Wajah yang Telanjang: Ketika Yang Lain Memanggil Nurani
Ada sebuah pengalaman sederhana yang sering luput dari perhatian ketika kita berhadapan dengan wajah manusia lain. Kita melihat wajah setiap hari. Wajah anak-anak, pasangan, orang tua, sahabat, orang asing, pedagang di jalan, pengemis di persimpangan, orang yang sedang tersenyum, dan orang yang sedang menangis. Kita melihat wajah, tetapi belum tentu sungguh-sungguh berjumpa dengan wajah tersebut.
Bagi Emmanuel Levinas, filsuf Prancis-Lituania yang pemikirannya sangat dipengaruhi pengalaman etis dan tradisi filsafat fenomenologi, wajah (le visage) bukan sekadar bagian tubuh manusia. Wajah merupakan suatu peristiwa etis. Ketika wajah orang lain hadir di hadapan kita, ia tidak hanya memperlihatkan siapa dirinya. Ia seolah-olah memanggil kita untuk bertanggung jawab.
Olehh karena itu, "wajah yang telanjang" bukan terutama wajah tanpa pakaian atau tanpa penutup secara fisik. Ketelanjangan wajah adalah keterbukaan manusia dalam kerentanannya. Wajah hadir tanpa perlindungan, tanpa jaminan, tanpa kekuasaan yang dapat sepenuhnya menguasai kita. Di hadapan wajah orang lain, kita berjumpa dengan seseorang yang tidak boleh direduksi menjadi benda. Dan dari wajah itu terdengar sebuah panggilan yang mungkin tidak diucapkan dengan kata-kata, "Jangan sakiti aku."
Dalam kehidupan sehari-hari, kita terbiasa melihat segala sesuatu sebagai objek. Kita melihat meja sebagai benda untuk digunakan. Kita melihat rumah sebagai tempat tinggal. Kita melihat kendaraan sebagai alat transportasi. Kita melihat uang sebagai alat tukar. Bahkan tanpa sadar, kita dapat melihat manusia dengan cara yang sama. Seseorang menjadi "pegawai", "orang miskin", "guru", "pejabat", "orang asing", atau "pendukung kelompok tertentu". Identitas sosial kemudian menutupi manusia yang sesungguhnya. Kita tidak lagi melihat pribadi. Kita melihat label.
Levinas mengajak kita berhenti sejenak dari kebiasaan tersebut. Sebelum seseorang menjadi profesinya, status sosialnya, agamanya, sukunya, kekayaannya, atau kedudukannya, ia terlebih dahulu adalah wajah yang hadir di hadapan kita. Wajah itu mengatakan bahwa di hadapan kita ada seseorang yang tidak dapat sepenuhnya kita miliki melalui definisi. Ia lebih besar daripada label yang kita berikan kepadanya.
Istilah "telanjang" dalam pemikiran Levinas memiliki makna filosofis yang dalam. Wajah manusia adalah sesuatu yang tidak terlindungi sepenuhnya. Ia menunjukkan kerentanan. Lihatlah wajah seorang bayi; tidak ada kekuasaan di sana, tidak ada senjata, dan tidak ada argumentasi. Namun wajah seorang bayi dapat membangkitkan tanggung jawab yang luar biasa dalam diri orang dewasa. Seorang bayi tidak perlu berkata, "Tolong rawat saya", tetapi kehadirannya sudah seperti sebuah panggilan.
Demikian pula wajah seseorang yang sedang menderita. Ia tidak perlu menjelaskan seluruh penderitaannya agar kita tahu bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi. Air mata, tatapan, tubuh yang lemah, atau wajah yang kehilangan harapan dapat menjadi bahasa sebelum kata-kata. Ketelanjangan wajah berarti bahwa manusia hadir kepada kita dalam kerentanannya. Dan, kerentanan itu menuntut respons.
Salah satu gagasan yang sangat kuat dalam pemikiran Levinas adalah bahwa wajah orang lain membawa larangan, "Jangan membunuh." Ini bukan hanya larangan untuk menghilangkan nyawa secara fisik. "Jangan membunuh" dapat dibaca secara lebih luas sebagai larangan untuk menghancurkan martabat manusia, karena kita dapat "membunuh" seseorang secara sosial melalui penghinaan, membunuh harapan seseorang melalui kata-kata yang merendahkan, membunuh kepercayaan melalui pengkhianatan, membunuh masa depan seseorang melalui ketidakadilan.
Kita dapat membuat seseorang merasa tidak berharga hanya karena kita menganggap dirinya lebih rendah. Karena itu, etika bagi Levinas bermula sebelum teori moral. Ia bermula dari perjumpaan dengan orang lain. Sebelum kita bertanya, "Aturan apa yang berlaku?", kita seharusnya sudah mendengar tuntutan yang lebih mendasar, "Jangan sakiti manusia yang ada di hadapanmu."
Menariknya, Levinas menempatkan etika bahkan sebelum pengetahuan. Biasanya kita berpikir bahwa kita harus mengenal seseorang terlebih dahulu sebelum bertanggung jawab terhadapnya. Kita ingin mengetahui, Siapa dia? Dari mana dia? Apa agamanya? Apa pekerjaannya? Apakah dia pantas ditolong? Apakah dia orang baik? Apakah dia berasal dari kelompok kita?
Tetapi, wajah datang sebelum semua pertanyaan tersebut. Orang lain hadir terlebih dahulu, barulah kemudian kita mencoba mengenalnya. Karenanya, tanggung jawab etis tidak selalu menunggu pengetahuan lengkap. Kita tidak perlu mengetahui seluruh biografi seorang manusia untuk mengakui bahwa ia memiliki martabat. Kita tidak perlu mengetahui seluruh kesalahannya untuk menolak menyakitinya., Dan, kita tidak perlu sepakat dengannya untuk memperlakukannya sebagai manusia. Inilah radikalitas pemikiran Levinas. Yang lain datang sebelum ego kita.
Manusia memiliki kecenderungan menempatkan dirinya di pusat; ingin didengar, dihargai, menang, dan benar. Aku ingin kepentinganku dipenuhi. Dalam banyak situasi, orang lain menjadi penting sejauh ia berhubungan dengan kepentinganku. Aku mencintainya karena ia membuatku bahagia. Aku berteman dengannya karena ia berguna bagiku. Aku membantu seseorang karena aku mendapatkan kepuasan dari tindakan itu.
Namun demikian, wajah orang lain mengguncang cara hidup yang berpusat pada ego tersebut. Wajah berkata, "Jangan jadikan aku sekadar alat untuk kepentinganmu." Di hadapan wajah, aku dipanggil untuk keluar dari diriku sendiri. Aku tidak lagi menjadi satu-satunya pusat. Ada "yang lain". Dan, kehadiran "yang lain" menuntut tanggung jawab.
Pemikiran Levinas juga memiliki kedekatan dengan banyak filsuf relasi, tetapi juga memiliki kekhasannya sendiri. Relasi dengan orang lain bukan sekadar hubungan antara dua individu yang saling bertukar kepentingan. Orang lain tidak pernah sepenuhnya dapat kuhabiskan melalui pemahamanku. Ia selalu memiliki sesuatu yang melampaui apa yang kupahami. Oleh karena itu, orang lain adalah Yang Lain. Ia bukan cermin diriku, bukan salinan diriku, dan bukan bagian dari diriku. Ia memiliki dunianya sendiri, kebebasannya sendiri, misterinya sendiri. Dan justru karena ia berbeda, aku dipanggil untuk menghormatinya.
Salah satu ciri paling kuat dalam etika Levinas adalah bahwa tanggung jawab terhadap orang lain bersifat sangat mendasar. Kita mungkin bertanya, "Apakah saya wajib menolong semua orang?" Pertanyaan itu penting. Tetapi Levinas membawa kita lebih dalam, "Mengapa kita terlebih dahulu merasa bahwa penderitaan orang lain adalah urusan orang lain?" Bukankah ketika seseorang terluka di depan mata kita, hati nurani secara spontan mengatakan bahwa kita seharusnya melakukan sesuatu?
Pemikiran Levinas menjadi sangat kuat ketika kita membawanya kepada persoalan kemiskinan. Di jalan kita mungkin bertemu seseorang yang meminta uang. Kita dapat dengan mudah membuat kategori, "Pengemis." Tetapi, kata itu dapat mengubah seseorang menjadi objek sosial. Kita berhenti melihat manusia. Kita melihat kategori. Levinas mengajak kita kembali kepada wajah; lihat matanya. Ia bukan sekadar "pengemis". Ia adalah seseorang yang memiliki sejarah, keluarga, dan mimpi. Mungkin hidup telah membuatnya jatuh. Kita tidak harus menyelesaikan seluruh masalahnya, tetapi kita dapat menolak untuk merendahkan martabatnya. Di situlah etika dimulai.
Pemikiran ini juga sangat penting dalam masyarakat yang plural. Kita sering merasa nyaman dengan orang yang sama seperti kita; sama agama, suku, pandangan, kelas sosial, dan kepentingan. Namun etika tidak terutama diuji ketika kita berhadapan dengan orang yang kita sukai. Etika diuji ketika kita berhadapan dengan orang yang berbeda. Orang lain mungkin memiliki keyakinan, pandangan politik, budaya, dan pendapat yang berbeda. Tetapi sebelum semua perbedaan itu, ia memiliki wajah. Dan wajahnya berkata, "Jangan hilangkan kemanusiaanku hanya karena aku berbeda darimu."
Ini adalah salah satu pesan paling relevan dari Levinas bagi dunia yang mudah terpecah oleh identitas "Wajah Korban". Ketika terjadi kekerasan, kita sering sibuk mencari siapa yang benar, membangun argumen, mencari pembenaran, dan menjelaskan latar belakang. Semua itu mungkin diperlukan. Tetapi Levinas mengajak kita melihat terlebih dahulu wajah korban; wajah orang yang menangis, wajah anak yang ketakutan, wajah keluarga yang kehilangan, wajah manusia yang tubuhnya terluka, karena sebelum menjadi angka statistik, korban adalah manusia. Sebelum menjadi berita, ia adalah seseorang. Dan, sebelum menjadi kasus hukum, ia adalah wajah. Wajah itu menuntut kita untuk tidak menjadi penonton yang dingin.
Ada sesuatu yang menarik dalam pemikiran Levinas bahwa semakin kita mencoba menguasai orang lain melalui pengetahuan, semakin kita berhadapan dengan keterbatasan kita sendiri. Kita tidak pernah benar-benar mengetahui seluruh diri seseorang. Kita mungkin mengetahui nama, pekerjaan, keluarga, tulisan, dan cerita hidupnnya. Tetapi, ia tetap lebih besar daripada semua informasi tersebut, karena manusia bukan benda yang dapat dibongkar lalu diketahui seluruhnya. Manusia adalah pribadi. Ia adalah misteri. Dan, menghormati misteri manusia berarti tidak menganggap bahwa kita memiliki hak penuh untuk menentukan siapa dirinya.
Dalam konteks ini, cinta tidak boleh direduksi menjadi perasaan. Cinta adalah kesediaan untuk menerima keberadaan orang lain sebagai sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat kita kuasai. Mencintai berarti memberi ruang, mendengarkan, menghormati, menjaga, dan membiarkan orang lain menjadi dirinya sendiri. Oleh karena itu, cinta yang sehat tidak berkata: "Aku mencintaimu karena kamu harus menjadi milikku", tetapi, "Aku mencintaimu dan karena itu aku menghormati keberadaanmu sebagai pribadi." Wajah mengajarkan cinta yang demikian. Cinta yang tidak menelan yang lain, menghapus perbedaan, mengubah manusia menjadi milik.
Mungkin tidak ada tempat yang lebih penting untuk menerapkan pemikiran Levinas selain keluarga. Sering kali kita begitu dekat dengan keluarga sehingga berhenti melihat mereka sebagai pribadi. Anak hanya menjadi "anak saya", pasangan hanya menjadi "suami saya" atau "istri saya", dan orang tua hanya menjadi "ayah saya" atau "ibu saya". Karena terlalu dekat, kita merasa memiliki hak untuk mengatur semuanya. Padahal setiap orang tetap memiliki wajah. Anak memiliki dunia batinnya sendiri. Pasangan memiliki kebebasannya sendiri. Orang tua memiliki martabatnya sendiri. Hendaknya kita menyadari bahwa keluarga bukan tempat untuk menghapus individualitas. Keluarga seharusnya menjadi tempat pertama di mana manusia belajar menghormati wajah orang lain.
Dalam zaman media sosial dewasa ini, gagasan tentang wajah menjadi semakin penting, karena di balik sebuah akun terdapat manusia, di balik komentar terdapat seseorang, dan di balik sebuah unggahan terdapat pengalaman. Namun, dunia digital sering mengubah manusia menjadi avatar. Kita tidak melihat wajah, karena itu kita lebih mudah menghina, mencaci, menyebarkan kebencian, dan menghakimi.
Jika kita benar-benar melihat wajah manusia yang menjadi sasaran kata-kata kita, mungkin sebagian kebencian akan berhenti. Bayangkan sebelum menulis komentar kasar, kita harus melihat wajah orang yang akan menerimanya; melihat matanya, anaknya, dan orang tuanya. Bila ini terjadi, kata-kata itu akan terasa berbeda. Ini adalah salah satu kebutuhan terbesar zaman digital ini, yakni mengembalikan wajah ke dalam hubungan manusia.
Bagi Levinas, persoalan tentang wajah juga membuka jalan menuju persoalan tentang Yang Transenden. Yang lain tidak dapat sepenuhnya direduksi menjadi objek pengetahuan. Dalam perjumpaan dengan wajah, kita mengalami sesuatu yang melampaui diri kita. Kita dipanggil keluar dari ego. Kita dituntut untuk bertanggung jawab. Oleh karena itu, pengalaman etis terhadap manusia lain memiliki dimensi yang sangat dalam.
Dalam perspektif religius, kita dapat membacanya sebagai sebuah panggilan untuk melihat manusia sebagai pribadi yang memiliki martabat yang tidak dapat dicabut. Mungkin kita terlalu sering mencari Tuhan di tempat-tempat yang jauh. Padahal persoalan etis yang paling dekat justru muncul ketika kita berdiri di hadapan manusia lain. Wajah orang yang lapar, terluka, kesepian, berbeda, dan membutuhkan pertolongan. Di sini kita diuji. Bukan terutama melalui seberapa banyak kita berbicara tentang Tuhan, tetapi melalui bagaimana kita memperlakukan manusia yang ada di hadapan kita.
Pada akhirnya, mungkin inti paling sederhana dari pemikiran Levinas adalah "jangan acuh". Ketidakpedulian adalah salah satu bentuk paling berbahaya dari kehidupan modern. Kita melihat penderitaan, tetapi berjalan terus; melihat ketidakadilan, tetapi diam; melihat penghinaan, tetapi menganggapnya bukan urusan kita; melihat orang kesepian, tetapi terlalu sibuk dengan diri sendiri; dan hidup di tengah begitu banyak wajah, tetapi hati kita tidak lagi tersentuh oleh wajah-wajah itu. Levinas mengingatkan kita bahwa wajah orang lain mengganggu kenyamanan ego kita. Ia memanggil kita keluar. Ia berkata, "Jangan hanya memikirkan dirimu." "Lihat aku." "Akui keberadaanku." "Jangan sakiti aku." "Jangan biarkan aku sendirian dalam penderitaan ini."
Pada akhirnya, "wajah yang telanjang" menurut Levinas bukan sekadar sebuah konsep filosofis. Ia adalah sebuah undangan untuk mengubah cara kita memandang manusia. Di balik semuanya ada wajah. Wajah itu membawa sebuah pesan yang lebih tua daripada segala teori moral. Manusia adalah yang lain, pribadi yang tidak pernah selesai kita pahami dan karena itu tidak pernah boleh kita kuasai sepenuhnya.
Di tengah dunia yang semakin sibuk mendefinisikan manusia berdasarkan identitas, status, kekayaan, agama, politik, dan kekuasaan, kita perlu kembali kepada sesuatu yang paling sederhana, yakni melihat wajah, lewat benar-benar melihat tetapi bukan sekadar memandang. Ketika kita sungguh-sungguh melihat wajah manusia lain, kita mungkin tidak lagi mampu dengan mudah menyakitinya. Kita mulai menyadari bahwa di balik wajah itu ada kehidupan yang sama berharganya dengan kehidupan kita.
Wajah menjadi lebih daripada wajah. Ia menjadi panggilan nurani. Dan dalam perjumpaan dengan wajah yang telanjang itu, kita akhirnya belajar bahwa menjadi manusia bukan pertama-tama soal bagaimana kita menguasai dunia, melainkan bagaimana kita bertanggung jawab terhadap manusia lain yang dipercayakan kehidupan kepada kita dalam setiap perjumpaan kita dengan orang lain.
Baca Juga:
Tentang Penulis
Andreas Neke, S.Ag., B.Th.
Pendidik dan penulis asal Flores, Nusa Tenggara Timur.
→ Lihat Profil PenulisMenyukai tulisan tentang makna hidup dan pergulatan manusia?
Temukan gagasan lebih mendalam dalam buku Remaja dan Pergumulan Jati Dirinya.
Lihat Buku →