Doa di Tengah Badai: Menemukan Kekuatan dalam Pengharapan
Mita adalah siswi kelas X yang sejak lama harus menjalani hari-harinya tanpa kehadiran kedua orang tuanya. Ayah dan ibunya merantau ke Kalimantan demi mencari penghidupan, sementara Mita tinggal bersama nenek dan tiga adiknya. Ia belajar menjadi kakak sekaligus penjaga kecil bagi keluarganya. Namun suatu hari, gempa bumi mengguncang kampung mereka. Rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung tidak lagi dapat dihuni. Mita, nenek, dan ketiga adiknya terpaksa tinggal sementara di kebun dengan segala keterbatasan yang ada. Di tengah keadaan tersebut, Mita tidak membiarkan ketakutan menguasai dirinya. Ia membantu nenek menyiapkan kebutuhan keluarga, menjaga adik-adiknya, dan terus memberikan peneguhan bahwa mereka akan mampu melewati semuanya; badai pasti berlalu. Ia sendiri tentu merasa takut, tetapi ia belajar bahwa keberanian bukan berarti tidak memiliki ketakutan; keberanian adalah tetap melangkah ketika ketakutan menghampiri.
Setiap malam, ketika suasana mulai sunyi dan adik-adiknya tertidur, Mita mengatupkan kedua tangannya untuk berdoa. Ia tidak meminta agar hidupnya menjadi mudah, tetapi memohon agar Tuhan memberinya kekuatan untuk menjalaninya dalam iman dan pengharapan yang teguh. Dengan suara lirih ia berkata,
“Tuhan Yesus yang Maha Kasih, dalam pencobaan ini aku datang kepada-Mu. Berikanlah aku kekuatan ketika aku merasa lemah, keberanian ketika aku takut, dan pengharapan ketika aku mulai putus asa. Lindungilah nenek dan adik-adikku. Jauhkanlah kami dari bahaya dan selamatkanlah kami dari segala yang mengancam kehidupan kami. Ajarlah kami untuk tetap percaya bahwa Engkau tidak pernah meninggalkan kami sendiri. Dalam setiap kesulitan, tuntunlah langkah kami dan jadikanlah hati kami kuat untuk membantu mereka yang Kaupercayakan kepada kami. Bunda Maria, doakanlah kami agar tetap teguh dalam iman dan menyerahkan seluruh hidup kami kepada kehendak Allah. Demi Kristus, Tuhan dan Juru Selamat kami. Amin.”
Seusai berdoa, Mita biasanya merasa bahwa persoalan belum hilang, tetapi hatinya menjadi lebih tenang. Ia menemukan kekuatan bukan karena badai telah berlalu, melainkan karena ia percaya bahwa Allah tetap hadir di tengah badai itu.
Hari-hari berlalu. Kehidupan mereka memang belum sepenuhnya pulih, tetapi Mita terus menjadi sumber semangat bagi keluarganya. Ia belajar bahwa pengharapan Kristiani bukanlah keyakinan bahwa manusia tidak akan pernah mengalami penderitaan. Pengharapan adalah keberanian untuk percaya bahwa dalam penderitaan pun Allah tetap hadir dan menyertai kehidupan manusia. Bagi Mita, doa bukan sekadar kata-kata yang diucapkan setiap malam, melainkan tempat ia menyerahkan ketakutannya, menerima kekuatan, dan menemukan alasan untuk bangkit kembali pada keesokan harinya. Di bawah langit yang terbuka dan di tengah rumah sementara mereka di kebun, Mita akhirnya memahami sebuah kebenaran sederhana, bahwa ketika manusia merasa tidak memiliki apa-apa lagi untuk diandalkan, iman mengajarkannya bahwa ia masih memiliki Allah. Dan selama masih ada Allah yang dipercaya, selalu ada alasan untuk berharap.
Baca Juga:
Tentang Penulis
Andreas Neke, S.Ag., B.Th.
Pendidik dan penulis asal Flores, Nusa Tenggara Timur.
→ Lihat Profil PenulisMenyukai tulisan tentang makna hidup dan pergulatan manusia?
Temukan gagasan lebih mendalam dalam buku Remaja dan Pergumulan Jati Dirinya.
Lihat Buku →