Bermuka Dua: Malaikat Berwajah Iblis di Balik Senyum
Ada manusia yang wajahnya terlihat begitu baik, tutur katanya terdengar lembut, dan sikapnya seolah penuh perhatian. Ia pandai tersenyum, pandai memberikan pujian, bahkan mampu membuat orang lain merasa aman ketika berada di dekatnya. Namun, di balik keramahan itu, tersimpan wajah lain yang tidak semua orang mampu melihatnya.
Ia dapat menjadi malaikat ketika berada di depan kita, tetapi berubah menjadi iblis ketika kita tidak lagi berada di hadapannya. Orang seperti inilah yang sering disebut bermuka dua. Bukan karena ia memiliki dua wajah secara harfiah, melainkan karena terdapat jarak yang begitu jauh antara apa yang ditampilkannya kepada seseorang dan apa yang dilakukannya ketika orang tersebut tidak melihatnya.
Di depan kita, ia mengatakan bahwa kita adalah sahabat. Di belakang, ia menceritakan keburukan kita. Di hadapan banyak orang, ia mendukung keputusan kita. Namun, di tempat lain, ia justru berusaha menjatuhkan kita. Ketika membutuhkan bantuan, ia datang dengan senyum paling manis. Ketika kebutuhannya selesai, ia dapat menjadi orang pertama yang meninggalkan kita seorang diri. Yang membuat manusia bermuka dua berbahaya bukan karena ia selalu terlihat buruk. Justru sebaliknya, ia terlihat baik.
Orang bermuka dua biasanya memahami bagaimana membangun citra. Ia tahu kapan harus tersenyum, kapan harus memberikan pujian, kapan harus menunjukkan kepedulian, dan kapan harus berpura-pura menjadi orang yang paling memahami keadaan. Ia dapat saja mendukung kita, namun dukungan itu bisa berubah ketika kita tidak lagi memberikan keuntungan kepadanya.
Ia dapat saja, tidak pernah membicarakan tentang kita kepada orang lain, tetapi beberapa waktu kemudian, kita menemukan bahwa cerita pribadi yang hanya kita sampaikan kepadanya ternyata sudah diketahui banyak orang. Yang membuat keadaan semakin menyakitkan adalah kenyataan bahwa kita mungkin pernah benar-benar percaya kepadanya. Kita memberikan rahasia. Kita membuka kelemahan. Kita menceritakan masalah keluarga. Dan, kita berbagi impian dan ketakutan. Kita mengira sedang berbicara kepada seseorang yang aman. Ternyata, semua yang kita ceritakan bisa berubah menjadi bahan pembicaraan ketika kita tidak berada di sana.
Malaikat di Depan, Iblis di Belakang
Perumpamaan malaikat dan iblis menggambarkan kontradiksi perilakunya yang ekstrem. Di depan, seseorang dapat tampil seolah menjadi pelindung. Di belakang, ia justru menjadi sumber ancaman. Ia tidak selalu menyerang secara terbuka. Serangannya sering kali dilakukan melalui kata-kata. Ia menyebarkan keraguan. Ia memutarbalikkan cerita. Dan, ia membangun persepsi tertentu tentang seseorang tanpa memberikan kesempatan kepada orang tersebut untuk menjelaskan.
Yang lebih berbahaya, ia sering melakukannya dengan cara yang tampak wajar. tanpa maksud tersembunyi, tanpa kekwatiran, seolah sedikit cerita, dan tampaknya membela kita. Semuanya ini dapat menjadi cara untuk menyembunyikan tindakan yang sebenarnya merugikan orang lain. Orang bermuka dua jarang mengakui bahwa dirinya sedang menjatuhkan seseorang. Ia lebih suka membuat tindakannya terlihat seperti kepedulian.
Kepercayaan adalah sesuatu yang dibangun secara perlahan, tetapi dapat dihancurkan dalam waktu singkat. Orang bermuka dua memahami hal tersebut. Oleh karena itu, ia sering kali tidak langsung menunjukkan niat buruknya. Ia membangun kedekatan terlebih dahulu lewat mendengarkan cerita kita, mengetahui kebiasaan kita, memahami kelemahan kita, dan belajar tentang siapa yang kita percaya dan siapa yang tidak kita sukai.
Semua informasi tersebut kemudian dapat digunakan ketika ia ingin mendapatkan keuntungan atau memengaruhi keadaan. Inilah sebabnya pengkhianatan dari orang dekat terasa jauh lebih menyakitkan daripada permusuhan dari orang asing. Dari orang asing, kita tidak mengharapkan kesetiaan. Tetapi dari orang yang kita percaya, kita mengharapkan kejujuran.
Kita sering menganggap senyum sebagai tanda keramahan. Dalam banyak situasi, memang demikian. Namun, senyum bukan bukti mutlak ketulusan. Seseorang dapat tersenyum sambil menyimpan iri. Ia dapat memberikan selamat sambil berharap kita gagal. Ia dapat memuji keberhasilan kita sambil diam-diam merasa terganggu karena keberhasilan tersebut.
Oleh karena itu, jangan menilai seseorang hanya dari cara ia berbicara ketika berada di depan kita. Lebihh penting dari itu adalah memperhatikan bagaimana ia memperlakukan orang yang tidak memiliki kepentingan baginya, dan bagaimana ia berbicara tentang orang lain ketika orang tersebut tidak hadir. Sebab, orang yang gemar membicarakan keburukan orang lain kepada kita kemungkinan besar juga akan membicarakan keburukan kita kepada orang lain.
Pola perilaku sering kali lebih jujur daripada kata-kata. Pujian memang menyenangkan. Kita semua senang dihargai. Namun, pujian yang terlalu berlebihan juga patut diperhatikan, terutama jika datang dari seseorang yang memiliki kepentingan tertentu.
Orang bermuka dua dapat menggunakan pujian sebagai alat untuk membuat seseorang lengah. Ia membuat kita merasa istimewa agar kita membuka lebih banyak informasi. Setelah mendapatkan kepercayaan tersebut, ia memiliki lebih banyak bahan untuk digunakan.
Tentu saja, tidak semua orang yang memuji memiliki niat buruk. Kita tidak boleh mencurigai semua kebaikan. Yang penting adalah melihat konsistensi, dalam mana pujian selaras dengan tindakan, tetap menghargai kita ketika kita tidak dapat memberikan sesuatu kepadanya, dan tetap bersikap baik ketika tidak ada orang lain yang melihatnya. Di situlah ketulusan mulai terlihat.
Pada akhirnya, kebohongan yang terlalu lama disimpan biasanya akan menemukan celah untuk terbuka. Cerita yang tidak konsisten mulai terlihat. Perkataan seseorang kepada kita berbeda dengan perkataannya kepada orang lain. Informasi yang seharusnya rahasia tiba-tiba tersebar. Dan, orang-orang mulai menemukan pola yang sama.
Pada titik itulah, kita menyadari bahwa selama ini kita mungkin telah berhadapan dengan seseorang yang berbeda dari yang kita bayangkan. Perasaan yang muncul bisa beragam seperti marah, kecewa, sedih, bahkan malu karena pernah percaya. Namun demikian, jangan menyalahkan diri sendiri karena pernah percaya kepada orang yang ternyata tidak tulus, karena kepercayaan bukan kebodohan. Yang salah adalah orang yang menyalahgunakan kepercayaan tersebut.
Ketika mengetahui seseorang bermuka dua, godaan terbesar adalah membalas dengan cara yang sama. Kita ingin membongkar semua keburukannya, menyebarkan rahasianya, dan ingin membuat orang lain tahu siapa dirinya sebenarnya. Perasaan itu manusiawi, tetapi menjadi seperti dirinya bukanlah kemenangan.
Jika seseorang memilih hidup dengan kepalsuan, kita tidak harus ikut hidup dalam kepalsuan. Kita dapat memilih menjauh, mengurangi kepercayaan, berhenti menceritakan hal-hal pribadi, dan menjaga batas karena tidak semua orang harus diberi akses yang sama terhadap kehidupan kita.
Kita memang tidak mungkin mengetahui isi hati semua orang. Oleh karena itu, jangan terlalu cepat menuduh seseorang bermuka dua hanya karena satu kesalahan. Manusia bisa salah bicara. Manusia bisa berubah sikap karena sedang menghadapi masalah. Manusia juga dapat melakukan kesalahan tanpa memiliki niat jahat. Yang perlu diperhatikan adalah pola yang berulang seperti kebohongan yang terus terjadi, memutarbalikkan cerita, memiliki wajah berbeda di hadapan orang yang berbeda, baik ketika memiliki kepentingan, dan menjatuhkan orang lain sambil berpura-pura menjadi sahabat. Jika pola tersebut terus muncul, kewaspadaan menjadi sesuatu yang wajar.
Pengalaman bertemu orang bermuka dua dapat membuat seseorang menjadi sulit percaya kepada siapa pun. Itu adalah salah satu dampak paling menyedihkan dari pengkhianatan. Satu orang yang tidak jujur dapat membuat kita mencurigai banyak orang yang sebenarnya tulus. Oleh karena itu, jangan biarkan perilaku buruk seseorang mengubah karakter baik yang ada dalam diri kita. Tetaplah menjadi orang yang jujur, tetapi belajar memasang batas; tetaplah membantu, tetapi jangan membiarkan diri dimanfaatkan; dan tetaplah percaya kepada orang lain, tetapi berikan kepercayaan secara bertahap. Kebaikan tidak berarti harus menjadi naif dan ketulusan tidak berarti harus membuka semua pintu.
Pada Akhirnya, wajah asli seseorang pasti akan terlihat jelas, karena tidak ada manusia yang mampu berpura-pura selamanya. Topeng dapat digunakan untuk sementara waktu. Senyum dapat dibuat. Kata-kata dapat dirancang. Dan, citra dapat dibangun. Namun, karakter akan terlihat dari kebiasaan, karena waktu akan menguji konsistensi. Keadaan sulit akan memperlihatkan siapa yang benar-benar peduli, karena ketika keuntungan hilang, kita akan tahu siapa yang tetap tinggal. Dan, ketika kita tidak lagi berguna, kita akan tahu siapa yang masih menghargai kita sebagai manusia.
Oleh karena itu, jangan terlalu terpesona oleh wajah yang terlihat seperti malaikat, tetapi perhatikan perilakunya ketika tidak ada yang melihat. Manusia tidak dinilai dari seberapa indah ia berbicara tentang kebaikan, tetapi dari seberapa konsisten ia melakukannya. Dan kepada mereka yang bermuka dua, satu hal pada akhirnya selalu berlaku bahwa topeng mungkin mampu menipu manusia untuk sementara, tetapi waktu memiliki cara sendiri untuk memperlihatkan wajah yang sebenarnya.
Kita tidak perlu menjadi hakim, tidak perlu membalas, dan tidak perlu hidup dalam kebencian. Yang penting adalah cukup kenali, belajar, pasang batas, lalu berjalan pergi. Hidup terlalu berharga untuk dihabiskan bersama orang yang hanya menghadirkan wajah malaikat ketika membutuhkan kita, tetapi berubah menjadi iblis ketika tidak lagi membutuhkan kehadiran kita.
Baca Juga:
Tentang Penulis
Andreas Neke, S.Ag., B.Th.
Pendidik dan penulis asal Flores, Nusa Tenggara Timur.
→ Lihat Profil PenulisMenyukai tulisan tentang makna hidup dan pergulatan manusia?
Temukan gagasan lebih mendalam dalam buku Remaja dan Pergumulan Jati Dirinya.
Lihat Buku →