Ada warisan yang dapat disertifikatkan, diukur dengan meter persegi, diwariskan melalui surat, lalu dicatat atas nama seseorang. Tetapi ada pula warisan yang tidak pernah tercetak di atas kertas, tidak memiliki batas-batas tanah, dan tidak dapat dibawa pulang sebagai milik pribadi. Warisan semacam itu hanya dapat diterima oleh hati yang bersedia memikulnya.
Kisah ini adalah kisah nyata. Tidak ada bumbu untuk membuatnya terasa lebih manis. Tidak ada kata-kata yang sengaja dipoles agar kenyataan terdengar lebih indah daripada yang sebenarnya. Ia lahir dari sebuah pengalaman hidup seorang laki-laki Bajawa yang sejak kecil belajar bahwa dalam kebudayaan Ngadhu-Bhaga, dengan Sa'o sebagai salah satu pusat kehidupan, seorang laki-laki tidak selalu hadir untuk memiliki. Ia justru hadir untuk menjaga.
Saya adalah cucu terbesar dari seorang perempuan yang sepanjang hidupnya saya kenal sebagai Nenek Boy. Nama lengkapnya Maria Moi. Bagi banyak orang, ia mungkin hanya seorang perempuan tua yang menjalani hidup seperti perempuan-perempuan lain di kampung. Tetapi bagi saya, ia adalah rumah yang memiliki suara.
Nenek adalah perempuan yang teguh dalam prinsip, tetapi lembut dalam kasih sayang. Ia dikenal sebagai orang yang sering membantu ibu-ibu yang belum atau tidak memiliki momongan agar mendapatkan anak. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuat orang datang bukan hanya untuk meminta pertolongan, tetapi juga untuk menemukan harapan.
Bagi saya sendiri, kasih sayangnya hampir tidak mengenal syarat. Apa pun yang saya minta, sepanjang berkaitan dengan kebaikan dan masa depan, hampir selalu ia kabulkan. Tetapi kasih sayang itu memiliki batas yang sangat jelas. Ketika saya menyentuh prinsip dasar kehidupan, maka tidak ada kompromi.
Nenek tidak pernah mengajari saya bahwa hidup adalah tentang mendapatkan sebanyak mungkin. Ia justru mengajari saya bahwa semakin besar kepercayaan yang diberikan kepada seseorang, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipikulnya. Saya baru memahami pelajaran itu bertahun-tahun kemudian.
Sekitar satu atau dua tahun sebelum napas terakhirnya, pada suatu sore di depan perapian dapur, Nenek memanggil saya. Api menyala pelan. Asap bergerak mengikuti arah angin. Suasana sore itu seperti sore-sore biasa, tetapi kalimat yang keluar dari mulutnya kemudian menjadi salah satu kalimat yang paling panjang hidupnya di dalam ingatan saya.
"Ingat. Kamu anak laki-laki. Di tanah ini, kamu tidak punya hak atas sejengkal pun tanah untuk dirimu sendiri."
Saya terdiam. Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut saya. Saya hanya mendengarkan. Sebagai cucu terbesar, kalimat itu terasa seperti sebuah keputusan. Seperti pintu yang tiba-tiba ditutup di depan mata saya. Dalam ukuran kehidupan modern, mungkin kalimat itu terdengar seperti kehilangan. Seorang cucu yang dicintai, tetapi tidak diberi tanah, bahkan sejengkal saja.
Namun Nenek belum selesai. Ia memperlihatkan telapak tangannya yang kasar dan Keriput. Telapak tangan seorang perempuan yang sepanjang hidupnya lebih banyak bekerja daripada berbicara tentang kerja. Dari telapak tangan itulah ia seperti sedang menunjukkan kepada saya sebuah sejarah panjang tentang tanah yang digarap, tentang keluarga yang dibangun, tentang kejujuran yang dipertahankan, dan tentang hidup yang tidak pernah boleh dipisahkan dari tanggung jawab.
"Tetapi," katanya, "kamu memegang kunci kebijaksanaan." Kalimat itu membuat saya kembali mengangkat kepala. "Kamu tidak memiliki tanahnya. Tetapi kamu memiliki tanggung jawab atas kehidupan saudari-saudari dan ponakan-ponakanmu. Pastikan tanah-tanah itu menghidupi mereka. Pastikan mereka bekerja dengan giat dan dengan hati yang bersih."
Pada saat itu saya belum sepenuhnya memahami apa yang dimaksudkannya. Saya hanya tahu bahwa saya tidak mendapatkan tanah. Tetapi ternyata, saya mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berat daripada tanah. Saya mendapatkan kepercayaan.
Dalam kehidupan masyarakat Bajawa-Ngada yang berakar pada sistem kekerabatan matrilineal, tanah dan rumah adat bukan sekadar benda ekonomi. Ia berkaitan dengan identitas, kesinambungan keluarga, dan keberadaan sebuah garis keturunan. Sa'o bukan hanya bangunan tempat berlindung dari hujan dan panas. Ia adalah ruang tempat ingatan leluhur, kehidupan keluarga, adat, dan masa depan generasi bertemu. Oleh karena itu, ketika Nenek membagi aset tanah secara merata kepada ketiga saudari saya, saya akhirnya memahami bahwa keputusan itu bukan bentuk pengabaian terhadap saya sebagai laki-laki.
Justru sebaliknya. Ia sedang menempatkan saya pada sebuah posisi yang tidak dapat dibeli oleh tanah. Saudari-saudari saya menerima tanah. Saya menerima tanggung jawab. Mereka menerima hak untuk memiliki. Saya menerima kewajiban untuk menjaga. Di situlah saya mulai memahami bahwa tidak semua mahkota memiliki takhta.
Ada mahkota yang tidak terlihat. Ia tidak terbuat dari emas, tidak dikenakan di kepala, dan tidak membuat seseorang menjadi lebih tinggi daripada orang lain. Ia berupa kepercayaan yang diberikan keluarga kepada seseorang untuk menjadi penengah ketika kepentingan mulai bertabrakan.
Saya berdiri di antara saudari-saudari saya bukan sebagai pemilik, melainkan sebagai pengatur, penengah, dan pelindung. Saya harus memastikan atap Sa'o tidak dibiarkan bocor. Saya harus memastikan kehidupan adat tetap berjalan. Tetapi tugas saya yang paling berat bukanlah memperbaiki atap atau mengurus tanah. Tugas yang paling berat adalah menjaga agar saudari-saudari saya tetap menjadi saudari bagi saya.
Sebab warisan sering kali tidak hanya membawa kesejahteraan. Warisan juga dapat membawa persoalan. Tanah yang seharusnya menjadi sumber kehidupan kadang dapat berubah menjadi sumber pertengkaran. Hak yang seharusnya menjadi jalan menuju kesejahteraan dapat berubah menjadi alasan untuk saling menjauh.
Di sanalah seorang laki-laki dalam posisi seperti saya diuji. Saya bukan hakim dalam pengadilan. Tidak ada gaji untuk pekerjaan itu. Tidak ada sertifikat yang menyebutkan jabatan saya. Tidak ada penghargaan yang dapat digantungkan di dinding. Tetapi ketika badai kehidupan datang, mereka mencari saya. Ketika ada persoalan, mereka memanggil saya. Ketika ada perbedaan pendapat, saya harus duduk di tengah. Saya tidak memiliki tanah itu, tetapi saya harus memastikan tanah itu tidak kehilangan maknanya.
Beberapa tahun setelah Nenek berpulang, ujian itu akhirnya datang. Salah seorang saudari saya berniat menjual bagian tanahnya. Saya tahu keputusan itu mungkin lahir dari kebutuhan. Saya tidak ingin menghakiminya. Saya tidak memarahinya. Saya hanya mengajaknya duduk di tempat yang dahulu sering ditempati Nenek.
Di tempat yang sama. Di ruang yang sama. Di bawah ingatan yang sama. Saya berbicara kepadanya dengan suara yang tenang.
"Nenek menitipkan tanah ini untuk masa depan anak-anakmu dan ponakan-ponakan saya. Kalau tanah ini hilang, ke mana mereka akan pulang?" Saya berhenti sejenak. Kemudian saya melanjutkan, "Kalau kamu membutuhkan bantuan, saya adalah kakimu. Kalau kamu lelah, saya adalah bahumu. Tetapi tanah ini adalah identitas kita. Jangan biarkan api di rumah ini padam hanya karena kita silau oleh uang dan kesenangan sesaat."
Saya tidak tahu apakah kalimat itu langsung mengubah pikirannya. Tetapi saat mengucapkannya, saya sendiri tiba-tiba memahami pesan Nenek. Barangkali selama ini saya salah memahami arti "tidak memiliki". Nenek tidak sedang memiskinkan saya. Ia sedang membebaskan saya.
Dengan tidak memberikan tanah kepada saya, ia seperti sedang melepaskan saya dari godaan untuk mempertahankan sesuatu sebagai milik pribadi. Saya tidak memiliki bagian yang harus saya perjuangkan untuk diri sendiri. Karena itu, ketika saya berbicara kepada saudari-saudari saya, saya dapat berdiri di tengah tanpa membawa kepentingan pribadi.
Saya tidak perlu berkata, "Ini tanah saya." Saya hanya perlu berkata, "Ini tanah kita." Dan mungkin justru karena itulah kata-kata saya memiliki bobot.
Dalam dunia yang sering mengukur keberhasilan manusia dari apa yang dimiliki, pengalaman ini menawarkan ukuran kekayaan yang berbeda. Ada orang yang memiliki banyak tanah tetapi tidak memiliki tempat untuk pulang. Ada orang yang memiliki rumah besar tetapi tidak memiliki keluarga yang bersedia duduk bersama. Ada orang yang memiliki banyak harta tetapi tidak memiliki seseorang yang mempercayai perkataannya. Dan, ada pula seseorang yang tidak memiliki sejengkal tanah atas namanya, tetapi ketika ia datang, sebuah keluarga merasa lebih tenang.
Saya mulai memahami bahwa kekayaan yang paling sulit diperoleh bukanlah tanah. Kekayaan itu adalah kepercayaan. Kini Nenek telah tiada. Tidak ada lagi suaranya di depan perapian. Tidak ada lagi telapak tangannya yang kasar untuk saya lihat. Tidak ada lagi kalimat tajam yang keluar dari mulutnya dengan ketenangan seorang perempuan yang telah selesai berdamai dengan hidup.
Tetapi pesannya masih hidup. Setiap kali saya melihat ponakan-ponakan saya berlari di halaman Sa'o, saya seperti melihat kembali wajah Nenek. Mereka tertawa. Mereka bermain. Mereka belum memahami betapa beratnya sejarah yang sedang mereka warisi.
Dan saya tersenyum. Sebab pada saat itulah saya merasa menjadi laki-laki yang paling kaya. Bukan karena memiliki tanah. Bukan karena memiliki rumah. Bukan karena memiliki harta. Tetapi karena masih memiliki tempat untuk menjaga.
Saya akhirnya memahami bahwa dalam kebudayaan saya, menjadi laki-laki tidak selalu berarti berdiri paling depan untuk menguasai. Kadang-kadang justru berarti berdiri di belakang agar yang lain tetap memiliki ruang untuk tumbuh. Menjadi laki-laki bukan selalu tentang berkata, "Ini milikku." Kadang-kadang kemuliaan justru terletak pada keberanian berkata, "Ini bukan milikku, tetapi aku bertanggung jawab menjaganya."
Itulah mahkota saya. Mahkota tanpa takhta. Saya tidak memiliki tanah itu, tetapi saya menjaga agar tanah itu tetap menjadi sumber kehidupan. Saya memiliki Sa'o, dan tetap menjaganya agar rumah itu tetap menjadi tempat pulang. Saya tidak memegang harta warisan, tetapi saya memegang sesuatu yang lebih rapuh sekaligus lebih berharga yaitu persaudaraan.
Dan mungkin, pada akhirnya, itulah makna terdalam dari menjadi seorang laki-laki Bajawa. Bukan menjadi pemilik segala sesuatu. Melainkan menjadi penjaga ketika semua orang mulai lupa bahwa sesuatu yang paling berharga dalam hidup bukanlah apa yang dapat kita klaim sebagai milik kita, tetapi apa yang tetap kita jaga meskipun kita tidak pernah memilikinya.
Api Sa'o boleh menyala karena kayu. Tetapi rumah hanya akan tetap hidup karena manusia yang bersedia menjaga persaudaraan. Dan, selama saya masih berdiri di sana, saya akan tetap menjadi laki-laki yang tidak memiliki tanah untuk diri saya sendiri, tetapi memiliki tanggung jawab untuk memastikan agar tanah itu tetap menjadi rumah bagi generasi sesudah saya.
Saya adalah laki-laki Bajawa. Saya bukan pemilik. Saya adalah penjaga. Dan justru di situlah, saya menemukan kemuliaan.
Baca Juga:
Tentang Penulis
Andreas Neke, S.Ag., B.Th.
Pendidik dan penulis asal Flores, Nusa Tenggara Timur.
→ Lihat Profil PenulisMenyukai tulisan tentang makna hidup dan pergulatan manusia?
Temukan gagasan lebih mendalam dalam buku Remaja dan Pergumulan Jati Dirinya.
Lihat Buku →