Memoar Jalan Pulang dari Dunia ke Biara dan Kembali ke Dunia
Ada memori yang tidak pernah benar-benar menjadi masa lampau. Ia tetap tinggal di dalam tubuh, menyusup melalui aroma tanah basah, kabut pagi, suara kayu terbakar, dan langkah kaki yang pernah begitu akrab dengan jalan-jalan perkampungan.
Setiap kali hujan turun, saya selalu ingat sebuah desa kecil di Kabupaten Ngada. Di sanalah saya dilahirkan sebagai anak sulung dari lima bersaudara. Menjadi anak pertama tidak pernah secara resmi diumumkan sebagai sebuah tanggung jawab, tetapi sejak kecil saya tahu bahwa ada sesuatu yang harus dipikul, yakni menjadi tangan tambahan bagi ayah dan ibu, menjadi tempat berharap bagi adik-adik, dan kelak menjadi seseorang yang diharapkan mampu membawa keluarga menatap hari depan.
Ayah dan ibuku hanyalah petani sederhana. Mereka tidak memiliki banyak hal untuk diwariskan selain tanah, kerja keras, doa, dan keteladanan tentang bagaimana manusia bertahan hidup tanpa kehilangan martabat. Namun, di antara kesederhanaan itu, Tuhan memberikan saya sebuah rumah kedua dalam diri seorang nenek.
Nenek telah kehilangan putra tunggalnya, paman saya, beberapa tahun sebelum saya memasuki bangku sekolah dasar. Mungkin karena kehilangan itu, kehadiran saya menjadi semacam penghiburan baginya. Saya bukan sekadar cucu. Di matanya, saya seperti membawa kembali sedikit bayangan anak yang telah pergi lebih dahulu. Pelukannya selalu panjang. Dan sampai hari ini saya percaya bahwa sebagian kekuatan saya untuk bertahan dalam perjalanan hidup mungkin tumbuh dari pelukan-pelukan sederhana itu.
Masa kecil saya berjalan seperti kebanyakan anak desa lainnya. Pagi-pagi berjalan kaki ke sekolah, siang membantu orang tua di kebun. Kayu bakar dipikul di kepala, pekerjaan rumah dikerjakan sebisanya, dan lumpur tanah di musim hujan serta abu di muasin panas menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Tetapi kemiskinan tidak pernah sepenuhnya mampu merampas kegembiraan. Kami bermain sepak bola di lapangan rumput. Kami bermain perang-perangan di balik semak, meniru adegan heroik dari televisi yang sebenarnya bukan milik keluarga kami. Jika ingin menonton, kami berkerumun di rumah tetangga yang memiliki televisi. Anak-anak tertawa, berteriak, berkeringat, dan pulang ketika malam menjelang pagi. Begitulah kebahagiaan kami yang serba kecil, murah, tetapi utuh.
Di sekolah saya bukan anak yang istimewa. Namun, sedikit ketekunan kadang menghasilkan kejutan. Saya pernah mengikuti lomba mata pelajaran antar-sekolah dan berhasil masuk sepuluh besar. Prestasi sederhana itu menyalakan sebuah keberanian.
Setamat SD, saya menyampaikan keinginan untuk masuk seminari menengah. Saya ingin menjadi pengikut Kristus. Namun, orang tua belum siap melepaskan anak sulungnya terlalu jauh dari rumah. Keinginan itu pun tertahan, tetapi ternyata panggilan tidak selalu mati ketika manusia mengatakan belum. Kadang ia hanya tidur. Dan bertahun-tahun kemudian, ia bangun kembali.
Untuk melanjutkan SMP dan SMA, saya meninggalkan desa dan pindah ke kota Bajawa. Saya bersekolah di SMPN 2 Bajawa, kemudian SMAN Bajawa, sambil menumpang di rumah paman dan bibi. Di sana saya belajar bahwa hidup mandiri tidak selalu dimulai dari kebebasan. Kadang ia dimulai dari pekerjaan.
Sepulang sekolah saya mencari kayu api, batang pisang, mengiris dan menumbuknya untuk makanan babi, menumbuk jagung dengan alu, dan mengerjakan berbagai pekerjaan rumah tangga. Tubuh perlahan belajar kuat, sementara hati belajar menelan rindu. Jauh dari ayah dan ibu, saya mulai memahami bahwa kedewasaan tidak datang karena usia bertambah, tetapi karena seseorang belajar memikul sesuatu yang tidak selalu ingin dipikulnya.
Sesekali nenek datang dari desa. Kedatangannya selalu seperti matahari yang tiba setelah kabut yang sangat panjang. Ia tidak membawa banyak barang. Ia hanya membawa kata-kata, “Hidup ini keras, cucuku, tetapi hatimu harus tetap lembut dan kuat.” Kalimat sederhana itu menetap jauh lebih lama daripada banyak buku yang pernah saya baca.
Masa SMA berjalan biasa saja. Nilai akademik saya tidak pernah mencapai kata gemilang. Pada usia remaja, saya juga mengenal cinta. Ada seorang gadis yang diam-diam saya kagumi. Namun, kemiskinan dan rasa minder membuat saya memilih menyimpan perasaan itu. Cinta pertama saya akhirnya menjadi sesuatu yang tidak pernah sempat menjadi milik siapa pun. Mungkin memang ada cinta yang ditakdirkan hanya untuk mengajarkan kita tentang keheningan, diam, dan tanpa kata.
Di tengah kehidupan sekolah dan pekerjaan, kehidupan rohani saya mulai dibentuk secara disiplin. Misa pagi menjadi kebiasaan. Doa Koronka pada pukul tiga sore menjadi penghormatan kepada Kerahiman Ilahi. Rosario pada malam hari menjadi ruang untuk menenangkan batin. Doa perlahan menjadi rumah ketika rumah secara geografis terasa jauh.
Setelah tamat SMA, saya akhirnya mengambil keputusan yang dahulu pernah tertunda. Saya mendaftar ke Seminari KPA St. Paulus Mataloko. Dua tahun di Mataloko menjadi masa ketika benih panggilan yang lama tertidur mulai tumbuh. Sebagai lulusan sekolah umum, saya harus mengejar ketertinggalan akademik, memperdalam hidup rohani, dan belajar hidup bersama orang-orang dari berbagai latar belakang sosial, budaya, dan ekonomi.
Ketika teman-teman pulang berlibur, saya dan beberapa rekan kerap tinggal untuk mengurus ternak seminari. Dari pekerjaan-pekerjaan yang tampaknya kecil itulah saya belajar bahwa panggilan tidak selalu berbicara melalui mimbar. Kadang ia berbicara melalui kandang ternak yang harus dibersihkan, melalui keringat, dan melalui pekerjaan yang tidak dilihat siapa-siapa.
Di Mataloko saya semakin mengenal spiritualitas Santo Fransiskus dari Asisi. Saya kemudian memilih jalan Ordo Saudara Dina Kapusin, Provinsi Sibolga.
Kami berlima dari , empat dari Manggarai dan satu dari Ngada, yakni saya sendiri semula berniat berangkat bersama. Pada akhirnya, hanya empat orang yang melanjutkan perjalanan. Sebelum meninggalkan Flores, kami singgah di Paroki St. Fransiskus Ndondo. Di sana, bersama Pastor Paskalis Pasaribu dan Pastor Alfons Pandiangan, kami menjalani masa persiapan.
Kami bahkan belajar membuat Rosario dari kawat dan manik-manik. Jemari yang terbiasa memegang parang dan kayu bakar terasa kaku ketika berhadapan dengan kawat tipis. Tetapi dari situlah saya belajar sebuah metafora kehidupan bahwa sesuatu yang kasar pun dapat dibentuk menjadi indah jika disentuh dengan kesabaran.
Setelah beberapa pekan, kami dilepas bergegas ke Larantuka menuju Jakarta. Bagi anak desa yang sebelumnya belum pernah keluar Flores, perjalanan itu seperti membuka halaman pertama sebuah buku yang sangat besar.
Jakarta menghadirkan pengalaman baru. Monas, Gereja Katedral, hiruk-pikuk kota, dan keluarga menerima kami dengan hangat. Setelah itu perjalanan berlanjut menuju Sumatera. Dua minggu perjalanan darat membawa kami akhirnya sampai ke Sibolga. Di terminal, Pastor Flavius Sibagariang telah menunggu. Ia membawa kami menuju Postulat Mela. Sepanjang perjalanan, saya memandang laut dengan penuh rasa takjub. Saya berasal dari pegunungan Bajawa; kini saya menyaksikan kota yang hidup berdampingan dengan laut. Dunia ternyata jauh lebih luas daripada kampung halaman.
Setahun di Postulat Mela-Sibolga, mempertemukan saya dengan lima belas calon dari berbagai daerah, termasuk Nias dan berbagai wilayah Sumatera. Di bawah pendampingan Pastor Aloysius Telaumbanua dan Pastor Flavius Sibagariang, kami belajar bukan hanya menjadi calon religius, tetapi menjadi saudara.
Salah satu pengalaman paling berharga adalah duduk bersama para misionaris tua dari Jerman. Mereka tidak lagi berbicara tentang heroisme. Mereka berbicara tentang tahun-tahun panjang, kesepian, pelayanan, bahasa yang sulit, budaya yang berbeda, dan kesetiaan. Dan, saya mulai mengerti bahwa menjadi misionaris bukan berarti datang sebagai orang yang paling tahu. Justru sebaliknya, seorang pelayan harus datang dengan kerendahan hati untuk belajar.
Kami mulai mempelajari bahasa Batak Toba dan Nias. Bahasa bagi saya kemudian bukan sekadar alat komunikasi. Ia adalah jalan menuju hati manusia. Dari lima belas calon, hanya lima yang melanjutkan ke Novisiat di Parapat. Parapat mengingatkan saya pada Bajawa. Udara dinginnya, kabutnya, dan lanskap pegunungannya terasa seperti membawa sebagian Flores ke tanah Sumatera.
Kami hidup bersama para novis dari Provinsi Medan dan Pontianak. Dua puluh satu orang belajar menjalani keheningan, doa, disiplin, dan hidup bersama. Ketika pertama kali mengenakan jubah cokelat Kapusin, ada perasaan yang sulit dijelaskan. Sehelai kain sederhana. Tetapi bagi kami, ia seperti tanda bahwa manusia lama sedang diminta perlahan mati agar manusia baru dapat tumbuh.
Namun, novisiat tidak sepenuhnya berisi kesunyian. Kami berenang di Danau Toba setiap Kamis, bermain sepak bola setiap Senin, dan sesekali menyeberangi Danau Toba untuk mengunjungi stasi-stasi. Saya pernah berusaha belajar berenang di Danau Toba. Sampai sekarang saya tetap tidak menjadi perenang yang baik. Barangkali air memang tidak pernah menjadi rumah bagi anak gunung.
Setahun kemudian, masa kanonik selesai. Kami berpisah menuju tahap berikutnya. Lima orang dari Provinsi Sibolga melanjutkan perjalanan ke Gunungsitoli, Nias. Sebelum memasuki Post-Novisiat, kami mengunjungi rumah Jansen Dachi di Nias Selatan. Ombak besar, pantai para peselancar, dan kampung adat Bawamataluo menghadirkan pengalaman budaya yang sangat berbeda.
Di Gunungsitoli, kami hidup bersama para formator seperti Pastor Barnabas Winkler, Pastor Gratianus Tinambunan, dan dua bruder lainnya. Kehidupan mulai dibuat lebih terbuka. Kami mengatur uang belanja, pergi ke pasar, dan memasak untuk komunitas. Hal-hal sederhana itu ternyata penting. Seseorang tidak mungkin menjadi pelayan umat jika ia tidak mampu mengurus dirinya sendiri.
Saya juga berjumpa dengan para imam dan frater asal Flores yang telah lama berkarya di Nias. Dari mereka saya belajar bahwa pelayanan bukan hanya tentang liturgi. Pelayanan adalah kemampuan untuk memasuki dunia orang lain tanpa merasa lebih tinggi. Sekali lagi, bahasa Nias menjadi penting. Jika ingin menyentuh hati umat, kita harus bersedia belajar bahasa mereka.
Setahun kemudian, dari lima orang, kami tinggal bertiga. Dua rekan memilih jalan lain sebagai Bruder Kapusin. Kami bertiga melanjutkan perjalanan menuju Pematangsiantar. Di STFT St. Yohanes, saya menemukan dunia baru. Selama tiga tahun di Biara Alverna-Sinaksak, saya belajar filsafat dan teologi bersama para frater dari berbagai tarekat dan keuskupan.
Buku-buku membuka cakrawala yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan. Saya mulai jatuh cinta kepada dunia literasi dan jurnalistik. Menulis menjadi cara saya mengolah kegelisahan, merawat pikiran, dan memahami manusia. Saya pernah memenangkan lomba karya ilmiah mahasiswa tingkat dasar. Tulisan itu kemudian saya kembangkan menjadi skripsi berjudul Teologi Politik Menurut Johann Baptist Metz. Melalui pemikiran Metz, saya semakin memahami bahwa iman tidak boleh menutup mata terhadap penderitaan manusia. Iman tidak boleh hanya tinggal di altar. Ia harus memiliki keberanian untuk berjalan menuju mereka yang terluka.
Di luar ruang kuliah, kami mengajar dan menjalani kerasulan. Saya mengajar Agama Katolik di SMAN 3 Tiga Dolok. Kemudian saya melayani di Stasi Tiga Dolok, mendengarkan kisah umat, belajar dari kehidupan masyarakat, dan memahami bahwa teori menjadi berarti ketika bersentuhan dengan kenyataan. Tiga tahun itu membentuk kepala saya, tetapi perjalanan berikutnya akan menguji hati saya.
Setelah menyelesaikan studi, saya ditempatkan untuk menjalani Tahun Orientasi Pastoral di Paroki St. Fransiskus Xaverius Ndondo. Saya pulang ke Flores. Sebelum memulai tugas, saya menikmati waktu bersama orang tua, adik-adik, dan nenek yang semakin tua.
Ndondo kemudian menjadi ruang belajar yang berbeda. Di sana listrik hanya tersedia kira-kira dari pukul enam sore hingga enam pagi. Saya memimpin ibadat di stasi-stasi, mendampingi kelompok kategorial, mengajar anak-anak kelas lima dan enam SD Ndondo, mengurus kebun paroki, membersihkan kandang, memberi makan ternak, dan membantu umat memfotokopi dokumen di pastoran.
Pelayanan ternyata tidak selalu tampak suci. Kadang ia berupa tinta fotokopi. Kadang berupa lumpur kebun. Kadang berupa bau kandang ternak. Dan, kadang berupa seorang anak sekolah yang membutuhkan seseorang untuk mengajarinya membaca dan memahami pelajaran.
Pada sore hari kami berjalan ke pantai. Sebulan sekali kami pergi ke Ende untuk rekoleksi bersama para pekerja di kebun anggur Tuhan. Di Ndondo saya belajar bahwa pastoral bukan sekadar berbicara tentang Tuhan kepada manusia. Pastoral adalah belajar menemukan Tuhan di dalam kehidupan manusia.
Masa TOP berakhir dengan baik. Pastor Alex Telaumbanua memberikan rekomendasi agar saya melanjutkan studi teologi. Saya kembali ke Sibolga, bertemu Pater Provinsial, lalu menjalani retret agung selama empat puluh hari. Justru di dalam keheningan itulah sesuatu yang selama ini tersembunyi mulai berbicara.
Saya kembali ke Pematangsiantar dan memasuki tingkat lima. Saat itu kami mulai diarahkan untuk mengajukan Kaul Kekal, untuk hidup dalam kemiskinan, ketaatan, dan kemurnian. Di sinilah perjalanan saya mencapai persimpangan paling sunyi. Saya bertanya kepada diri sendiri: Apakah saya sungguh siap hidup selibat seumur hidup? Apakah saya sungguh mampu menyerahkan seluruh hidup dalam ketaatan? Apakah saya dapat tetap berada di balik tembok biara ketika keluarga saya di kampung masih berjuang dengan tanah dan kemiskinan?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak datang sebagai suara keras. Ia datang sebagai kegelisahan yang perlahan menggerogoti ketenangan.
Angkatan kami dari Provinsi Sibolga, yang dahulu bertiga, akhirnya tinggal saya seorang yang masih berjalan menuju jalur klerus. Saya meminta penundaan Kaul Kekal selama satu tahun, bukan karena saya membenci biara. Justru karena saya menghormatinya terlalu dalam untuk menjalani hidup yang tidak lagi saya yakini sepenuh hati.
Satu tahun berlalu. Kabut ternyata tidak menghilang. Ia justru berubah menjadi kesadaran. Setelah melalui doa, tangisan, pergulatan, dan dialog panjang dengan pembimbing rohani, Pastor Yosef Sinaga, saya akhirnya memahami sesuatu yang selama ini sulit saya terima: mungkin saya dipanggil untuk mencari kekudusan bukan di balik tembok biara, melainkan di tengah dunia.
Keputusan itu menyakitkan. Teman-teman mulai mempersiapkan diri menuju tahbisan. Saya melihat mereka melangkah semakin dekat ke altar, sementara saya justru sedang bersiap meninggalkan jalan yang telah saya tempuh bertahun-tahun. Ada rasa sedih. Ada rasa iri. Ada kehilangan. Tetapi saya tidak ingin berbohong kepada Tuhan.
Dengan tangan gemetar, saya menulis surat pengunduran diri kepada Pater Provinsial. Lalu saya keluar dari biara. Keluar dari biara berarti meninggalkan sesuatu yang selama bertahun-tahun menjadi rumah. Saya meninggalkan jubah cokelat, meninggalkan makan tiga kali sehari, meninggalkan kepastian komunitas, dan meninggalkan jadwal hidup yang serba teratur.
Saya menyewa sebuah kamar kos kecil di Pematangsiantar. Dunia luar ternyata tidak menyediakan kenyamanan seperti biara. Ada hari ketika saya harus berhemat sedemikian rupa hingga mengenal arti ungkapan “sehari makan, sehari tidak”. Namun, kemiskinan tidak boleh membuat seseorang kehilangan harga dirinya. Saya terus kuliah dari luar biara dan akhirnya menyelesaikan ujian Baccalaureat Teologi.
Saya mungkin meninggalkan biara, tetapi saya tidak meninggalkan Tuhan. Saya mungkin menanggalkan jubah, tetapi saya tidak menanggalkan nilai-nilai yang telah ditanamkan oleh perjalanan itu.
Setelah bertahun-tahun di tanah seberang, kerinduan pada Flores menjadi semakin kuat. Saya ingin pulang. Namun, saya memahami bahwa kepulangan seorang mantan frater tidak selalu mudah bagi keluarga NTT. Ada harapan yang telah dibangun bertahun-tahun. Ada mimpi orang tua. Ada cerita yang sudah terlanjur dibagikan kepada kerabat.
Karena itu, sebelum pulang, saya menulis surat kepada keluarga besar. Saya menjelaskan semuanya. Saya ingin mereka mengetahui bahwa keputusan itu bukan karena saya kehilangan iman, melainkan karena saya sedang berusaha jujur terhadap panggilan hidup saya.
Ketika akhirnya tiba di rumah, suasana terasa kaku. Ada mata yang kecewa. Ada mimpi yang runtuh. Ada pertanyaan yang tidak langsung diucapkan. Tetapi mereka tetap memeluk saya. Dan perlahan, keluarga belajar menerima. Saya pun belajar bahwa cinta Tuhan tidak menjadi lebih kecil hanya karena seseorang tidak menjadi imam.
Tiga bulan pertama di rumah menjadi masa adaptasi. Saya harus belajar kembali menjadi orang awam setelah bertahun-tahun hidup dalam sistem komunitas religius. Saya membantu beberapa guru sekolah dasar menyelesaikan skripsi mereka. Saya juga mengirimkan lamaran pekerjaan sebagai guru agama. Akhirnya saya diterima mengajar di SMAK St. Clemens Boawae.
Tahun 2011 sampai 2017 menjadi masa yang sangat berarti. Saya mengajar Agama Katolik, PKn, Sosiologi, dan Jurnalistik. Di hadapan anak-anak remaja, saya menemukan ruang pelayanan yang baru. Saya tidak lagi berdiri di balik jubah. Saya berdiri di depan kelas. Saya tidak lagi berbicara dari altar gereja. Saya berbicara dari ruang pendidikan. Dan perlahan saya memahami, mungkin inilah altar yang disediakan Tuhan bagi saya.
Pada 2013, perjalanan hidup membawa saya memasuki perkawinan. Saya menikahi seorang gadis peranakan Sobo-Wakomenge. Saya belajar bahwa pernikahan adalah bentuk lain dari pengurbanan. Jika di biara seseorang belajar menyerahkan diri kepada Tuhan melalui kaul, di dalam keluarga seseorang belajar menyerahkan ego melalui cinta, kesetiaan, tanggung jawab, dan pengorbanan setiap hari. Altar saya telah berpindah. Kini ia berada di rumah.
Pada 2017, sebuah kecelakaan sepeda motor di Bajawa memaksa saya berhenti mengajar selama sekitar tiga bulan. Tubuh yang terluka kembali mengingatkan saya tentang sesuatu yang sering dilupakan manusia, bahwa kita ini rapuh. Tetapi justru melalui kerapuhan, manusia sering belajar melihat hidup dengan lebih jernih.
Setelah pulih, pada Agustus 2017 saya mulai mengajar di SMK Sanjaya Bajawa. Saya kembali ke kota yang dahulu menjadi sekolah kehidupan bagi saya. Kota dingin. Kabut. Jalan-jalan yang pernah saya lewati sebagai anak muda. Semua terasa seperti lingkaran yang akhirnya bertemu kembali.
Kini, ketika memandang perjalanan hidup dari kejauhan, saya tidak lagi melihatnya sebagai kegagalan. Saya pernah bermimpi menjadi imam. Saya pernah mengenakan jubah cokelat Kapusin. Saya pernah hidup dalam biara, menjalani postulan, menjalani tahun novisiat dan post-novisiat, belajar filsafat dan teologi, melayani umat, dan berdiri begitu dekat dengan pintu menuju tahbisan. Tetapi saya akhirnya keluar.
Dulu mungkin saya menganggapnya sebagai sebuah kehilangan. Kini saya melihatnya sebagai bagian dari cara Tuhan mendidik saya, sebab panggilan tidak selalu berakhir seperti yang kita bayangkan. Ada orang dipanggil untuk menjadi imam. Ada yang dipanggil menjadi biarawan. Ada yang dipanggil menjadi bruder. Dan ada yang dipanggil untuk kembali ke dunia, menjadi suami, menjadi ayah, menjadi guru, menjadi sahabat, menjadi umat biasa yang berusaha menghadirkan kebaikan di tengah kehidupan sehari-hari.
Saya termasuk yang terakhir. Jubah cokelat telah saya tanggalkan, tetapi semangat kedinaan Fransiskan tidak ikut saya tanggalkan. Filsafat dan teologi tidak berhenti di ruang kuliah. Pemikiran Johann Baptist Metz tentang iman yang berpihak kepada manusia yang menderita tetap saya bawa. Doa-doa yang dahulu saya daraskan di biara kini menemukan bentuk lain dalam kehidupan sehari-hari.
Saya belajar bahwa dunia bukan lawan dari kesucian. Dunia adalah tempat kesucian diuji. Rumah adalah tempat kesetiaan diuji. Sekolah adalah tempat kasih diuji. Masyarakat adalah tempat iman diuji. Dan, pekerjaan adalah tempat kejujuran diuji.
Biara pernah menjadi rumah bagi pencarian saya, tetapi dunia kemudian menjadi ruang tempat saya menjalankan hasil pencarian itu. Karena itu, hari ini saya tidak lagi mengatakan bahwa saya “meninggalkan panggilan”. Saya hanya memilih bentuk lain untuk menjawab panggilan. Mungkin Tuhan memang tidak meminta saya berdiri di altar sebagai imam, tetapi Ia meminta saya berdiri di depan kelas. Mungkin Ia tidak meminta saya memakai kasula, tetapi Ia meminta saya mengenakan pakaian sederhana dan menjalankan tanggung jawab sebagai suami, ayah, dan guru. Mungkin Ia tidak meminta saya tinggal di balik tembok biara, tetapi Ia meminta saya berjalan di tengah manusia yang terluka, tertawa, jatuh, bangkit, bekerja, mencintai, dan berjuang.
Dan di sinilah saya akhirnya memahami bahwa kesucian tidak selalu tinggal di tempat yang kita sebut suci. Kadang ia bersembunyi di balik meja makan keluarga. Kadang di ruang kelas. Kadang di kebun. Kadang dalam pelukan seorang ibu. Kadang dalam nasihat seorang ayah. Kadang dalam tangan seorang guru yang membimbing muridnya. Kadang dalam kesediaan seseorang meminta maaf. Kadang dalam keputusan untuk tetap jujur ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
Perjalanan saya dari dunia menuju biara ternyata bukan perjalanan untuk meninggalkan dunia. Biara mengajari saya bagaimana melihat dunia dengan mata yang berbeda. Dan ketika saya kembali ke dunia, saya membawa pulang sesuatu yang tidak terlihat, yakni kesadaran bahwa Tuhan tidak pernah jauh dari manusia.
Saya pernah berjalan menuju altar, lalu saya kembali. Tetapi mungkin, tanpa saya sadari, seluruh perjalanan itu sebenarnya adalah cara Tuhan membawa saya menuju altar yang lain, yakni lltar kehidupan. Altar keluarga. Altar pendidikan. Altar kemanusiaan. Di sanalah saya berdiri sekarang. Masih dengan banyak kekurangan. Masih dengan pertanyaan. Masih dengan dosa dan kerapuhan.
Tetapi juga dengan keyakinan sederhana bahwa hidup bukanlah tentang menjadi apa yang dahulu kita impikan, melainkan tentang menjadi manusia yang setia pada kebaikan yang dipercayakan Tuhan kepada kita.
Saya telah meninggalkan biara, tetapi biara tidak sepenuhnya meninggalkan saya. Ia tetap hidup dalam cara saya memandang kesederhanaan, dalam kecintaan pada doa, dalam semangat melayani, dalam keberanian memeluk penderitaan sesama, dan dalam kesadaran bahwa hidup ini bukan milik kita sepenuhnya.
Jalan itu masih panjang. Dan selama kaki masih sanggup melangkah, saya akan terus berjalan. Bukan lagi menuju sebuah biara. Bukan pula menjauh dari Tuhan, melainkan berjalan bersama Tuhan, di tengah dunia, menuju keabadian yang belum selesai saya tempuh.
Baca Juga:
Tentang Penulis
Andreas Neke, S.Ag., B.Th.
Pendidik dan penulis asal Flores, Nusa Tenggara Timur.
→ Lihat Profil PenulisMenyukai tulisan tentang makna hidup dan pergulatan manusia?
Temukan gagasan lebih mendalam dalam buku Remaja dan Pergumulan Jati Dirinya.
Lihat Buku →