ADVERTISEMENT
Humaniora

Ketika Pecundang Tak Mampu Melawan, Ia Mencari Pasukan

Andreas Neke. 26 August 2026 78 kali dibaca
Ketika Pecundang Tak Mampu Melawan, Ia Mencari Pasukan

Ada seseorang yang tidak mampu menyelesaikan persoalannya secara langsung. Ia tidak datang untuk berbicara, tidak berani menyampaikan keberatan, bahkan mungkin tidak memiliki keberanian untuk menatap matamu. Sebaliknya, ia mulai bercerita kepada orang lain. Satu orang diajak membenci, kemudian dua, tiga, bahkan sebuah kelompok perlahan digiring untuk memusuhi.


Di permukaan, tampaknya orang tersebut memiliki banyak orang yang berada di pihaknya. Tetapi jika dilihat lebih dalam, ada sebuah ironi bahwa semakin banyak orang yang dikumpulkan untuk melawanmu, semakin jelas bahwa orang tersebut tidak mampu menghadapi dirimu seorang diri.


Ini bukan berarti bahwa setiap orang yang berbeda pendapat dengan kita adalah pecundang. Perbedaan, kritik, dan bahkan pertentangan adalah bagian normal dari kehidupan. Yang menjadi persoalan adalah ketika seseorang tidak mampu menyelesaikan konflik secara dewasa, tetapi membangun barisan kebencian untuk menyerang orang lain.


Dalam psikologi sosial, seseorang yang merasa tidak memiliki kekuatan menghadapi lawannya secara langsung dapat mencari dukungan kelompok untuk memperoleh rasa aman. Ia mungkin mengalami rasa terancam, rendah diri, takut kehilangan posisi, atau tidak yakin mampu memenangkan argumentasi jika berhadapan secara langsung.


Oleh karena itu, orang tersebut membutuhkan “penguat” untuk mendukungnya. Teman dijadikan alat validasi. Cerita dibentuk sedemikian rupa agar dirinya tampak sebagai korban dan orang lain menjadi pelaku kesalahan. Fakta bisa dipilih sebagian, konteks dipotong, bahkan keburukan lawan diperbesar. Tujuannya bukan lagi mencari kebenaran, tetapi membangun persepsi. Di sinilah konflik pribadi berubah menjadi konflik kelompok.


Secara psikologis, pengerahan orang lain dapat memberikan ilusi kekuatan. Seseorang merasa lebih berani karena ia tidak sendirian. Ia memperoleh keberanian bukan dari kualitas argumentasinya, melainkan dari jumlah orang yang berdiri di belakangnya. Namun demikian, jumlah tidak selalu identik dengan kebenaran.


Sepuluh orang yang mengulang informasi yang salah tidak otomatis membuat informasi itu menjadi benar. Sebuah kelompok yang membenci seseorang tidak otomatis membuktikan bahwa orang tersebut bersalah. Oleh karena itu, jangan terlalu takut ketika seseorang mengajak orang lain memusuhi diri kita. Bisa jadi yang sedang dibangun bukan kekuatan, melainkan benteng psikologis untuk menutupi ketidakmampuan menghadapi persoalan secara langsung.


Secara sosiologis, manusia adalah makhluk sosial. Kita hidup dalam jaringan keluarga, pertemanan, komunitas, organisasi, dan masyarakat. Oleh karena itu, ketika sebuah konflik muncul, seseorang dapat menggunakan jaringan sosialnya untuk memperoleh dukungan. Masalahnya, dukungan sosial bisa berubah menjadi alat tekanan sosial. Seseorang tidak lagi berkata, “Saya memiliki masalah denganmu.” Tetapi, ia mulai berkata, “Kita semua bermasalah dengan dia.”


Kata “saya” berubah menjadi “kami”. Perubahan kecil ini sangat penting. Konflik personal mendapatkan legitimasi kelompok. Orang-orang yang sebenarnya tidak mengetahui persoalan secara utuh, akhirnya ikut mengambil posisi hanya karena mempercayai orang yang lebih dahulu bercerita. Fenomena semacam ini sering terjadi dalam lingkungan kerja, organisasi, komunitas, dan bahkan keluarga sekalipun. Seseorang membangun kubu bukan untuk menyelesaikan masalah, tetapi untuk memenangkan pertarungan sosial.


Dalam situasi seperti ini, kebenaran sering kalah oleh narasi. Yang paling banyak didengar dianggap paling benar. Yang paling banyak memiliki pendukung dianggap paling kuat. Padahal, sejarah manusia berkali-kali menunjukkan bahwa mayoritas tidak selalu benar. Semakin banyak orang tidak berarti semakin benar.


Namun demikian, masyarakat yang sehat bukan masyarakat tanpa konflik. Masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang memiliki mekanisme untuk menyelesaikan konflik tanpa mengubah perbedaan menjadi permusuhan.


Pada titik ini, kita perlu berhati-hati dengan istilah pemenang dan pecundang. Jika seseorang mengajak banyak orang untuk memusuhi kita, kita mungkin tergoda mengatakan untuk menyebut seseorang itu pecundang atau pemenang, tetapi kemenangan yang sesungguhnya tidak sesederhana itu.


Dalam perspektif filosofis, kemenangan bukan hanya tentang siapa yang berhasil menjatuhkan siapa. Kemenangan yang lebih mendalam adalah kemampuan untuk tetap menjadi manusia yang waras ketika orang lain berusaha menyeret kita ke dalam kebencian.


Socrates mengajarkan pentingnya menguji kehidupan melalui refleksi. Dalam konflik, pertanyaan terpenting bukan hanya, “Siapa yang menang?” tetapi juga, “Apakah cara saya menghadapi konflik membuat saya menjadi manusia yang lebih baik?”


Nietzsche mengingatkan bahwa orang yang terlalu lama menatap kebencian berisiko berubah menjadi seperti apa yang ia benci. Oleh karena itu, ketika seseorang mengajak orang lain memusuhi kita, jangan sampai kebenciannya menjadi identitas, dalam mana kita menjadi penjahat dan pembenci, sama seperti orang yang membenci diri kita. Dengannya menjadi penting untuk tidak membalas fitnah dengan fitnah, kerumunan dengan kerumunan, dan tidak membangun pasukan kebencian hanya karena orang lain terlebih dahulu melakukannya.


Kita patut menyadari bahwa ketika ikut melakukan hal yang sama, kita sebenarnya tidak memenangkan apa-apa. Kita hanya mengganti posisi dalam permainan yang sama, padahal pemenang sejati tidak membutuhkan kerumunan untuk membuktikan dirinya


Ada orang yang terlihat kuat karena selalu dikelilingi banyak orang, tetapi kekuatan yang sesungguhnya justru terlihat ketika seseorang mampu berdiri sendiri tanpa kehilangan martabatnya. Orang yang matang tidak selalu membutuhkan banyak orang untuk membenarkan dirinya. Ia mampu berkata, “Saya tidak setuju,” lalu menjelaskan alasannya. Ia mampu menyampaikan keberatan tanpa menghancurkan karakter orang lain. Dan, ia mampu mengkritik tindakan seseorang tanpa harus membangun kebencian terhadap pribadi.


Itulah kedewasaan. Sebaliknya, ketika seseorang terus-menerus mengumpulkan orang untuk membenci seseorang, kita patut menyoal mengapa ia tidak mampu menyelesaikannya secara langsung. Ini artinya bahwa boleh saja karena takut, tidak memiliki argumentasi yang cukup kuat, membutuhkan dukungan psikologis, atau mungkin karena memang lebih nyaman bermain di belakang layar daripada berhadapan secara terbuka. Apa pun alasannya, kita tidak perlu ikut masuk ke dalam jenis permainan seperti itu.


Di zaman media sosial dewasa ini, persoalan yang demikian menjadi semakin serius. Satu unggahan dapat mengundang ratusan komentar. Satu potongan video dapat membentuk opini. Satu cerita yang belum terverifikasi dapat berubah menjadi “kebenaran” karena dibagikan berkali-kali. Orang dapat membangun kelompok pendukung hanya dengan beberapa pesan di grup WhatsApp atau beberapa unggahan di media sosial. Oleh karena itu, kita membutuhkan kedewasaan digital.


Jangan mudah percaya pada cerita sepihak. Jangan ikut membenci seseorang hanya karena teman kita membencinya. Jangan menjadi pengeras suara bagi konflik yang tidak kita pahami. Dan, bagi kita yang sedang menjadi sasaran, janganlah panik ketika seseorang mengajak orang lain untuk memusuhi kita.


Ini berarti kita harus tetap tenang, memeriksa diri, dan jika memang bersalah, akui dan perbaiki. Jika tidak bersalah, jangan kehilangan martabat hanya karena tekanan sosial, karena tidak semua serangan membutuhkan balasan, tidak semua tuduhan membutuhkan pembelaan panjang, dan tidak semua orang harus diyakinkan tentang siapa diri kita masing-masing.


Pada akhirnya, waktu sering kali menjadi hakim yang lebih jujur daripada kerumunan. Karakter seseorang tidak ditentukan oleh cerita orang lain tentang dirinya, melainkan oleh konsistensi hidupnya. Jika seseorang harus mengumpulkan banyak orang untuk melawanmu, jangan buru-buru menyebut dirimu pemenang. Tunjukkan saja kedewasaanmu, sebab kemenangan paling tinggi bukan ketika semua orang berdiri di pihak kita.


Kemenangan sejati adalah ketika kita masing-masing tetap mampu berdiri tegak, tidak membenci, tidak membalas dengan cara yang sama, dan tidak kehilangan diri sendiri, walaupun orang lain berusaha menjadikan diri kita sebagai musuh bersama. Orang yang benar-benar kuat tidak membutuhkan pasukan kebencian, tetapi cukup memiliki keberanian untuk berhadapan dengan kebenaran tanpa kebencian dan kemunafikan.



ADVERTISEMENT
Andreas Neke

Tentang Penulis

Andreas Neke, S.Ag., B.Th.

Pendidik dan penulis asal Flores, Nusa Tenggara Timur.

→ Lihat Profil Penulis

Menyukai tulisan tentang makna hidup dan pergulatan manusia?

Temukan gagasan lebih mendalam dalam buku Remaja dan Pergumulan Jati Dirinya.

Lihat Buku →
Remaja dan Pergumulan Jati Dirinya