ADVERTISEMENT
Budaya

Dhora Su’a: Saat Gengsi Mengalahkan Makna Persaudaraan

Andreas Neke. 10 September 2026 52 kali dibaca
Dhora Su’a: Saat Gengsi Mengalahkan Makna Persaudaraan

Dalam masyarakat Bajawa-Ngada, manusia tidak pernah dipahami sebagai pribadi yang berdiri sendiri. Manusia selalu berada dalam jaringan relasi keluarga, kekerabatan, hubungan darah, perkawinan, persahabatan, dan komunitas. Oleh karena itu, hidup dalam koteks masyarakat Bajawa-Ngada bukan hanya persoalan tentang “aku”, tetapi juga tentang “kita”.


Salah satu tradisi yang memperlihatkan kuatnya kesadaran tentang “kita” tersebut adalah Dhora Su’a. Dhora Su’a bukan sekadar aktivitas membawa hewan, beras, moke, atau uang kepada keluarga yang sedang menyelenggarakan sebuah pekerjaan atau acara. Di baliknya terdapat sebuah pandangan tentang manusia bahwa kehidupan akan menjadi lebih kuat dan bermakna ketika manusia bersedia hadir dan bekerja bersama.


Dalam konteks pembangunan sa’o, ngadhu, dan bhaga misalnya, Dhora Su’a menjadi bentuk nyata dari perwujudan hak sekaligus kewajiban sosial. Ketika seseorang atau sebuah keluarga sedang melangsungkan pembangunan, dengannya keluarga besar, kerabat, dan sahabat dipanggil untuk ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Konsep sederhananya adalah hari ini saya membantu pembangunan milikmu, suatu hari nanti ketika saya membutuhkan bantuan, engkau akan datang membantu saya.


Itu adalah prinsip saling membalas yang menjadi salah satu dasar dari Dhora Su’a. Namun demikian, “membalas” di sini sesungguhnya tidak boleh dipahami semata-mata sebagai transaksi. Esensinya adalah menjaga relasi. Bantuan menjadi cara untuk mengatakan bahwa hubungan keluarga dan kekerabatan masih hidup dan akan tetap lestari. Dalam semangat padha meze aze lewa, relasi harus terus dirawat agar semakin kuat hari ini dan di masa depan.



Dhora Su’a Adalah Bahasa Kehadiran


Materi dalam Dhora Su’a dapat berupa hewan, beras, tuak atau moke, maupun uang. Tetapi materi tersebut seharusnya dipahami sebagai simbol, bukan sebagai pusat makna. Sebab dalam kebudayaan, sebuah pemberian tidak hanya berbicara mengenai benda. Ia berbicara mengenai relasi antara orang yang memberi dan orang yang menerima. Seekor hewan yang dibawa adalah tanda kehadiran; beras adalah tanda berbagi; moke adalah bagian dari kebersamaan; dan uang adalah bentuk dukungan sesuai kemampuan.


Oleh karena itu, ukuran terpenting Dhora Su’a seharusnya bukan nilai ekonominya, tetapi ketulusan untuk hadir. Seseorang yang datang membawa sedikit tetapi hadir dengan hati yang tulus tidak seharusnya dipandang lebih rendah daripada seseorang yang membawa banyak, sebab manusia tidak pernah dapat diukur hanya dari apa yang ia bawa.


Dhora Su’a dapat terjadi karena adanya pemberitahuan. Seseorang memberi tahu keluarga atau kerabat karena sebelumnya pernah mendapatkan bantuan dari pihak tersebut. Maka, ada semacam ingatan sosial bahwa kebaikan perlu dibalas. Dalam situasi lain, seseorang meminta bantuan baru kepada keluarga dan kerabat. Bantuan itu kemudian menjadi bagian dari hubungan timbal balik yang akan dibalas pada waktunya.


Mekanisme seperti ini sebenarnya memiliki kekuatan sosial yang luar biasa. Masyarakat membangun sistem solidaritas tanpa harus bergantung sepenuhnya pada institusi formal. Tetapi justru karena kuatnya mekanisme tersebut, kita perlu mengajukan pertanyaan kritis, "Kapan kewajiban membalas kebaikan berhenti menjadi solidaritas dan mulai berubah menjadi beban?"


Dalam praktik adat, muncul konsep aze kaba dan aze nagana. Ada kewajiban yang terus diingat dan dapat diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di satu sisi, ini menunjukkan bahwa masyarakat memiliki ingatan panjang terhadap relasi. Namun di sisi lain, kita harus berhati-hati. Alasannya, apabila utang sosial terus diwariskan tanpa mempertimbangkan kemampuan generasi berikutnya, maka yang diwariskan bukan lagi solidaritas, tetapi juga beban.


Anak dapat merasa harus membayar kewajiban orang tua. Generasi berikutnya dapat merasa harus memenuhi kewajiban generasi sebelumnya. Dan akhirnya, relasi keluarga tidak lagi dibangun terutama atas dasar kasih, tetapi atas dasar perhitungan ekonomi. Di sini berlaku prinsip, “Dulu mereka memberi kepada kita. Sekarang kita harus membalas.” Jika pola pikir ini menjadi dominan, persaudaraan berisiko berubah menjadi sistem utang-piutang. Padahal persaudaraan seharusnya lebih besar daripada transaksi. Atau bukan do ut des, ungkapan Latin yang secara harfiah berarti “Saya memberi supaya engkau memberi.”


Persoalan lainnya adalah ketika Dhora Su’a bergeser menuju wela wēla, pesta pora dan kemeriahan. Acara adat menjadi semakin besar; hewan yang dipotong semakin banyak; makanan semakin berlimpah; dan pengeluaran semakin tinggi. Lalu muncul pertanyaan yang sebenarnya sangat sederhana: Untuk siapa semua itu dilakukan? Apakah untuk mempererat keluarga? Ataukah untuk menunjukkan bahwa keluarga kita mampu?


Di sini kritik terhadap Dhora Su’a menjadi penting. Ketika ukuran keberhasilan sebuah acara ditentukan oleh kemegahan pesta, maka substansi mulai kalah oleh penampilan. Dan ketika ukuran kehormatan keluarga ditentukan oleh besarnya hewan yang dibawa, maka solidaritas mulai dikalahkan oleh gengsi. Orang akhirnya tidak lagi bertanya, “Siapa yang hadir?” Tetapi, “Siapa yang membawa paling banyak?”


Perubahan ini tampaknya sederhana, tetapi secara filosofis sangat serius. Alasannya karena telah terjadi perubahan orientasi dari relasi menuju reputasi. Orang hadir bukan lagi karena hubungan, tetapi karena penilaian sosial; memberi bukan lagi terutama karena ketulusan, tetapi karena takut dianggap tidak mampu; dan mengeluarkan biaya bukan karena kebutuhan, tetapi demi mempertahankan martabat di mata orang lain.



Gengsi Tidak Boleh Mengalahkan Keluarga


Gengsi keluarga adalah sesuatu yang dapat dipahami. Setiap keluarga tentu ingin menjaga kehormatan mereka. Tetapi ketika gengsi menuntut seseorang mengeluarkan sesuatu melebihi kemampuannya, persoalannya menjadi berbeda. Kita harus berani mengatakan bahwa jangan sampai gengsi membuat keluarga menderita.


Kehidupan keluarga memiliki kebutuhan yang jauh lebih mendasar seperti pendidikan anak, kesehatan, pangan, tempat tinggal, dan masa depan. Tidak masuk akal jika seseorang memaksakan diri membawa hewan yang besar demi sebuah acara, sementara kebutuhan keluarganya sendiri terabaikan. Tradisi seharusnya membantu manusia untuk dapat menjalani kehidupan, tetapi bukan membuat kehidupan menjadi semakin sulit dan berat.


Oleh karena itu, membawa sesuatu dalam Dhora Su’a seharusnya selalu didasarkan pada kemampuan, bukan pada tekanan sosial. Jika mampu membawa hewan, bawalah sesuai kemampuan; jika hanya mampu membawa beras, bawalah beras; jika hanya mampu membawa uang dalam jumlah tertentu, berikan sesuai kemampuan; dan jika tidak mampu membawa materi, hadirlah dengan tenaga dan waktu secara tulus dan jujur. Kita perlu menyadari bahwa terkadang dua tangan yang bekerja dengan tulus jauh lebih bermakna daripada seekor hewan yang dibawa karena gengsi.


Kiranya tradisi Dhora Su’a tidak perlu ditinggalkan. Tradisi ini harus dipelihara karena memiliki nilai solidaritas yang sangat kuat. Yang perlu dikritisi bukan semangat kebersamaannya, tetapi ketika praktiknya mulai bergeser dari tujuan awal. Kita perlu membedakan antara melestarikan tradisi dan mempertahankan setiap bentuk praktiknya. Tradisi boleh mengalami penyesuaian. Yang tidak boleh hilang adalah nilai dasarnya.


Jika nilai dasarnya adalah persaudaraan, maka persaudaraan harus menjadi pusat. Jika nilai dasarnya adalah solidaritas, maka solidaritas harus diutamakan. Jika nilai dasarnya adalah kebersamaan, maka jangan biarkan gengsi menghancurkannya. Oleh karena itu, aze kaba dan aze nagana perlu ditempatkan secara proporsional. Jangan sampai kewajiban sosial justru mengalahkan kemampuan ekonomi sebuah keluarga. Dhora Su’a harus menjadi ruang untuk saling menguatkan, bukan ruang untuk saling membebani.


Kita perlu mengembalikan Dhora Su’a kepada dimensi yang paling mendasar, yakni aspek yang perlu dipertahankan. Jika jawabannya adalah hubungan keluarga, maka jangan ukur hubungan berdasarkan materi. Jika jawabannya adalah kekerabatan, maka jangan ukur kekerabatan berdasarkan besarnya hewan. Jika jawabannya adalah solidaritas, maka jangan ubah solidaritas menjadi perlombaan gengsi.


Seseorang yang membawa seekor hewan besar, tetapi datang tanpa ketulusan, tidak otomatis lebih bersaudara daripada seseorang yang datang membawa beras dengan segala keterbatasannya. Demikian pula seseorang yang tidak membawa apa-apa, tetapi datang membantu dalam bentuk tenaga, waktu, dan hati, tidak boleh dianggap gagal menjalankan kewajiban sosialnya. Nilai manusia tidak terletak pada apa yang dibawanya, tetapi pada alasan mengapa ia hadir.


Ini adalah titik penting untuk membaca kembali Dhora Su’a dalam kehidupan masyarakat Bajawa-Ngada hari ini. Kita patut menyadari bahwa tradisi bukan museum. Tradisi adalah kehidupan. Oleh karena itu, tradisi harus terus direfleksikan agar tidak kehilangan jiwa atau spirit-nya.


Dhora Su’a harus tetap menjadi bahasa persaudaraan, bukan bahasa utang. Ia harus menjadi simbol solidaritas, bukan simbol kekayaan. Ia harus menjadi ruang kebersamaan, bukan arena kompetisi. Dan, ia harus mempererat hubungan keluarga, bukan membebani keluarga dengan kewajiban yang tidak berkesudahan.


Pada akhirnya, yang penting dalam Dhora Su’a bukan soal besar atau kecilnya sesuatu yang dibawa, tetapi yang jauh lebih penting adalah kehadiran ketika keluarga membutuhkan. Keluarga tidak menjadi kuat karena seseorang banyak membawa hewan. Kekerabatan tidak menjadi kokoh karena pestanya meriah. Dan, kehormatan tidak lahir dari kemampuan mempertontonkan kekayaan.


Yang membuat keluarga tetap hidup adalah kesediaan untuk hadir, berbagi, bekerja, dan saling menopang. Jangan sampai kita membawa hewan yang besar, tetapi kehilangan hati yang besar; jangan sampai pesta semakin megah, tetapi persaudaraan semakin rapuh; dan jangan sampai gengsi keluarga menjadi lebih besar daripada keluarga itu sendiri. Aspek fundamental dari Dhora Su’a bukan utang yang diwariskan kepada anak cucu, melainkan solidaritas yang membuat mereka tetap merasa sebagai satu keluarga yang utuh dalam cinta dan pemberian diri yang total.



ADVERTISEMENT
Andreas Neke

Tentang Penulis

Andreas Neke, S.Ag., B.Th.

Pendidik dan penulis asal Flores, Nusa Tenggara Timur.

→ Lihat Profil Penulis

Menyukai tulisan tentang makna hidup dan pergulatan manusia?

Temukan gagasan lebih mendalam dalam buku Remaja dan Pergumulan Jati Dirinya.

Lihat Buku →
Remaja dan Pergumulan Jati Dirinya