IBU: Pelukan, Masakan, dan Mata Hati yang Tak Pernah Tuli
Ada rumah yang dibangun dari batu dan ada pula yang dibangun dari kayu. Namun, ada rumah yang dibangun dari aroma masakan, suara tawa, dan pelukan hangat seorang ibu. Rumah masa kecil saya termasuk yang kedua. Ia berdiri sederhana di sebuah dusun kecil di tanah Bajawa, di antara banyaknya kebun kopi, jagung, buncis, kabut yang turun perlahan, dan dingin yang selalu menyelusup di sela-sela pagi.
Di rumah itu, Ibu adalah matahari bagi kami berlima. Ia perempuan yang cantik. Bukan hanya karena wajahnya yang menawan, tetapi karena kecantikannya seperti memiliki sumber cahaya sendiri. Terik matahari yang setiap hari membakar kulitnya ketika bekerja di kebun tidak pernah benar-benar mampu memadamkan cahaya itu. Bahkan ketika tubuhnya lelah dan pakaiannya penuh tanah, ia selalu memiliki senyum yang sama ketika melihat kami pulang.
Bagi saya, Ibu bukan sekadar seorang perempuan yang melahirkan kami. Ia adalah dunia pertama, tempat kami belajar tentang kasih. Dan, dapurnya adalah salah satu ruangan paling ajaib yang pernah saya kenal. Tidak ada restoran mewah yang mampu menandingi masakan Ibu. Tidak ada koki terkenal yang dapat menggantikan rasa yang lahir dari tangannya. Mungkin secara bahan, masakannya sederhana. Tidak ada bumbu mahal, tidak ada peralatan canggih, tidak ada meja makan yang dihias indah.
Namun, ada sesuatu yang tidak pernah tercatat dalam resep mana pun, yakni cinta. Setiap kali Ibu memasak, seolah-olah ia sedang meramu kasih sayang ke dalam makanan. Setiap butir nasi, setiap sayur yang dipetik dari kebun, setiap lauk yang disajikan, terasa seperti cara diam-diam seorang ibu berkata, “Aku mencintaimu.” Karena itu, sampai hari ini saya percaya bahwa makanan paling lezat dalam hidup saya bukanlah makanan yang disajikan di restoran mana pun.
Makanan paling lezat itu pernah keluar dari dapur kecil Ibu. Di sana, saya belajar bahwa cinta tidak selalu berbentuk kata-kata. Kadang cinta berbentuk sepiring nasi hangat yang sudah tersedia ketika kami pulang dalam keadaan lapar. Kadang ia berupa secangkir air putih. Kadang berupa tangan yang diam-diam menambahkan lauk ke piring anaknya, sementara dirinya sendiri memilih makan paling akhir. Dan sering kali, cinta seorang ibu hadir tanpa pernah menyebut namanya.
Ibu juga memiliki satu kebiasaan yang sampai sekarang sulit saya lupakan, yakni selalu memuliakan tamu. Siapa pun yang datang ke rumah kami, ia akan menyambut dengan wajah cerah. Tidak pernah terpikir olehnya bahwa kemiskinan boleh menjadi alasan untuk mempermalukan seorang tamu.
Jika dapur sedang kosong, ia akan mencari jalan. Jika tidak ada lauk, ia akan mengusahakan sesuatu. Jika hanya ada kopi, maka kopi Bajawa pun akan diseduh dengan sepenuh hati. “Yang penting tamu jangan pulang dengan perut kosong,” begitu kira-kira prinsip hidupnya.
Ia tidak banyak bicara tentang kasih kepada sesama. Ia menjalankannya. Mungkin itulah sebabnya rumah kami, meskipun sederhana, tidak pernah terasa miskin. Ada tawa di dalamnya. Ada orang datang dan pergi. Ada cerita yang bertukar di meja makan. Ada aroma kopi yang menghangatkan udara. Dan ada seorang perempuan yang selalu merasa bahagia ketika orang lain merasa nyaman di rumahnya.
Ibu memang begitu. Ia lebih mudah memikirkan kebutuhan orang lain daripada kebutuhannya sendiri. Ayah dan Ibu adalah pasangan pekerja keras. Pagi-pagi mereka berangkat ke kebun. Kadang mereka bekerja di antara jagung yang menjulang. Kadang memetik buncis. Kadang merawat tanaman kopi yang menjadi bagian penting dari kehidupan kami.
Saya sering melihat mereka pulang menjelang sore. Pakaian mereka penuh keringat dan aroma tanah. Wajah mereka dibakar matahari. Tangan mereka kasar. Tetapi entah bagaimana, senyum Ibu tetap ada. Saya dahulu menganggapnya biasa. Bukankah memang begitu seharusnya seorang ibu?
Sekarang, setelah waktu berjalan jauh, saya baru memahami bahwa apa yang dahulu saya anggap biasa ternyata adalah sebuah pengorbanan yang luar biasa. Ada manusia yang mencintai kita dengan cara menghabiskan tenaganya sendiri agar kita tidak kekurangan. Dan sering kali kita baru menyadarinya ketika tenaga itu telah habis untuk selamanya.
Ibu memiliki sedikit keterbatasan pendengaran. Kadang ia sulit menangkap kalimat yang panjang atau percakapan yang terlalu cepat. Tetapi ada sesuatu yang jauh lebih kuat daripada pendengarannya. Ia memiliki mata hati. Mata itu tidak pernah tuli.
Sebagai anak sulung, saya sering dibuat takjub oleh kemampuannya memahami sesuatu yang bahkan belum sempat saya katakan. Ketika saya pulang dengan wajah murung, ia tahu ada sesuatu yang tidak beres. Ketika saya sedang sakit, ia tahu bahkan sebelum saya mengeluh. Ketika hati saya sedang sesak, ia mampu membaca kegelisahan itu hanya dari cara saya duduk.
Ia mungkin tidak selalu mendengar suara saya. Tetapi ia mendengar sesuatu yang lebih dalam. Ia mendengar bahasa tubuh. Ia membaca mata. Ia memahami diam. Dan mungkin itulah keajaiban terbesar seorang ibu, ketika telinga tidak mampu menangkap semuanya, hati justru membuka pendengaran yang lebih luas.
Saya sering berpikir, barangkali kasih membuat seseorang memiliki indra keenam untuk memahami anaknya. Ibu tidak perlu bertanya terlalu banyak. Ia cukup memandang. Dan saya merasa dimengerti. Ada satu warisan Ibu yang tidak pernah bisa saya jual, tidak pernah bisa saya gadaikan, dan tidak akan pernah habis dimakan waktu.
Bukan tanah. Bukan rumah. Bukan kebun. Melainkan sebuah nasihat. “Kerja keras dan jujur.” Kalimat itu sederhana, tetapi menjadi semacam kompas dalam perjalanan hidup saya. “Jangan pernah menyentuh yang bukan milikmu,” katanya. Lalu ia menambahkan sesuatu yang jauh lebih dalam: “Namun, jangan pernah takut kalau hakmu diinjak-injak.”
Di dalam kalimat itu ada dua ajaran sekaligus. Jangan mengambil milik orang lain. Tetapi jangan pula menyerahkan harga dirimu kepada ketidakadilan.
Ibu mengajarkan bahwa kemiskinan bukan alasan untuk mencuri. Kesederhanaan bukan alasan untuk berbohong. Dan menjadi orang kecil bukan berarti harus kehilangan keberanian untuk mempertahankan kebenaran.
Ia mungkin tidak pernah membaca buku-buku filsafat. Ia mungkin tidak pernah belajar teori etika. Tetapi dalam hidupnya, ia telah menjalankan filsafat yang paling sederhana dan paling sulit, yaknni bekerja dengan jujur, hidup dengan tulus, dan tetap menjaga martabat.
Lalu suatu hari, kehidupan berubah dalam satu malam. Ibu sakit. Hanya sehari. Saya mengira itu sakit biasa. Saya pikir besok ia akan bangun lagi, berjalan ke dapur, menyiapkan makanan, tertawa, lalu kembali ke kebun. Saya tidak tahu bahwa hari itu adalah hari terakhir saya melihatnya berdiri.
Tidak ada tanda-tanda panjang yang mempersiapkan kami untuk kehilangan. Tidak ada waktu untuk berkata banyak. Tidak ada percakapan panjang di sisi tempat tidurnya. Tidak ada kesempatan bagi saya untuk menyuapinya makanan terakhir. Tidak ada kesempatan untuk berkata, “Ibu, sekarang biar saya yang melayani.”
Kematian datang seperti pencuri yang tidak mengetuk pintu. Ia mengambil Ibu terlalu cepat. Dan, meninggalkan saya dengan sebuah kalimat yang sampai hari ini belum selesai saya ucapkan: Terima kasih, Ibu.
Setelah Ibu pergi, rumah terasa berubah. Dapurnya masih ada. Peralatannya masih ada. Kebun masih tumbuh. Kopi masih berbunga. Jagung masih menguning. Buncis masih menghijau. Tetapi sesuatu yang tidak terlihat telah hilang dari rumah itu. Suara Ibu. Tawanya. Langkah kakinya. Aroma masakannya. Dan terutama, seseorang yang selalu tahu bagaimana membuat rumah terasa seperti rumah.
Saya baru menyadari bahwa kehadiran seseorang sering kali baru terasa paling besar ketika ia tidak lagi ada. Dulu saya mengira dapur hanyalah tempat memasak. Setelah Ibu pergi, saya mengerti bahwa dapur adalah tempat ia menitipkan sebagian hidupnya kepada kami. Setiap panci yang pernah disentuhnya seakan menyimpan cerita. Setiap sendok seperti menyimpan kenangan. Setiap aroma masakan menjadi pintu menuju masa lalu. Dan setiap kali saya mencium sesuatu yang mengingatkan saya pada masakannya, hati saya seperti kembali menjadi seorang anak kecil yang menunggu ibunya pulang dari kebun.
Penyesalan adalah tamu yang paling sulit diusir dari rumah hati. Saya menyesal karena belum sempat melayani Ibu sebagaimana ia melayani kami. Bertahun-tahun ia memasak untuk kami. Bertahun-tahun ia mencuci, membersihkan, bekerja, berkebun, dan menjaga kami. Lalu ketika akhirnya tiba waktunya bagi saya untuk membalas semuanya, waktu justru menutup pintu lebih cepat.
Saya sering membayangkan seandainya Ibu masih ada. Saya ingin mengatakan:
“Ibu, duduklah. Jangan bekerja lagi.”
“Ibu, biar saya yang memasak.”
“Ibu, sekarang giliran saya yang merawatmu.”
Tetapi semua kalimat itu kini hanya memiliki tempat di dalam doa. Dan mungkin itulah luka paling dalam dari kehilangan: bukan hanya karena seseorang telah pergi, tetapi karena begitu banyak cinta yang masih ingin kita berikan kepada orang yang sudah tidak dapat menerimanya secara langsung.
Namun, semakin lama saya memikirkan kepergian Ibu, semakin saya menyadari bahwa mungkin cinta tidak pernah benar-benar kehilangan jalan pulang. Mungkin Ibu tidak lagi dapat mendengar suara saya dengan telinganya, tetapi saya percaya ia memahami suara hati saya. Mungkin ia tidak lagi dapat melihat saya dengan mata jasmaninya, tetapi saya percaya cinta tidak berhenti hanya karena kematian menutup sepasang mata. Dan mungkin semua kata yang tidak sempat saya ucapkan telah sampai kepadanya melalui cara yang tidak saya mengerti. Karena seorang ibu tidak pernah benar-benar berhenti menjadi ibu hanya karena ia telah meninggalkan dunia.
Ia tetap hidup dalam cara anaknya memperlakukan orang lain. Ia hidup dalam kejujuran yang dipertahankan ketika tidak ada yang melihat. Ia hidup dalam keberanian untuk bekerja keras ketika hidup terasa berat. Ia hidup dalam tangan yang memberi tanpa menuntut kembali. Ia hidup dalam kesediaan menyambut tamu meski persediaan terbatas. Ia hidup dalam hati yang tidak tega melihat orang lain pulang dengan perasaan kecewa. Dan ia hidup dalam setiap keputusan anaknya untuk tidak mengambil sesuatu yang bukan miliknya.
Kini, setiap kali saya melihat kebun, ada sesuatu yang bergerak di antara daun-daun. Bukan sosok yang benar-benar dapat disentuh. Melainkan ingatan. Ketika bunga kopi mulai bermekaran, saya teringat Ibu. Ketika jagung mulai menguning, saya teringat langkahnya.Ketika buncis mulai menghijau, saya seperti melihat tangannya kembali bekerja.
Kadang saya berdiri lama di tepi kebun. Saya memandang langit. Lalu dalam hati saya berkata: “Ibu, lihatlah. Saya masih berusaha menjalani hidup seperti yang dahulu engkau ajarkan.”
Saya mungkin belum menjadi anak yang sempurna. Saya mungkin pernah salah. Saya mungkin pernah mengecewakan, tetapi ada satu hal yang ingin terus saya jaga sampai akhir hidup, yakni jangan biarkan warisan Ibu mati dalam diri saya.
Kerja keras. Kejujuran. Ketulusan. Keberanian mempertahankan kebenaran. Itulah cara saya membalas kasihnya. Bukan dengan bunga yang akan layu. Bukan dengan kata-kata yang sebentar lalu hilang. Melainkan dengan menjadikan hidup saya sebagai perpanjangan dari nilai-nilai yang pernah ia tanamkan.
Ada orang yang mewariskan harta. Ada yang mewariskan tanah. Ada yang meninggalkan rumah besar dan nama yang panjang. Ibu meninggalkan sesuatu yang jauh lebih sederhana, tetapi jauh lebih berharga. Ia meninggalkan cara hidup. Ia meninggalkan teladan. Ia meninggalkan rasa. Dan yang paling penting, ia meninggalkan sebuah mata hati yang kini hidup di dalam anak-anaknya.
Mungkin itulah sebabnya sampai hari ini saya masih bisa merasakan kehadirannya. Setiap kali saya memasak atau mencium aroma makanan tertentu, saya seperti kembali menjadi anak kecil di dapur. Setiap kali saya melihat seseorang bekerja keras demi keluarganya, saya melihat Ibu. Setiap kali saya menyaksikan orang miskin tetap memilih jujur, saya mendengar suaranya. Dan setiap kali saya berada dalam keadaan di mana kejujuran terasa mahal, nasihatnya kembali mengetuk hati: “Jangan pernah menyentuh yang bukan milikmu, tetapi jangan pernah takut jika hakmu diinjak-injak.”
Barangkali itulah cara Ibu masih berbicara. Bukan melalui telinga, melainkan melalui hati.
Ibu telah pergi. Dapur itu mungkin tidak lagi seramai dahulu. Kebun masih tumbuh tanpa dirinya. Kopi tetap berbunga tanpa menunggu tangannya. Jagung tetap menguning tanpa senyumnya, tetapi kasihnya tidak pernah ikut pergi.
Ia menetap dalam setiap anak yang pernah dipeluknya. Ia tinggal dalam setiap nilai yang pernah diajarkannya. Ia hidup dalam setiap makanan yang saya kenang. Dan ia terus mengalir dalam darah kehidupan kami.
Kini saya memahami sesuatu yang dahulu tidak pernah saya sadari. Masakan Ibu bukan sekadar makanan. Ia adalah bentuk lain dari pelukan. Setiap hidangan yang pernah ia letakkan di atas meja adalah doa yang tidak bersuara. Setiap senyum yang ia berikan setelah seharian bekerja adalah penghiburan. Setiap nasihat yang dahulu terasa biasa adalah bekal untuk perjalanan yang panjang. Dan setiap pengorbanannya adalah surat cinta yang baru bisa saya baca setelah ia pergi.
Seandainya waktu dapat diputar kembali, saya tidak akan meminta banyak. Saya hanya ingin satu kesempatan lagi. Satu pagi. Satu piring nasi dan sayur.Satu cangkir air putih. Satu percakapan sederhana. Lalu saya ingin memegang tangannya dan berkata: “Ibu, terima kasih karena sepanjang hidupmu, engkau telah mengajariku bahwa cinta tidak selalu harus didengar untuk dapat dirasakan.”
Tetapi waktu tidak pernah kembali. Maka saya memilih melanjutkan hidup dengan satu keyakinan, selama saya masih menjaga kejujuran, bekerja dengan sungguh-sungguh, memperlakukan sesama dengan tulus, dan berani berdiri di sisi kebenaran, maka sebagian dari Ibu masih hidup dalam diri saya.
Ibu memang telah beristirahat, tetapi kasihnya tidak pernah tidur. Ia menjadi aroma yang tinggal dalam ingatan. Menjadi doa yang tidak pernah selesai. Menjadi cahaya kecil yang menemani perjalanan. Dan menjadi bumbu paling sedap dalam setiap langkah hidup saya, sebab seorang ibu mungkin pergi dari rumah, tetapi ia tidak pernah benar-benar pergi dari hati anaknya.
Baca Juga:
Tentang Penulis
Andreas Neke, S.Ag., B.Th.
Pendidik dan penulis asal Flores, Nusa Tenggara Timur.
→ Lihat Profil PenulisMenyukai tulisan tentang makna hidup dan pergulatan manusia?
Temukan gagasan lebih mendalam dalam buku Remaja dan Pergumulan Jati Dirinya.
Lihat Buku →