Pendidikan Indonesia: Intelektualitas, Teknik, dan Akhlak
Pendidikan selalu berada di antara dua kebutuhan besar manusia, yakni menjadi cerdas dan menjadi baik. Kecerdasan membuat manusia mampu memahami dunia, mengembangkan teknologi, menemukan solusi, dan menciptakan perubahan. Dan pada saat yang sama, akhlak membuat manusia mampu bertanya lebih jauh, untuk apa pengetahuan itu digunakan, kepada siapa manfaatnya diberikan, dan apakah kemajuan yang diciptakan tetap menghormati martabat manusia.
Dalam konteks Indonesia, pertanyaan tersebut semakin urgen. Kita sedang hidup dalam sebuah zaman yang menuntut penguasaan teknologi, kecerdasan digital, kemampuan beradaptasi, penguasaan bahasa, sains, matematika, dan berbagai keterampilan teknis. Dunia kerja berubah cepat, kecerdasan buatan berkembang, ekonomi digital meluas, dan persaingan antarnegara semakin ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia. Pendidikan tentu tidak mungkin mengabaikan beragam tuntutan yang ada.
Namun demikian, pendidikan yang hanya mengejar kecerdasan intelektual dan keterampilan teknis juga menyisakan pertanyaan yang tidak sederhana. Apa yang terjadi apabila manusia memiliki kemampuan yang tinggi tetapi tidak memiliki cukup kebijaksanaan untuk menggunakan kemampuannya? Pertanyaan ini bukan untuk mempertentangkan intelektual, keterampilan teknis, dan akhlak. Ketiganya justru harus berjalan bersama, sebab manusia yang hanya berakhlak tanpa pengetahuan dapat mengalami keterbatasan dalam membaca persoalan zaman. Sebaliknya, manusia yang sangat terampil tetapi kehilangan orientasi moral dapat menggunakan kecerdasannya untuk kepentingan yang merugikan sesama manusia.
Di sinilah pendidikan menemukan maknanya yang paling manusiawi, karena selama bertahun-tahun, keberhasilan pendidikan sering kali sangat dekat dengan angka yang mencakup nilai ujian, peringkat kelas, indeks prestasi, jumlah lulusan, diterima di perguruan tinggi mana, atau memperoleh pekerjaan di perusahaan apa. Ukuran-ukuran tersebut tidak salah. Kemampuan akademik memang penting. Seorang anak perlu memiliki kemampuan membaca, berhitung, memahami sains, berkomunikasi, dan berpikir logis, karena tanpa kemampuan dasar tersebut, seorang anak akan menghadapi kesulitan dalam kehidupan sosial maupun ekonomi.
Data PISA 2022 memberikan gambaran penting mengenai tantangan kemampuan akademik peserta didik Indonesia. Rata-rata skor siswa Indonesia berada di bawah rata-rata OECD dalam bidang matematika, membaca, dan sains. Hanya sekitar 18 persen siswa Indonesia yang mencapai setidaknya Level 2 dalam bidang matematika, dibandingkan 69 persen rata-rata OECD. Dalam membaca, sekitar 25 persen siswa Indonesia mencapai Level 2 atau lebih, sementara dalam sains sekitar 34 persen.
Angka tersebut tentu perlu dibaca secara hati-hati. PISA bukan ukuran tunggal untuk menentukan kualitas pendidikan sebuah bangsa. Pendidikan Indonesia memiliki konteks geografis, sosial, ekonomi, dan budaya yang sangat kompleks. Namun demikian, data tersebut tetap memberikan sebuah cermin perihal kemampuan literasi, numerasi, dan sains yang masih menjadi pekerjaan besar yang perlu dikerjakan secara berkelanjutan.
Di balik angka tersebut terdapat anak-anak yang belajar dalam situasi yang berbeda-beda. Ada anak yang tumbuh dalam keluarga dengan akses buku dan teknologi yang memadai. Ada anak yang harus berbagi gawai dengan saudaranya. Ada yang belajar di sekolah dengan fasilitas lengkap. Dan, ada pula yang belajar dalam keterbatasan geografis dan infrastruktur. Oleh karena itu, ketika berbicara tentang kualitas pendidikan, kita perlu melihat manusia yang berada di balik statistik tersebut.
Kita patut memahami bahwa kecerdasan saja tidak cukup. Bayangkan seorang anak yang sangat pandai matematika, menguasai teknologi, mampu menggunakan kecerdasan buatan, fasih berbahasa asing, dan memiliki kemampuan analitis yang tinggi. Semua itu tentu merupakan modal yang sangat luar biasa. Namun demikian, pertanyaan berikutnya adalah: bagaimana ia menggunakan kemampuan tersebut untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat atau untuk mengeksploitasi kelemahan orang lain, teknologi digunakan untuk memperluas pengetahuan atau menyebarkan kebohongan, dan kemampuan ekonomi digunakan untuk membangun kesejahteraan bersama atau sekadar memperbesar keuntungan pribadi?
Pada titik ini, akhlak mendapatkan tempat yang tidak dapat digantikan oleh kecerdasan teknis. Akhlak bukan sekadar sopan santun. Ia jauh lebih dalam. Akhlak menyangkut cara manusia memperlakukan sesama, menggunakan kekuasaan, bersikap ketika memperoleh keuntungan, memperlakukan orang yang lebih lemah, dan bertindak ketika tidak ada orang lain yang mengawasinya. Dengan demikian, pendidikan akhlak bukan tambahan kecil di pinggir kurikulum. Ia merupakan orientasi yang menentukan ke mana pengetahuan akan dibawa.
Kemajuan teknologi telah memperlihatkan paradoks kehidupan modern. Manusia semakin mampu menciptakan sesuatu yang sebelumnya dianggap mustahil. Kita dapat berkomunikasi dalam hitungan detik, melakukan transaksi tanpa uang tunai, belajar dari berbagai belahan dunia, menggunakan kecerdasan buatan untuk membantu pekerjaan, dan mengakses informasi dalam jumlah yang hampir tidak terbatas.
Tetapi pada saat yang sama, kemampuan manusia untuk menyebarkan kebencian, penipuan, manipulasi informasi, dan penghinaan juga semakin besar. Teknologi tidak memiliki moral dengan sendirinya. Yang menentukan arah teknologi adalah manusia. Oleh karena itu, semakin tinggi kemampuan teknis seseorang, semakin besar pula tanggung jawab moral yang melekat padanya.
Seorang programmer dapat menciptakan sistem yang membantu jutaan manusia. Tetapi, kemampuan yang sama juga dapat digunakan untuk membangun sistem yang merugikan orang lain. Seorang ahli komunikasi dapat menyebarkan pengetahuan yang mencerahkan, tetapi kemampuannya juga dapat dipakai untuk memanipulasi opini publik. Persoalannya bukan teknologinya. Persoalannya adalah manusia yang menggunakannya. Dengannya, pendidikan Indonesia tidak hanya cukup untuk mempersiapkan anak agar menjadi kompeten, tetapi juga perlu membantu mereka menjadi bertanggung jawab.
Kadang-kadang pendidikan karakter dan pendidikan intelektual seolah ditempatkan dalam dua ruang yang berbeda, padahal keduanya saling membutuhkan. Akhlak tanpa pengetahuan dapat membuat seseorang memiliki niat baik tetapi kurang mampu menyelesaikan persoalan secara efektif. Sebaliknya, pengetahuan tanpa akhlak dapat menghasilkan manusia yang sangat cakap tetapi kehilangan arah.
Idealnya bahwa pendidikan melahirkan manusia yang mampu melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Oleh karena itu, pendidikan yang sehat bukan pendidikan yang memilih antara intelektual atau akhlak. Pendidikan yang sehat justru mempertemukan keduanya dalam diri manusia. Anak perlu diajarkan cara berpikir, tetapi juga mengapa ia harus berpikir secara bertanggung jawab; perlu diajarkan bagaimana menggunakan teknologi, tetapi juga kapan teknologi tidak boleh digunakan untuk merugikan orang lain; dan perlu diajarkan cara memperoleh keberhasilan, tetapi juga bagaimana memperoleh keberhasilan tanpa mengorbankan martabat sesama.
Realitas Indonesia sesungguhnya memiliki banyak anak muda berprestasi. Mereka memenangkan kompetisi akademik, menciptakan inovasi, membangun usaha, mengembangkan teknologi, menghasilkan karya seni, dan berprestasi di berbagai bidang. Kenyataan tersebut patut diapresiasi. Namun pada saat yang sama, masyarakat juga menghadapi berbagai persoalan yang memperlihatkan pentingnya dimensi moral dalam pendidikan seperti budaya menyontek, perundungan, intoleransi, penyalahgunaan teknologi, penyebaran informasi bohong, hingga berbagai bentuk ketidakjujuran dalam kehidupan sehari-hari.
Kita tidak perlu melihat kenyataan tersebut dengan nada menghakimi generasi muda. Anak-anak dan remaja tidak tumbuh di ruang kosong. Mereka belajar dari keluarga, sekolah, lingkungan sosial, media, tokoh publik, bahkan dari perilaku orang dewasa di sekitarnya. Karakter seorang anak tidak hanya dibentuk oleh apa yang dikatakan guru di kelas, tetapi dibentuk oleh apa yang dilihatnya setiap hari.
Ketika anak mendengar orang dewasa berbicara tentang kejujuran tetapi menyaksikan ketidakjujuran dianggap biasa, ia menerima pesan moral yang membingungkan. Ketika anak diajarkan menghargai orang lain tetapi melihat penghinaan menjadi tontonan di ruang publik, ia belajar bahwa nilai dapat berubah tergantung siapa yang melakukannya. Oleh karena itu, pendidikan akhlak tidak mungkin hanya dibebankan kepada sekolah. Ia merupakan pekerjaan bersama.
Pembicaraan perihal pendidikan, bukan semata-mata pembicaraan tentang kurikulum, teknologi, sarana-prasarana, asesmen, dan kompetensi guru. Satu unsur yang sulit adalah keteladanan. Guru yang mengajarkan kejujuran tetapi juga berusaha jujur dalam kehidupannya sedang memberikan pelajaran yang lebih kuat daripada sekadar definisi tentang integritas. Guru yang mengakui kesalahan sedang mengajarkan bahwa manusia tidak menjadi hina karena mengakui kekeliruan. Guru yang menghargai murid sedang mengajarkan bahwa kekuasaan tidak harus melahirkan kesewenang-wenangan. Dan, guru yang mau mendengarkan sedang mengajarkan bahwa manusia memiliki martabat untuk didengar.
O;eh karena itu, pendidikan karakter tidak cukup disampaikan sebagai mata pelajaran. Karakter harus dialami, karena anak-anak belajar akhlak melalui pengalaman konkret. Mereka belajar berbagi ketika melihat orang dewasa berbagi. Mereka belajar menghormati ketika diperlakukan dengan hormat. Mereka belajar bertanggung jawab ketika orang dewasa di sekitarnya bertanggung jawab. Di sinilah pendidikan menjadi proses pembentukan manusia, bukan sekadar transfer pengetahuan.
Pada saat yang sama, sekolah tidak dapat bekerja sendirian. Keluarga merupakan ruang pendidikan pertama dan paling panjang dalam kehidupan seorang anak. Sebelum mengenal buku pelajaran, seorang anak terlebih dahulu mengenal cara orang tuanya berbicara. Sebelum memahami teori moral, ia melihat bagaimana orang dewasa memperlakukan orang lain. Pendidikan akhlak sesungguhnya dimulai jauh sebelum anak mengenal ruang kelas. Dengan demikian, pendidikan intelektual dan pendidikan akhlak bukan dua pekerjaan yang saling berebut ruang. Keduanya merupakan perjalanan yang seharusnya berlangsung bersama dari rumah, sekolah, masyarakat, dan dunia kerja.
Kita menyadari bahwa negara memberikan perhatian besar terhadap pendidikan. Dalam APBN 2026, anggaran pendidikan dialokasikan sekitar Rp.769,1 triliun atau 20 persen dari belanja negara. Anggaran tersebut diarahkan antara lain untuk peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana-prasarana, serta berbagai kebutuhan pendidikan. Besarnya anggaran menunjukkan bahwa pendidikan ditempatkan sebagai investasi penting negara.
Namun demikian, investasi pendidikan tidak semestinya hanya dihitung dari jumlah gedung yang dibangun, perangkat yang diberikan, atau program yang diluncurkan. Ukuran yang lebih dalam adalah manusia seperti apa yang tumbuh dari seluruh investasi tersebut.
Yang diharapkan adalah anak-anak yang bertumbuh menjadi lebih manusiawi. Tujuan akhir pendidikan bukan sekadar menghasilkan manusia yang mampu bekerja, tetapi manusia yang mampu menjalani kehidupan secara bermartabat. Pendidikan memang harus relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Anak-anak perlu memiliki keterampilan yang memungkinkan mereka memperoleh pekerjaan dan menciptakan lapangan kerja.
Namun demikian, manusia tidak boleh direduksi menjadi tenaga kerja. Seorang anak bukan hanya “calon tenaga kerja”. Ia adalah calon orang tua, warga negara, tetangga, pemimpin, sahabat, anggota masyarakat, dan manusia yang suatu hari akan mengambil keputusan-keputusan moral. Oleh karena itu, pendidikan harus mempersiapkan seseorang bukan hanya untuk mencari nafkah, tetapi juga untuk menjalani kehidupan; bagaimana agar dapat hidup, menghargai orang lain, dan tetap manusiawi ketika mengalami kesuksesan.
Kiranya pendidikan Indonesia perlu terus bergerak menuju keseimbangan antara tiga kepala, tangan, dan hati. Kepala adalah intelektualitas yakni kemampuan berpikir, membaca, memahami, menganalisis, dan menciptakan gagasan. Tangan adalah keterampilan yakni kemampuan mengubah pengetahuan menjadi karya nyata. Dan hati adalah akhlak yakni kemampuan menentukan apa yang baik, benar, adil, dan manusiawi.
Kepala tanpa tangan dapat menghasilkan gagasan yang tidak pernah menjadi kenyataan. Tangan tanpa kepala dapat menghasilkan pekerjaan tanpa arah. Dan, kepala dan tangan tanpa hati dapat menghasilkan kemajuan yang kehilangan kemanusiaan. Oleh karena itu, pendidikan yang ideal bukan hanya membuat anak menjadi pintar, terampil, dan baik. Pendidikan yang ideal harus membantu anak menjadi manusia yang cerdas, cakap, dan berkarakter.
Pada akhirnya, pendidikan bukan supaya anak mendapatkan nilai sepuluh atau menguasai teknologi terbaru, tetapi manusia seperti apa yang sedang kita bentuk. Kita tentu menginginkan generasi yang mampu bersaing secara global. Kita membutuhkan ilmuwan, dokter, guru, insinyur, teknisi, pengusaha, seniman, petani modern, pemimpin, dan berbagai profesi lainnya. Tetapi, di balik semua profesi itu terdapat manusia yang membutuhkan lebih dari sekadar kecerdasan. Lebih dari itu membutuhkan kebijaksanaan, empati, integritas, dan kejujuran
Oleh karena itu, pendidikan Indonesia tidak perlu memilih antara intelektual, teknis, atau akhlak. Ketiganya harus dipertemukan. Intelektualitas memberi manusia kemampuan untuk memahami. Keterampilan teknis memberi manusia kemampuan untuk melakukan. Akhlak memberi manusia kebijaksanaan untuk menentukan apa yang seharusnya dilakukan.
Pendidikan harus menemukan keseimbangannya, sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang memiliki manusia-manusia pintar dan terampil. Bangsa yang benar-benar maju adalah bangsa yang memiliki manusia yang mampu menggunakan kepintaran dan keterampilannya dengan tanggung jawab.
Dan, pendidikan bukan sekadar tentang membuat manusia agar menjadi lebih tahu dan lebih mampu. Pendidikan adalah perjalanan panjang agar manusia menjadi lebih bijaksana dalam menggunakan apa yang diketahuinya dan apa yang mampu dilakukannya untuk memastikan bahwa kemajuan teknologi tidak membuat kita kehilangan kemanusiaan, dan kecerdasan tidak membuat kita lupa kepada akhlak.
Baca Juga:
Tentang Penulis
Andreas Neke, S.Ag., B.Th.
Pendidik dan penulis asal Flores, Nusa Tenggara Timur.
→ Lihat Profil PenulisMenyukai tulisan tentang makna hidup dan pergulatan manusia?
Temukan gagasan lebih mendalam dalam buku Remaja dan Pergumulan Jati Dirinya.
Lihat Buku →