digital. Media sosial telah mengubah cara manusia berkomunikasi. Seseorang dapat menyampaikan pendapat kepada ribuan bahkan jutaan orang tanpa harus bertemu secara langsung. Sebuah komentar dapat ditulis dalam hitungan detik dan disebarluaskan tanpa batas geografis.
Perubahan ini dapat membawa banyak faedah. Teknologi digital memungkinkan manusia berbagi pengetahuan, membangun jaringan, menyuarakan aspirasi, memperjuangkan keadilan, dan menjaga hubungan dengan orang-orang yang berada sangat jauh. Namun demikian, teknologi juga membawa persoalan baru.
Di ruang digital, jarak antara penutur dan penerima pesan sering kali membuat seseorang lupa bahwa di balik sebuah akun terdapat manusia yang memiliki perasaan, keluarga, kehormatan, dan martabat. Orang dapat dengan mudah menulis sesuatu yang mungkin tidak akan berani ia ucapkan ketika berhadapan langsung dengan orang lain.
Di sinilah etika digital menjadi sangat urgen karena era digital sesungguhnya menghadirkan paradoks. Manusia memiliki kebebasan berbicara yang semakin besar, tetapi belum tentu memiliki kebijaksanaan yang sebanding dalam penggunaan kebebasan tersebut. Media sosial dapat menjadi ruang demokrasi, tetapi juga dapat berubah menjadi ruang penghukuman massal. Perbedaan pendapat dapat menjadi diskusi, tetapi juga dapat berubah menjadi pertengkaran. Kritik dapat menjadi instrumen perbaikan, tetapi dapat pula berubah menjadi penghinaan.
Fenomena seperti penyebaran berita palsu, fitnah, perundungan digital, ujaran kebencian, pembukaan informasi pribadi, dan penghakiman berdasarkan potongan informasi menunjukkan bahwa persoalan komunikasi digital bukan semata-mata persoalan teknologi. Ia adalah persoalan moral, karena teknologi hanya menyediakan sarana, tetapi manusia yang menentukan apakah sarana itu digunakan untuk membangun atau merusak. Oleh karena itu, etika digital tidak cukup hanya diajarkan melalui aturan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Yang lebih mendasar adalah membangun kesadaran bahwa setiap aktivitas digital tetap merupakan aktivitas manusiawi.
Dalam situasi kekinian, Po Boro Toto Lema dapat memperoleh makna baru. Ia dapat menjadi etika bermedia sosial, yakni berbicaralah, tetapi jangan ngawur. Kebebasan berbicara bukan berarti kebebasan untuk mengatakan apa saja tanpa mempertimbangkan akibatnya, karena sebelum menekan tombol kirim, seseorang perlu mempertanyakan kebenaran, urgensi, dan kelayakannya.
Ini berarti bahwa kita boleh mengkritik, tetapi jangan memfitnah. Kritik membantu memperbaiki kesalahan dan mengoreksi kekuasaan. Namun, kritik akan kehilangan nilai moralnya ketika berubah menjadi tuduhan tanpa dasar, rekayasa informasi, atau serangan terhadap personal. Kita boleh-boleh saja berbeda pendapat, tetapi jangan merendahkan martabat manusia. Perbedaan adalah sesuatu yang wajar, tetapi harus benar memperlakukan sesama manusia.
Seseorang dapat menolak pendapat orang lain tanpa harus membenci orangnya. Kita boleh menyampaikan kebenaran, tetapi tidak boleh kehilangan belas kasih. Kebenaran tidak seharusnya menjadi senjata untuk menghina dan mempermalukan orang lain, karena ada perbedaan antara keberanian mengatakan yang benar dan kegembiraan menyaksikan orang lain dipermalukan.
Etika membutuhkan keduanya, yakni keberanian untuk mengatakan kebenaran dan kebijaksanaan untuk menyampaikannya secara manusiawi. Kita dapat menggunakan kebebasan berbicara untuk membangun kehidupan, tetapi bukan untuk menghancurkan kemanusiaan. Ini adalah salah satu relevansi terdalam dari ungkapan Po Boro Toto Lema bagi kehidupan digital dewasa ini. Kata-kata seharusnya menjadi sarana membangun kepercayaan, memperluas pemahaman, menyelesaikan konflik, memperjuangkan kebenaran, dan memperkuat kehidupan komunitas manusia.
Kita memahami bahwa ada perubahan simbolis yang menarik ketika nilai tutur leluhur dibawa ke ruang digital. Dahulu manusia berbicara dengan mulut, tetapi kini manusia juga “berbicara” melalui jari. Jari yang mengetik komentar pada telepon genggam pada dasarnya menjalankan fungsi yang dahulu dilakukan oleh mulut. Perbedaannya adalah jangkauan dan kecepatannya. Satu kalimat yang diucapkan di hadapan beberapa orang mungkin hanya didengar oleh mereka yang berada di tempat itu, tetapi sebuah kalimat yang ditulis di media sosial dapat dibaca oleh ribuan orang, disimpan, disalin, dan disebarluaskan kembali.
Jika dahulu seseorang diajarkan untuk menjaga mulut, maka manusia digital masa kini perlu belajar menjaga jari. Artinya bahwa sebelum berbicara, sebaiknya berpikir terlebih dahulu; sebelum mengetik, sangat perlu memeriksanya; sebelum membagikan, wajib memastikan kebenarannya; sebelum menghakimi, sangat perlu memahami konteksnya; dan sebelum melukai seseorang melalui kata-kata, bayangkan jika perkataan itu diarahkan kepada diri sendiri. Ini merupakan transformasi nilai budaya yang penting, bahwa esensi sebuah petuah tidak harus berubah meskipun medium kehidupan berubah.
Etika Digital sebagai Bentuk Baru Penghormatan terhadap Leluhur
Kerap kali kebudayaan dipahami sebagai sesuatu yang berada di masa lalu. Bentuknya dapat berupa pakaian adat, tarian, upacara, rumah tradisional, bahasa daerah, atau benda-benda warisan leluhur. Semua itu penting. Namun kebudayaan tidak hanya berupa benda dan upacara atau seremoni semata, karena kebudayaan juga merupakan cara manusia berpikir dan bertindak.
Nilai budaya tertentu yang hanya disimpan sebagai simbol tanpa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, akan berisiko bahwa kebudayaan akan kehilangan daya hidupnya. Sebaliknya, ketika nilai leluhur mampu menjawab persoalan dan selaras zaman, kebudayaan justru menunjukkan vitalitasnya. Dia hidup dan berdaya guna. Dengannya, membawa Po Boro Toto Lema ke ruang digital bukan berarti mengubah atau menghilangkan identitas budaya. Justru sebaliknya, menjadi bentuk aktualisasi budaya, di mana nilai lama menemukan medan pengabdian yang baru.
Pada masa lampau kebudayaan mengatur manusia berbicara dalam komunitas, tetapi kini dapat menginspirasi manusia untuk berkomunikasi dalam jejaring digital. Dan pada masa lampau kebudayaan membantu untuk menjaga harmoni antar manusia yang hidup dalam satu ruang sosial, tetapi kini dapat membantu menjaga kemanusiaan di tengah ruang digital yang semakin luas.
Kita patut menyadari bahwa menghormati leluhur tidak cukup hanya dengan mengulang kata-kata mereka. Lebih dari itu, menghormati leluhur berarti memahami nilai yang mereka wariskan dan meneruskannya dalam kehidupan sehari-hari. Jika generasi terdahulu mewariskan kebijaksanaan tentang pentingnya menjaga tutur, generasi masa kini mempunyai tugas untuk menerjemahkan kebijaksanaan itu sesuai dengan tantangan dan tuntutan zaman.
Tantangan tersebut bukan lagi hanya soal berbicara kepada tetangga atau anggota keluarga, tetapi perihal berbicara kepada orang yang tidak kita kenal, menyikapi orang yang berbeda pilihan, mengkritik tokoh publik tanpa melakukan penghinaan, membagikan informasi tanpa menyebarkan kebohongan, menggunakan teknologi tanpa kehilangan empati, dan tetap menjadi manusia ketika berhadapan dengan layar. Di sinilah ungkapan Po Boro Toto Lema dapat menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan.
Ruang digital bukan ruang yang bebas nilai. Yang dilakukan manusia di media sosial juga mencerminkan kebudayaan manusia tersebut. Cara seseorang berbicara, merespons perbedaan, menghormati orang lain, menyampaikan kritik, dan menyikapi kesalahan orang lain, semuanya menunjukkan kualitas budaya yang hidup dalam diri orang yang bersangkutan. Oleh karena itu, membangun etika digital pada akhirnya juga merupakan bagian dari membangun kebudayaan.
Kita tentunya tidak ingin menjadi masyarakat yang maju secara teknologi tetapi miskin dalam kebijaksanaan. Pada saat yang sama, kita tidak ingin memiliki akses informasi yang luas tetapi kehilangan kemampuan membedakan antara kebenaran dan kebohongan. Dan, kita juga tidak ingin memiliki kebebasan berbicara tetapi menggunakan kebebasan itu untuk merendahkan manusia lain.
Ini artinya bahwa kemajuan teknologi harus berjalan bersama kemajuan moral. Dan dalam konteks ini, warisan budaya lokal memiliki peranan penting. Nilai-nilai leluhur dapat menjadi sumber refleksi untuk menghadapi persoalan-persoalan baru yang tidak pernah dibayangkan oleh generasi sebelumnya.
Pada akhirnya, Po Boro Toto Lema dapat dibaca bukan hanya sebagai ungkapan dari masa lalu, tetapi sebagai undangan untuk terus memikirkan hubungan antara kata, manusia, dan kehidupan. Bahwa zaman boleh berubah, dan cara manusia berkomunikasi juga boleh berubah, tetapi satu hal tidak boleh berubah, yakni kata-kata tetap memiliki makna dan akibat.
Oleh karena itu, kebijaksanaan leluhur masih mempunyai tempat di tengah dunia digital dewasa ini. Po Boro Toto Lema mengingatkan bahwa berbicara adalah tindakan moral. Setiap kata membawa tanggung jawab. Setiap pendapat mempunyai konsekuensi. Dan setiap manusia, tetap memiliki martabat yang harus dihormati. Dengannya, etika digital yang berakar pada kebudayaan bukan etika yang melarang manusia berbicara, tetapi etika yang mengajarkan manusia untuk bijaksana dan bertanggungjawab terhadap peradaban manusia masa kini dan masa depan.
Baca Juga:
Tentang Penulis
Andreas Neke, S.Ag., B.Th.
Pendidik dan penulis asal Flores, Nusa Tenggara Timur.
→ Lihat Profil PenulisMenyukai tulisan tentang makna hidup dan pergulatan manusia?
Temukan gagasan lebih mendalam dalam buku Remaja dan Pergumulan Jati Dirinya.
Lihat Buku →