Kenyang, Nyaman, dan Nyenyak dari Keringat Orang Lain
Ada sebuah pemandangan yang barangkali sudah terlalu sering kita lihat hingga akhirnya terasa sangat biasa. Di sebuah meja makan, makanan tersaji melimpah. Di kursi-kursi empuk, orang-orang berbincang dan tertawa lepas. Di malam hari, tubuh-tubuh yang tidak lagi memikirkan kebutuhan esok hari dapat beristirahat di atas kasur yang nyaman. Semuanya tampak baik-baik saja. Dan, tidak ada yang salah dengan menikmati makanan yang cukup, memiliki tempat duduk yang nyaman, atau tidur dengan tenang, karena setiap manusia memang berhak menikmati hasil keringat dari perjuangan hidupnya.
Namun demikian, ada satu pertanyaan yang sering luput dari realitas yang demikian: dari mana semua kenyamanan itu berasal? Pertanyaan tersebut menjadi penting ketika kemakmuran seseorang ternyata tidak dibangun terutama dari kerja kerasnya sendiri, melainkan dari tenaga, waktu, pikiran, bahkan penderitaan orang lain yang tidak mendapatkan penghargaan dan hak secara layak. Pada titik itulah kenyamanan tidak lagi sekadar menjadi buah dari sebuah keberhasilan, tetapi berubah menjadi tanda sebuah ketimpangan yang disembunyikan di balik penampilan yang rapi dan kehidupan yang tampak sempurna.
Kita hidup dalam realitas masyarakat yang sering kali lebih mudah melihat hasil daripada proses. Orang yang datang dengan mobil bagus dianggap berhasil. Mereka yang tinggal di rumah besar dipandang mapan. Orang yang mampu makan di tempat mewah dianggap memiliki kehidupan yang patut dikagumi. Tetapi jarang sekali kita bertanya siapa yang bekerja ketika mereka beristirahat, siapa yang menanggung beban ketika mereka menikmati hasil, dan siapa yang kehilangan waktu bersama keluarganya agar seseorang dapat hidup jauh lebih nyaman.
Di sinilah persoalan moral sesungguhnya bermula, karena kita tahu bahwa tidak semua kekayaan adalah hasil eksploitasi, dan tidak semua kenyamanan harus dicurigai. Banyak orang menikmati kehidupan yang baik karena bekerja keras, membangun usaha, mengambil risiko, menabung, berinovasi, dan menjalani proses panjang dengan penuh ketekunan. Kita patut menghargai keberhasilan semacam itu.
Yang patut kita refleksikan adalah ketika seseorang memperoleh kenyamanan dengan cara mengorbankan orang lain secara tidak adil; ketika tenaga manusia diperlakukan hanya sebagai alat untuk menghasilkan keuntungan, ketika waktu orang lain dianggap murah, ketika pikiran dan kreativitas seseorang digunakan, tetapi penghargaan tidak diberikan secara pantas. Dan, lebih buruk lagi ketika mereka yang paling banyak menikmati hasil justru menjadi pihak yang paling sedikit mengambil tanggung jawab.
Di sekitar kita, bentuk yang demikian bisa sangat halus. Seorang pekerja diminta memberikan tenaga lebih banyak, tetapi imbalannya tidak sebanding. Seorang bawahan dipaksa menanggung kesalahan atas keputusan yang dibuat atasannya. Orang-orang di lapisan bawah bekerja sampai kelelahan, sementara mereka yang berada di posisi atas menikmati hasilnya tanpa merasa perlu mengetahui bagaimana hasil itu diperoleh.
Kadang-kadang eksploitasi bahkan dibungkus dengan kata-kata yang terdengar indah: loyalitas, pengabdian, kebersamaan, solidaritas, atau demi kepentingan bersama. Kata-kata tersebut sebenarnya tidak salah. Yang menjadi masalah adalah ketika kata-kata luhur digunakan untuk menutupi ketidakadilan. Pengabdian bukan alasan untuk menghilangkan hak seseorang. Loyalitas bukan tiket untuk memperlakukan manusia sesuka hati. Dan, kebersamaan bukan pembenaran untuk membebankan seluruh risiko kepada pihak yang paling lemah.
Kita patut menyadari bahwa manusia bukan mesin produksi. Ia memiliki keluarga yang ingin ditemui, anak-anak yang ingin dipeluk, tubuh yang membutuhkan istirahat, pikiran yang membutuhkan ruang, dan masa depan yang ingin diperjuangkan. Oleh karena itu, ketika seseorang mengambil waktu, tenaga, dan pikiran orang lain tanpa memberikan penghargaan yang layak, yang sebenarnya sedang diambil bukan hanya tenaga kerja. Yang sedang dirampas adalah bagian dari kehidupan manusia yakni keluarga, anak-anak, tubuh, pikiran dan masa depan.
Inilah yang membuat eksploitasi menjadi persoalan kemanusiaan, dan bukan sekadar persoalan ekonomi. Kita sering berbicara tentang kesejahteraan, tetapi kesejahteraan siapa yang sesungguhnya sedang kita maksud? Apakah kesejahteraan hanya milik mereka yang berada di puncak? Ataukah kesejahteraan harus juga dirasakan oleh mereka yang setiap hari menggerakkan roda kehidupan dari bawah?
Sebuah perusahaan mungkin terlihat maju. Sebuah lembaga mungkin terlihat berhasil. Sebuah organisasi mungkin tampak profesional. Namun demikian, ukuran keberhasilannya tidak seharusnya hanya dilihat dari gedung yang megah, laporan keuangan yang bagus, atau penghargaan yang terpajang di dinding. Kita juga perlu melihat bagaimana orang-orang yang bekerja di dalamnya diperlakukan; Apakah mereka dihargai? Apakah suara mereka didengar? Apakah hak mereka dilindungi? Apakah mereka memperoleh bagian yang adil dari hasil yang ikut mereka ciptakan?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini menjadi cermin yang paling jujur, sebab sebuah sistem dapat terlihat indah dari luar, tetapi menyimpan penderitaan di dalamnya. Ada orang yang tersenyum di ruang rapat, sementara di tempat lain seseorang sedang menghitung sisa uang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Ada yang berbicara tentang pertumbuhan dan keuntungan, sementara orang lain bahkan tidak tahu apakah pendapatannya cukup untuk bertahan sampai akhir bulan.
Ketimpangan semacam ini tidak selalu hadir dengan wajah yang kasar. Ia dapat tampil sangat sopan, mengenakan pakaian yang rapi, berbicara dengan bahasa yang halus, dan bahkan mengutip nilai-nilai moral. Justru karena itulah ia menjadi berbahaya. Ketidakadilan yang kasar lebih mudah dikenali, tetapi ketidakadilan yang dibungkus dengan keramahan sering kali lebih sulit dilawan.
Lebih menyedihkan lagi ketika persoalan muncul, mereka yang paling menikmati keuntungan justru menjadi orang yang paling pertama melepaskan diri dari tanggung jawab. Kesalahan dilempar kepada bawahan. Kerugian dibebankan kepada orang lain. Keputusan yang dahulu dibuat bersama-sama tiba-tiba seolah-olah tidak pernah melibatkan mereka.
Inilah budaya “lempar batu, sembunyi tangan”. Ketika keadaan baik, mereka tampil paling depan. Ketika keuntungan datang, mereka menerima bagian terbesar. Namun, ketika masalah muncul, mereka mencari orang lain untuk dijadikan kambing hitam. Sikap semacam ini bukan hanya persoalan kepemimpinan yang buruk. Ia menunjukkan adanya persoalan kecacatan karakter.
Orang yang benar-benar bertanggung jawab seharusnya bersedia berdiri di depan ketika keputusan yang dibuatnya menghasilkan masalah. Ia tidak bersembunyi di balik jabatan, kekuasaan, atau orang-orang yang berada di bawahnya. Semakin besar kekuasaan yang dimiliki seseorang, seharusnya semakin besar pula tanggung jawab moral yang dipikulnya.
Kita barangkali perlu kembali belajar sebuah hal sederhana bahwa menikmati hasil kerja orang lain bukanlah dosa. Kehidupan manusia memang dibangun melalui kerja sama. Kita semua menikmati hasil kerja orang lain setiap hari. Kita makan nasi yang ditanam petani, menggunakan jalan yang dibangun pekerja, belajar dari guru, menikmati layanan berbagai profesi, dan menggunakan banyak produk yang dibuat oleh tangan orang lain.
Persoalannya bukan pada menikmati hasil kerja orang lain. Persoalannya adalah apakah orang yang menghasilkan sesuatu tersebut juga mendapatkan hak dan penghargaan yang pantas. Di sinilah letak perbedaannya antara kerja sama dan eksploitasi. Dalam kerja sama, ada penghargaan. Ada timbal balik. Ada rasa saling membutuhkan. Seseorang mendapatkan manfaat, tetapi orang lain juga tidak dibiarkan kehilangan martabatnya.
Dalam eksploitasi, yang satu menikmati, sementara yang lain dikorbankan. Yang satu tidur nyenyak, sementara yang lain bekerja tanpa kepastian. Yang satu memperoleh keuntungan, sementara yang lain menanggung risiko. Yang satu bebas mencuci tangan, sementara yang lain dipaksa membersihkan akibat dari keputusan yang tidak pernah sepenuhnya menjadi miliknya.
Oleh karena itu, kesejahteraan tidak boleh hanya diukur dari seberapa banyak seseorang mampu mengumpulkan untuk dirinya sendiri. Kita juga perlu bertanya: berapa banyak manusia yang menjadi lebih baik karena keberhasilan itu, sebab keberhasilan yang hanya membuat satu orang hidup semakin nyaman sementara banyak orang lain semakin tertekan patut direnungkan kembali maknanya.
Kita tidak sedang mengatakan bahwa semua orang harus hidup sama. Kesetaraan bukan berarti semua manusia memiliki rumah yang sama, pendapatan yang sama, atau kehidupan yang sama. Manusia memiliki kemampuan, pilihan, kesempatan, dan perjalanan hidup yang berbeda. Namun demikian, setiap perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk menghilangkan keadilan.
Orang boleh kaya. Orang boleh hidup nyaman. Orang boleh menikmati hasil kerja kerasnya. Tetapi kenyamanan itu menjadi jauh lebih bermartabat ketika tidak dibangun di atas penderitaan orang lain. Sebab pada akhirnya, manusia tidak hanya dinilai dari apa yang dimilikinya, tetapi juga dari cara ia memperolehnya. Ada orang yang memiliki sedikit, tetapi hidupnya penuh kehormatan karena tidak mengambil hak orang lain. Ada pula yang memiliki banyak, tetapi kehidupannya meninggalkan luka di mana-mana. Di hadapan hati nurani, perbedaan antara keduanya sangat besar.
Oleh karena itu, kita perlu sesekali berhenti dari kesibukan mengejar keberhasilan dan bertanya kepada diri sendiri: siapa yang menjadi lebih baik karena kehadiran saya? Pertanyaan ini amat sederhana, tetapi tidak selalu mudah dijawab. Apakah orang-orang yang bekerja bersama kita merasa dihargai? Apakah mereka dapat membawa pulang hasil yang cukup untuk keluarganya? Apakah kita pernah mendengarkan keluhan mereka? Apakah ketika terjadi kesalahan kita berani mengakui bagian kesalahan kita sendiri? Ataukah kita hanya hadir ketika keuntungan datang dan menghilang ketika persoalan muncul?
Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin tidak akan membuat kita menjadi lebih kaya. Namun demikian, dapat membuat kita menjadi manusia yang lebih utuh. Kehidupan yang baik bukan hanya tentang perut yang kenyang, kursi yang empuk, rumah yang nyaman, atau tidur yang nyenyak. Kehidupan yang baik juga tentang kemampuan menikmati semuanya tanpa harus merasa malu karena ada orang lain yang dikorbankan demi kenyamanan tersebut.
Ada ketenangan yang tidak dapat dibeli dengan uang: ketenangan karena tahu bahwa rezeki yang kita nikmati tidak dibangun dari penindasan; bahwa keberhasilan yang kita rayakan tidak menghancurkan kehidupan orang lain; bahwa orang-orang yang bekerja bersama kita tidak merasa menjadi alat yang sewaktu-waktu dapat dibuang.
Pada akhirnya, meja makan yang penuh tidak selalu berarti kehidupan yang kaya. Rumah yang besar tidak selalu berarti hati yang lapang. Kasur yang empuk tidak selalu menghadirkan tidur yang damai; sebab ada kekayaan yang terlihat oleh mata, dan ada kemiskinan yang hanya diketahui oleh hati nurani.
Kita tentu berharap tidak menjadi bagian dari manusia yang hidup nyaman dengan merampas kenyamanan orang lain. Kita tidak ingin menjadi mereka yang makan enak karena orang lain kelaparan, duduk santai karena orang lain kelelahan, atau tidur nyenyak karena orang lain harus menanggung akibat dari kesalahan yang tidak mereka buat.
Kalau hari ini kita sedang berada dalam posisi yang lebih kuat, mungkin sudah saatnya kita melihat ke bawah bukan untuk merasa lebih tinggi, melainkan untuk memastikan bahwa tidak ada orang yang sedang kita injak agar kita dapat berdiri. Ukuran kemanusiaan bukan hanya seberapa tinggi kita mampu berdiri, tetapi juga seberapa banyak orang yang tidak kita jatuhkan ketika kita sedang naik. Dan pertanyaan yang paling penting bukanlah “seberapa nyaman hidup saya?”, melainkan “apakah kenyamanan hidup saya juga menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi orang lain?”
Jika jawabannya iya, maka kenyamanan itu layak disyukuri, tetapi manakala kenyamanan kita ternyata dibangun dari keringat, waktu, hak, dan masa depan orang lain yang kita abaikan, mungkin sudah waktunya kita berhenti sejenak, menatap kehidupan dengan lebih jujur, dan bertanya kepada diri sendiri: benarkah kita sedang menikmati keberhasilan, atau sebenarnya sedang menikmati hasil dari ketidakadilan?
Baca Juga:
Tentang Penulis
Andreas Neke, S.Ag., B.Th.
Pendidik dan penulis asal Flores, Nusa Tenggara Timur.
→ Lihat Profil PenulisMenyukai tulisan tentang makna hidup dan pergulatan manusia?
Temukan gagasan lebih mendalam dalam buku Remaja dan Pergumulan Jati Dirinya.
Lihat Buku →