Pion-pion Bodoh dalam Bidak Catur Orang Licik
Uniknya bahwa ada saja orang yang tidak pernah sadar bahwa dirinya sedang dipermainkan. Ia merasa sedang berjuang, padahal sedang dimanfaatkan. Ia merasa sedang membela kebenaran, padahal hanya sedang menjalankan kepentingan orang lain. Ia merasa dirinya penting, padahal bagi orang yang menggerakkannya, ia hanyalah pion yang mudah digeser ketika sudah tidak lagi berguna.
Ini adalah salah satu bentuk kebodohan yang paling menyedihkan, bukan semata-mata karena seseorang tidak memiliki pengetahuan, melainkan karena ia tidak mampu membaca kepentingan di balik permainan yang sedang ia jalankan.
Orang seperti ini mudah diprovokasi. Cukup diberi sedikit pujian, sedikit perhatian, atau sedikit janji, ia sudah merasa memiliki posisi istimewa. Ia kemudian bersedia melakukan apa saja untuk menyenangkan orang yang sebenarnya sedang memanfaatkannya. Ia akan marah karena diperintah untuk marah, menyerang karena diminta menyerang, membenci karena diajari untuk membenci, dan menyebarkan cerita karena diberikan cerita.
Yang lebih ironis dari manusia jenis ini adalah sering merasa bangga karena menganggap dirinya sedang memperjuangkan sesuatu yang besar. Padahal, ada orang lain yang sedang duduk nyaman di belakang layar sambil menikmati kekacauan yang ia ciptakan.
Lucunya, pion tidak selalu sadar bahwa dirinya adalah pion. Justru itulah kekuatan seorang pemain. Pemain yang cerdas tidak perlu turun ke medan tempur. Ia cukup menggerakkan orang lain, memberikan narasi, menciptakan musuh, menyalakan emosi, kemudian membiarkan orang-orang yang mudah dipengaruhi untuk saling berhadapan. Sementara itu, ia menikmati hasilnya yakni keuntungan sosial, finansial, kekuasaan, dan kenyamanan pribadi.
Di baliknya, mereka yang menjadi alat sering kali tidak mendapatkan apa-apa selain kelelahan, konflik, bahkan permusuhan dengan sesamanya. Inilah sebabnya kebodohan tidak selalu tampak seperti ketidaktahuan. Seseorang bisa berpendidikan tinggi, pandai berbicara, aktif di media sosial, memiliki banyak pengikut, bahkan merasa sangat kritis, tetapi tetap menjadi bodoh jika tidak mampu membedakan antara kepentingan dirinya dan kepentingan orang yang sedang mengarahkannya.
Kita perlu menyadari bahwa kecerdasan bukan hanya kemampuan mengetahui banyak hal, tetapi juga kemampuan mencermati siapa yang sebenarnya diuntungkan, siapa yang memulai sebuah permainan, siapa yang mendapatkan keuntungan, dan apakah sedang memperjuangkan prinsip, atau sedang memperjuangkan kepentingan seseorang.
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu sering kali tidak nyaman, sebab memaksa seseorang keluar dari fanatisme dan mulai menggunakan akal sehatnya. Tetapi, orang yang sudah terlalu larut dalam permainan biasanya tidak suka bertanya. Ia hanya ingin membela. Ia tidak memeriksa informasi, tetapi mempercayainya karena datang dari orang yang ia sukai; tidak mencari kebenaran, tetapi pembenaran; tidak peduli tindakannya benar, tetapi yang penting kelompoknya menang.
Di situlah kebodohan berubah menjadi alat alias pion. Yang paling menyedihkan adalah ketika seseorang rela kehilangan persahabatan, martabat, bahkan harga dirinya demi menyenangkan orang yang sebenarnya tidak peduli kepadanya. Ia membela seseorang mati-matian, tetapi ketika dirinya terkena masalah, orang yang dibelanya mungkin justru menghilang. Ia diminta menyerang, tetapi ketika konsekuensi datang, ia dibiarkan menghadapi semuanya sendirian. Pemain tetap berada di belakang, tetapi pion yang jatuh terlebih dahulu, mendapatkan malu paling besar, ditertawakan paling keras, dan dihujat paling durhaka.
Oleh karena itu, kita diajarkan untuk jangan terlalu cepat merasa bangga ketika seseorang memuji keberanian kita, karena bisa jadi keberanian itu sedang dipakai untuk kepentingannya. Jangan terlalu cepat merasa penting ketika kita dilibatkan dalam sebuah konflik, karena bisa jadi kita hanya dipilih karena mudah digerakkan. Dan, jangan terlalu bangga ketika seseorang membutuhkan kita, tetapi lebih penting dari itu adalah untuk apa saya dibutuhkan, karena seseorang bisa membutuhkan kita bukan karena menghargai kita, tetapi karena kita mudah digunakan, digerakkan, dan dipermainkan.
Di dunia politik, organisasi, pekerjaan, komunitas, bahkan dalam hubungan sosial sehari-hari, pola seperti ini dapat muncul dalam berbagai bentuk. Ada orang yang sengaja memainkan emosi orang lain untuk mendapatkan keuntungan. Ada yang menggunakan loyalitas seseorang untuk memperkuat posisi dirinya. Dan, ada pula yang menciptakan konflik, karena menikmati perhatian dan kekuasaan yang lahir dari konflik tersebut. Yang menjadi korban sering kali mereka yang merasa paling loyal. Mereka tidak sadar bahwa loyalitas tanpa nalar dapat berubah menjadi perbudakan psikologis. Kesetiaan memang penting, tetapi kesetiaan yang sehat tidak mematikan akal budi dan membunuh suara hati.
Kesadaran perlu tumbuh bahwa membela seseorang tidak berarti harus membenarkan semua tindakannya; mengikuti seseorang tidak berarti harus kehilangan kemampuan untuk berkata “tidak”; menjadi bagian dari kelompok tidak berarti harus mematikan hati nurani; dan mencintai seseorang tidak berarti harus menyerahkan seluruh kemampuan berpikir kepadanya.
Manusia yang dewasa bukan manusia yang selalu mengikuti, tetapi manusia yang mampu menentukan kapan harus mengikuti dan kapan harus berhenti. Oleh karena itu, jangan menjadi pion dalam permainan yang tidak pernah kita pahami. Jangan biarkan kemarahan kita menjadi bahan bakar bagi kesenangan, keuntungan, dan kekuasaan orang lain, sebab pada akhirnya, seorang pemain yang cerdas selalu menjaga dirinya sendiri tetap aman. Ia tahu kapan harus mundur dan kapan harus mengorbankan pion.
Yang paling penting dalam menjalin relasi yang sehat adalah memperjuangkan sesuatu yang diyakini baik, benar dan adil, tetapi bukan menjadi alat bagi kesenangan dan keuntungan orang lain. Sadarlah bahwa kebodohan yang paling tinggi bukan karena tidak mengetahui banyak hal, tetapi kehilangan persahabatan, martabat, bahkan harga diri karena terlalu rela dipermainkan oleh orang lain.
Baca Juga:
Tentang Penulis
Andreas Neke, S.Ag., B.Th.
Pendidik dan penulis asal Flores, Nusa Tenggara Timur.
→ Lihat Profil PenulisMenyukai tulisan tentang makna hidup dan pergulatan manusia?
Temukan gagasan lebih mendalam dalam buku Remaja dan Pergumulan Jati Dirinya.
Lihat Buku →