Miopia Teologi: Ketika Iman Tak Lagi Melihat Dunia Nyata!!!
Ada sebuah bahaya dalam kehidupan beriman yang tidak selalu tampak sebagai kesalahan teologis. Ia justru dapat muncul ketika seseorang merasa sangat yakin bahwa ia telah memahami Tuhan, agama, Kitab Suci, dan kebenaran. Bahaya itu adalah miopia, yakni pandangan yang terlalu dekat, terlalu sempit, sehingga manusia gagal melihat keseluruhan kenyataan.
Dalam konteks pemikiran Leonardo Boff, istilah miopia lebih tepat dipahami sebagai metafora kritis tentang keterbatasan cara pandang, bukan sebagai sebuah doktrin teologis formal yang berdiri sendiri. Boff berkali-kali mengkritik cara berpikir yang terjebak dalam paradigma lama, tertutup terhadap perubahan dunia, dan tidak mampu melihat keterkaitan antara iman, manusia, masyarakat, dan alam. Ia bahkan menggunakan istilah “miopia” untuk mengkritik cara pandang yang tidak mampu melihat perubahan besar dalam krisis ekologis dan keterbatasan bumi.
Oleh karena itu, berbicara tentang miopia dalam teologi Leonardo Boff berarti membaca kritik Boff terhadap iman yang kehilangan keluasan pandang, yakni iman yang sibuk mempertahankan dirinya sendiri, tetapi gagal melihat jeritan manusia. Ini adalah teologi yang sibuk berbicara tentang Allah, tetapi tidak cukup peka terhadap penderitaan dunia.
Kiranya penting sedikit mendalami latar belakang kehidupan Leonardo Boff. Dia lahir dalam tradisi Katolik dan Fransiskan, memperoleh pendidikan filsafat dan teologi secara mendalam, serta menyelesaikan studi doktoralnya di Jerman. Ia kemudian dikenal sebagai salah satu tokoh penting teologi pembebasan Amerika Latin.
Latar belakang ini penting karena pemikiran Boff tidak lahir dari ruang akademik yang terisolasi. Teologinya berkembang dalam konteks masyarakat yang mengalami kemiskinan, ketidakadilan, penindasan, dan konflik sosial. Oleh karena itu, bagi Boff, teologi tidak cukup hanya bertanya, “Apa yang benar menurut doktrin?” Teologi juga harus bertanya, “Apa yang sedang terjadi pada manusia?”
Di sinilah teologi menjadi praksis. Salah satu karakter penting pemikiran Boff adalah perhatian terhadap kaum miskin dan mereka yang tersingkir. Teologi pembebasan baginya bukan sekadar disiplin akademik, melainkan proses pembebasan yang harus diwujudkan dalam kehidupan konkret. Kajian tentang Boff juga menekankan bahwa teologinya menghubungkan refleksi iman dengan kebutuhan pastoral dan solidaritas praktis terhadap kelompok yang tertindas.
Iman yang hanya melihat ke dalam dirinya sendiri berpotensi mengalami miopia. Ia melihat altar, tetapi tidak melihat jalanan; melihat doktrin, tetapi tidak melihat penderitaan; melihat keselamatan jiwa, tetapi lupa pada tubuh manusia yang lapar; dan melihat surga, tetapi tidak peduli pada bumi yang sedang rusak.
Miopia teologis terjadi ketika perspektif iman menjadi terlalu sempit sehingga hanya mampu melihat satu sisi realitas. Misalnya, seseorang hanya melihat dunia melalui kategori dosa dan hukuman. Ketika terjadi bencana, ia segera mencari dosa manusia. Ketika seseorang miskin, ia menganggap kemiskinan sebagai akibat kurangnya usaha atau bahkan kurangnya iman. Ketika seseorang gagal, ia dianggap tidak cukup berdoa.
Cara pandang semacam ini tampak religius, tetapi sebenarnya dapat menjadi bentuk penyederhanaan realitas. Boff mengajak manusia melihat bahwa kehidupan memiliki jaringan keterkaitan yang jauh lebih kompleks. Manusia tidak hidup sendirian. Ia hidup dalam masyarakat, ekonomi, politik, budaya, dan ekosistem. Oleh karena itu, penderitaan manusia tidak dapat selalu dijelaskan secara individual. Ada struktur sosial yang dapat menghasilkan kemiskinan. Ada sistem ekonomi yang dapat mengeksploitasi manusia dan alam. Ada kebijakan publik yang dapat memperbesar ketimpangan. Ada gaya hidup yang merusak lingkungan.
Inilah salah satu kekuatan pemikiran Boff bahwa ia memperluas medan penglihatan teologi. Teologi tidak boleh berhenti pada hubungan manusia dengan Allah secara individual. Ia harus melihat hubungan manusia dengan sesamanya dan dengan seluruh ciptaan.
Dalam perkembangan pemikirannya, perhatian Boff bahkan semakin kuat pada persoalan ekologis. Ia melihat bahwa krisis ekologis bukan sekadar masalah lingkungan, melainkan krisis peradaban. Cara manusia memperlakukan bumi memperlihatkan cara manusia memahami dirinya sendiri. Ketika alam hanya dilihat sebagai objek untuk dieksploitasi, manusia sebenarnya sedang memperlihatkan miopia spiritual, yakni tidak mampu melihat bahwa dirinya merupakan bagian dari jaringan kehidupan yang lebih besar. Dengan demikian, miopia bukan hanya persoalan tidak melihat jauh. Miopia juga berarti tidak mampu melihat hubungan.
Boff menawarkan cara pandang yang lebih integral. Allah tidak dipahami sebagai realitas yang jauh dari kehidupan. Iman harus berjumpa dengan realitas konkret manusia. Hal ini tampak pula dalam pemikiran Boff tentang Trinitas. Ia memahami Allah Tritunggal sebagai persekutuan kasih antara Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Persekutuan tersebut kemudian dapat menjadi model bagi kehidupan manusia dan komunitas. Kajian teologis mengenai Boff menunjukkan bahwa konsep Trinitas baginya tidak berhenti sebagai doktrin, tetapi memiliki konsekuensi bagi cara manusia membangun persekutuan.
Di sini terlihat bahwa teologi Boff bergerak dari doktrin menuju kehidupan. Iman bukan hanya sesuatu yang dipercayai, tetapi sesuatu yang diwujudkan. Kasih bukan hanya konsep, tetapi harus menjadi relasi. Dan, persaudaraan bukan hanya kata, tetapi harus menjadi struktur kehidupan. Dengan demikian, teologi yang sehat tidak boleh hanya bertanya apakah seseorang percaya kepada Allah. Ia juga harus bertanya, bagaimana kepercayaannya kepada Allah mengubah cara ia memperlakukan manusia dan alam?
Konsep ini sangat relevan bagi kehidupan Gereja dewasa ini. Gereja dapat mengalami miopia ketika terlalu sibuk dengan persoalan internal sementara masyarakat sedang menghadapi persoalan yang jauh lebih besar. Gereja tidak boleh berhenti dalam memperdebatkan liturgi, simbol-simbol, moralitas, dan doa. Lebih dari itu, Gereja harus peduli terhadap korban ketidakadilan, memperjuangkan martabat manusia, dan merawat alam.
Miopia teologis juga muncul ketika agama menjadi ruang kenyamanan bagi orang-orang yang sudah merasa benar; padahal Injil selalu membawa manusia keluar dari kenyamanan menuju perjumpaan dengan mereka yang terluka.
Di zaman media sosial, miopia bahkan menjadi semakin berbahaya. Manusia sekarang hidup dalam ruang informasi yang sangat luas, tetapi belum tentu mempunyai pandangan yang luas. Dalam konteks iman, bahayanya bahkan lebih serius. Agama dapat berubah menjadi identitas kelompok yang selalu merasa benar. Perdebatan teologis berubah menjadi pertarungan. Perbedaan pendapat dianggap sebagai ancaman. Kritik dianggap sebagai serangan terhadap iman.
Padahal teologi seharusnya memperluas pandangan manusia terhadap misteri Allah dan kompleksitas kehidupan. Dan yang paling penting, melihat iman bukan hanya sebagai urusan hubungan pribadi dengan Tuhan, melainkan sebagai panggilan untuk menghadirkan kehidupan yang lebih adil, manusiawi, dan berkelanjutan.
Dalam kerangka Boff, teologi kehilangan daya hidup ketika ia tidak lagi bersentuhan dengan realitas. Sebaliknya, teologi memperoleh kekuatannya ketika ia berani membaca tanda-tanda zaman, mendengarkan suara mereka yang menderita, dan mengambil bagian dalam transformasi kehidupan. Pemikiran Boff memang berangkat dari teologi pembebasan, tetapi kemudian berkembang menuju perhatian yang kuat pada ekologi, komunitas, dan keberlanjutan kehidupan.
Oleh karena itu, tantangan teologi hari ini bukan sekadar mempertahankan apa yang telah diwariskan, tetapi teologi yang mampu melihat, mendengar, dan merasakan penderitaan dunia dapat berubah menjadi kekuatan pembebasan. Itulah tantangan besar pemikiran Leonardo Boff bagi zaman ini, bahwa iman tidak boleh menjadi kacamata yang membuat kita semakin buta terhadap dunia, tetapi harus menjadi mata yang menolong manusia melihat realitas dengan lebih dalam, lebih luas, dan lebih manusiawi.
Baca Juga:
Tentang Penulis
Andreas Neke, S.Ag., B.Th.
Pendidik dan penulis asal Flores, Nusa Tenggara Timur.
→ Lihat Profil PenulisMenyukai tulisan tentang makna hidup dan pergulatan manusia?
Temukan gagasan lebih mendalam dalam buku Remaja dan Pergumulan Jati Dirinya.
Lihat Buku →