Ketika Perhatian Disangka Cinta, Hati Pun Terluka Diam-Diam!
By: Nofi Hege
Semua yang ada padaku, semua yang sudah kubuat menarik dalam tubuh ini, sungguh sedikit pun tak membuatmu tertarik padaku.
Hay aku Rini, aku mahasiswa keguruan di salah satu kampus swasta di NTT. Saat ini aku berada pada semester 6 jurusan keguruan. Aku memiliki kedekatan dengan seorang pria yang sudah kukenal sejak awal masuk di kampus ini. Kedekatan kami sudah cukup akrab sehingga aku pun memiliki sapaan khusus terhadapnya “BUBU”.
Pagi itu, cuaca sangat indah. Burung berkicau dengan merdunya. Aku pun bergegas bangun. Segera kusiapkan segala keperluan untuk mengikuti OSPEK di kampus. Seusai menyiapkannya, aku langsung bergegas menuju dapur. Dengan sigap kusiapkan sarapan pagi ala kadarnya; setidaknya dapat mengganjal lambungku. Ya... hari ini aku pertama kali harus mengalami kebiasaan menjadi anak kos yang mengurus segala sesuatu sendirian.
Sambil kuberaktivitas, sejenak kumengingat sosok mama di kampung, yang selama ini segala macam urusan sekolah semua di-handel olehnya. Aku hanya menikmatinya saja. Tanpa sadar air mata menetes...membayangkan bahwa menjadi ibu ternyata tidaklah mudah. Segera aku tersadar, “hufffft apa-apaan ini, akukan sudah dewasa, sudah saatnya aku mandiri. Tugasku sekarang adalah hanya ingin membanggakan orang tuaku, membuktikan kepada mereka bahwa anak gadis mereka yang kemarin masih dirasa anak-anak, kini sudah dewasa dan bisa mandiri”.
Aku tiba di kampus tepat pukul 08.00 pagi. Semua masih terasa asing bagiku di kampus ini. Orang-orang yang kujumpai di sepanjang jalan, selalu kusapa dengan senyum yang paling manis, berharap akan ada yang mau berteman denganku. “Hey… kamu kuliah di sini juga ya...?” Aku tersentak kaget, karena ada yang memukul pundakku dari belakang. “Hey juga... ya aku kuliah di sini, maaf kamu siapa...?” tanyaku dalam nada penuh kebingungan. “ Ah masa kamu lupa…! Aku Rido, teman semasa sekolah dasar kamu dulu di kampung. Kamu Rini kan...?” jawabnya dengan penuh semangat. “Ia aku Rini... ohwww aku ingat... Rido dulu yang suka menangis ketika disuruh guru untuk tampil di depan teman-teman kan...?”Sambil tertawa lebar, kami pun berjabatan tangan. “Yesss, akhirnya ada yang kukenal juga di kampus ini”, pungkasku dalam hati.
Sejak itu, aku sangat bahagia berteman dengan Rido. Dia selalu melindungiku, menjagaku, dan membantu ketika aku mengalami kesulitan atau kebingungan. Rido akan selalu mengingatkanku ketika ada jadwal kuliah, akan selalu bertanya kondisiku, sudah sarapan atau belum, tugas sudah diselesaikan atau belum, intinya aku merasa sangat diratukan olehnya.
Dari kebiasaan itu, aku pun tanpa sadar telah memiliki perasaan berbeda terhadapnya. Serasa ada ruang kosong yang terisi di relung hatiku, apakah itu cinta...? Seketika aku pun tersadar dari lamunanku mendengar suara HP yang berdering. Dengan semangat aku pun mengangkat teleponnya, “Halo Bubu...” tanyaku dengan perasaan senang. “Halo juga Rini, kamu lagi di mana...?” tanya Rido. “Aku lagi di kos ne..., baru saja menyelesaikan tugas kuliah, bagaimana Bubu...?”tanyaku kepadanya. “Ohw baiklah, malam nanti aku ajak kamu makan di luar ya, ada sesuatu yang ingin aku ceritakan padamu. Sekitar jam 07.00 malam aku jemput kamu di kos ya, kamu bersedia atau ...?" Tanpa perlu pertimbangan langsung kujawab, “Ok Bubu, jam 07.00, aku tunggu ya.”
Malam pun tiba. Aku berusaha tampil secantik mungkin. Kukenakan outfit yang menurutku paling baik, celana jeans cut bray berwarna keabuan, baju kaos lengan panjang berwarna hitam, dilengkapi dengan jaket jeans yang menurutku itu jaket paling bagus yang kupunya. Serta kupadukan dengan sepatu kets berwarna putih dan tas samping berwarna cokelat, serta jam tangan kesukaanku tidak lupa juga kukenakan, sebagai pelengkap kesempurnaan outfit-ku malam itu. “Ahw..., sepertinya sudah cukup keren untuk malam ini. Semoga Bubu suka dengan penampilanku,” kataku dalam hati.
Pittttt… pittttttttt… pittttttttt… Bel motor berbunyi di depan kos, sambil HP-ku berdering. Tanpa lama aku pun mengangkatnya. “Hallo Bubu, aku sudah selesai bersiap, sedikit lagi aku ke luar, kamu tunggu ya...?” Segera mungkin kami pun bergegas ke rumah makan. Aku memesan nasi lalapan ayam, serta jus jeruk yang hangat. Sedangkan Bubu mengikuti apa yang aku pesan. Selama makan entah apa yang ada di pikiranku, jantungku berdegup kencang, telapak tangan serasa berkeringat, mau makan bingung memulai dari mana... Entah apakah ini yang dinamakan jatuh cinta...? Ahw… aku sangat kebingungan.
“Rini, kamu kenal sama Sinta, adik semester kita yang sekarang jadi calon ketua HMPS...?” Seketika aku tersedak batuk mendengar ucapan Bubu. “Ya aku kenal. Dia adik sepupuku. Sekarang dia tinggal bersama ayahnya, dikarenakan sang ibu yang tidak lain adalah tanteku, sudah meninggal dunia semenjak dia SMP kelas 2,” jawabku dengan nada pelan. “Ohw... begitu ya, baiklah, apakah kamu memiliki nomor ponselnya, jika ada boleh kuminta?”, tanya Bubu dengan senyum malu-malu. “Ya aku punya, memangnya kenapa Bubu...?” “Boleh kuminta Rini..?" "Entah kenapa aku sudah lama memiliki banyak teman wanita termasuk dirimu, tapi perasaanku ke kalian berbeda ketika aku melihat Sinta sepupumu. Sejak seminggu lalu, aku bertemu Sinta di ruang rapat HMPS, jantungku berdebar lebih cepat, aku tiba-tiba tersenyum tanpa alasan, arah mataku tidak pernah berpaling darinya. Riny.. sepertinya aku jatuh cinta padanya. Bagaimana menurutmu..., Rini?”
Sesaat, dunia sepertinya berhenti. Dadaku terasa sesak, tanpa sadar air mata menggenang di mataku. Aku menatapnya, berusaha menyembunyikan keterkejutan yang perlahan berubah menjadi luka. Lucunya, aku yang selama ini sibuk membaca setiap perhatian kecilnya, ternyata salah memahami semuanya. Semua perhatian, kebaikannya, obrolan panjang kami, ternyata bukan tanda bahwa ia menyukaiku. Ahw… rasa-rasanya aku ingin berteriak dan memaki diriku sendiri... kenapa aku sebodoh ini, kenapa aku sebucin ini.
“Rin…,Rini...", suara Bubu terus memanggilku. "Kamu baik-baik saja kan...?” Aku pun kaget dan terbangun dari rasa tidak percaya ini. “Ya…iiiiya, aku baik-baik saja kow. Ini kulihat dulu nomor HP-nya, nanti kukirimkan via WA ya....”, kataku padanya. ”Ohw syukurlah, kalau kamu baik-baik saja, ok terima kasih ya, kamu memang sahabatku yang paling baik dan pengertian”, kata Rido.
Huff,, ternyata aku hanya seorang sahabat di matanya. Aku memang bodoh. Sambil ku kepal kuat-kuat tanganku sebagai bentuk penguatan diri, serta kumaki-maki diriku sendiri dalam hati, ingin sekali aku memukul-mukul kepalaku, mengobrak-abrik apa yang ada di depanku, tetapi tidak bisa. Semuanya hanya ku tahan dalam hati.
Pada akhirnya aku memahami bahwa mulai hari ini aku belajar merelakan perasaan yang bertepuk sebelah tangan. Belajar bahwa terkadang yang paling menyakitkanbukanlah mengetahui seseorang tidak mencintai kita, tetapi bahwa selama ini kita hanya dianggap sebagai sahabat baiknya, sementara kita diam-diam berharap menjadi seseorang yang lebih istimewa di hatinya. Dan itulah kisah... Aku dan Rido, sang sahabat yang kuanggap cinta.
SEKIAN
Baca Juga:
Tentang Penulis
Andreas Neke, S.Ag., B.Th.
Pendidik dan penulis asal Flores, Nusa Tenggara Timur.
→ Lihat Profil PenulisMenyukai tulisan tentang makna hidup dan pergulatan manusia?
Temukan gagasan lebih mendalam dalam buku Remaja dan Pergumulan Jati Dirinya.
Lihat Buku →