ADVERTISEMENT
Filsafat & Teologi

Kebenaran dan Retaknya Ruang Komunal menurut Socrates

Andreas Neke. 22 August 2026 33 kali dibaca
Kebenaran dan Retaknya Ruang Komunal menurut Socrates

Di sebuah sudut pasar Athena abad ke-5 SM, Socrates menghabiskan hari-harinya tidak dengan menulis buku atau mengumpulkan pengikut yang patuh. Ia berjalan mengelilingi Agorá, mendekati pedagang, politisi, penyair, dan anak muda, lalu mengajukan "pertanyaan" yang merupakan ha yang paling dibenci oleh orang-orang yang merasa pintar. Socrates tidak sedang menjajakan kebenaran; ia sedang menguji apakah apa yang diyakini masyarakat Athena sebagai "kebenaran" memang memiliki dasar logis yang kokoh atau sekadar anggapan bersama yang diulang-ulang hingga dianggap fakta. Dalam terminologi filsafat Yunani Kuno, Socrates bertarung melawan doxa, opini publik yang dangkal, emosional, dan rapuh.


Lompat melintasi ribuan tahun ke abad ke-21. Panggung Agorá Yunani telah menyusut ke dalam layar kaca berukuran beberapa inci yang kita genggam setiap hari. Algoritma media sosial kini mengambil alih peran kaum Sophis, para pengajar retorika di zaman Athena yang menjual kelapangan dada palsu dan kepandaian berdebat demi uang dan pengaruh. Bedanya, jika kaum Sophis butuh jam kerja untuk mempengaruhi pikiran warga, algoritma digital bekerja 24 jam sehari, mempelajari ketakutan, amarah, dan keinginan terdalam kita, lalu menyajikannya dalam bentuk umpan narasi yang dirancang khusus untuk membuat kita terus mengetuk layar.


Kritik Socrates terhadap opini publik menemukan gema yang begitu menyengat hari ini. Ironisnya, krisis kebenaran di era digital tidak lagi hanya berlangsung di arena politik makro atau perdebatan akademis. Panggung pertempuran doxa modern telah menerobos tembok paling intim dalam hidup kita, yakni meja makan keluarga, grup WhatsApp kerabat, dan ruang saling sapa dalam komunitas warga sehari-hari.


Bagi Socrates, kebenaran (aletheia) bukanlah sesuatu yang bisa ditentukan melalui pemungutan suara. Kebenaran tidak menjadi benar hanya karena diyakini oleh seribu orang, sebagaimana kebohongan tidak menjadi fakta hanya karena disebarkan oleh satu juta akun. Namun, media sosial bekerja dengan logika yang bertolak belakang secara ekstrem dari prinsip Sokratik ini.


Di platform digital, matrik keberhasilan sebuah informasi bukanlah ketepatan data atau kedalaman analisis, melainkan tingkat keterlibatan (engagement). Algoritma tidak dirancang untuk mencari apa yang jujur, melainkan apa yang memicu reaksi tercepat dan terkuat. Dan, emosi manusia yang paling cepat memicu reaksi adalah rasa takut, amarah, dan kekecewaan.


Ketika sebuah narasi bermuatan provokasi masuk ke dalam linimasa, otak kita meresponsnya sebelum akal budi sempat melakukan verifikasi. Kita menekan tombol bagikan (share) bukan karena kita telah membuktikan kebenarannya melalui perenungan, melainkan karena narasi tersebut mewakili amarah yang sedang kita rasakan. Di titik inilah doxa modern terbentuk. Ia diproduksi secara massal, diamplifikasi oleh algoritma, dan dikonsumsi oleh masyarakat yang kelelahan secara mental. Kita tidak lagi mencari kebenaran, melainkan sedang mencari konfirmasi atas prasangka kita sendiri.


Socrates percaya bahwa jalan menuju kebenaran adalah melalui dialektika, yakni sebuah proses dialog yang jujur, terbuka, dan sering kali tidak nyaman, di mana dua orang yang berbeda pandangan saling menguji argumen demi mendekati hakikat kebenaran. Dalam proses ini, seseorang harus siap menerima kenyataan bahwa gagasannya salah. Socrates menyebut momen kesadaran akan ketidaktahuan ini sebagai aporia, yakni sebuah kebingungan yang menyelamatkan, sebuah pintu masuk menuju kearifan.


Namun demikian, arsitektur media sosial secara sistematis mematikan kemungkinan terjadinya aporia. Fitur ikuti (follow), blokir (block), dan algoritma penyesuaian konten menciptakan apa yang kita kenal sebagai echo chamber atau ruang gema. Kita hanya dipertemukan dengan orang-orang yang berpikir sama, menyukai hal yang sama, dan membenci musuh yang sama.


Di dalam ruang gema ini, pikiran kita tidak pernah diuji, tetapi hanya dibelai. Ketika kita hanya mendengarkan pantulan suara kita sendiri yang dipantulkan kembali oleh dinding-dinding digital, kepercayaan diri kita atas sebuah anggapan meningkat secara tidak proporsional. Orang yang berbeda pandangan tidak lagi dilihat sebagai teman berdialog untuk mencari kebenaran, melainkan sebagai musuh yang harus dihancurkan atau orang bodoh yang harus disingkirkan. Dialektika runtuh, digantikan oleh monolog massal yang saling berteriak.


Tragedi paling nyata dari dominasi doxa digital ini terasa dalam lingkaran hidup sehari-hari. Dahulu, keluarga dan komunitas lokal adalah benteng pertahanan sosial, dalam mana menjadi tempat orang belajar bersabar, menerima perbedaan, dan saling mengasihi meskipun berbeda pandangan. Namun seiring berkembangnya waktu, arus informasi yang terpolarisasi kini merembes tanpa permisi ke dalam ruang-ruang domestik tersebut.


Banyak dari kita menyaksikan grup WhatsApp keluarga yang tadinya berisi ucapan selamat pagi, foto cucu, dan doa bersama—berubah menjadi medan tempur retorika politik atau debat hoaks kesehatan. Sebuah tautan dari sumber yang tidak jelas, yang dibagikan oleh seorang paman dengan niat baik, bisa memicu perdebatan sengit dengan keponakannya yang berpendidikan tinggi. Paman merasa kehormatan dan pengalamannya dilecehkan, sementara keponakan merasa frustrasi oleh ketidakmampuan seniornya menyaring fakta.


Dalam ruang komunitas warga, fenomena ini tidak kalah destruktifnya. Isu-isu lokal yang seharusnya bisa diselesaikan dengan duduk bersama sambil minum teh, kini kerap membesar karena dibakar oleh prasangka yang dipupuk di media sosial. Isu perbedaan suku, keyakinan, atau pilihan politik lokal mendadak dipenuhi ketegangan karena setiap pihak membawa prasangka yang telah dibakar oleh echo chamber mereka masing-masing.


Ketika opini publik yang tak teruji dibiarkan mengendalikan cara kita berinteraksi, ikatan sosial dan emosional yang telah dibangun bertahun-tahun dalam keluarga dan komunitas dapat terputus hanya dalam hitungan detik. Kita lupa bagaimana cara mendengarkan dengan kasih, karena kita telah terlatih di media sosial untuk langsung memotong dan menghakimi.


Jika Socrates hidup hari ini, ia mungkin tidak akan mengajak kita membuang gawai kita ke laut, melainkan mengajak kita menguasai kembali cara kita berpikir ketika menggunakannya. Memulihkan keutamaan berpikir kritis di era ruang gema bukanlah kemewahan akademis, melainkan sebuah kebutuhan eksistensial demi menyelamatkan kemanusiaan dan keharmonisan hidup bersama. Dengannya metode Sokratik menyediakan kompas etis yang sangat praktis untuk menavigasi rimba informasi modern melalui beberapa langkah sederhana namun mendalam.



Langkah pertama adalah memiliki keberanian mental untuk menjeda reaksi. Saat melihat berita yang membuat dada kita sesak oleh amarah atau jempol kita gatal untuk membagikannya, berhenti sejenak. Katakan pada diri sendiri, "Saya belum tentu tahu seluruh kebenarannya." Ini adalah sikap aporia, yakni menolak diperalat oleh emosi instan dan memberi ruang bagi akal budi untuk bekerja.


Langkah kedua adalah pengujian argumen (elenchos) secara mandiri. Sebelum memercayai atau menyebarkan suatu informasi, ajukan pertanyaan-pertanyaan dasar sebagaimana Socrates menguji warga Athena, yang bersumber dari fakta yang terverifikasi atau sekadar emosi pembuatnya, sumber asli informasi ini dan apa kepentingan di balik penyebarannya, dan faktanya kuat atau hanya karena ingin ini benar.


Langkah ketiga adalah mendengarkan dengan niat memahami, bukan supaya menang. Dalam interaksi keluarga atau komunitas, ketika perbedaan pendapat muncul, kita perlu mengganti dorongan untuk membantai argumen lawan dengan pertanyaan yang menggali kebenaran, tanpa menyerang kehormatan seseorang.


Langkah kelima adalah menempatkan keutamaan iiwa di atas kemenangan debat. Socrates selalu menegaskan bahwa tujuan akhir dari pencarian kebenaran adalah kebaikan jiwa (psyche). Memenangkan debat di grup keluarga dengan cara mempermalukan kerabat bukanlah sebuah kemenangan. Itu adalah kekalahan etis. Kebenaran yang disampaikan tanpa kasih dan kebijaksanaan, hanya akan menjadi senjata yang melukai hubungan interpersonal.


Dan langkah keenam adalah menjaga kemerdekaan berpikir dan kehangatan bersama. Persidangan Socrates pada tahun 399 SM adalah peringatan abadi bagi peradaban manusia tentang betapa bahayanya ketika opini publik yang terprovokasi, jika diberi kekuasaan absolut tanpa kendali akal sehat. Mayoritas warga Athena memutuskan untuk menghukum mati Socrates karena ia dianggap mengganggu kenyamanan tatanan sosial dengan pertanyaan-pertanyaannya. Namun, sejarah mencatat bahwa mayoritas suara tersebut berdiri di atas fondasi yang salah, dan nama Socrates tetap abadi sebagai simbol kemerdekaan berpikir.


Di era digital dewasa ini, kita semua berisiko menjadi bagian dari massa Athena yang mudah terprovokasi, sekaligus menjadi korban dari penghakiman massa yang tidak adil. Algoritma media sosial akan terus mencoba mengotakkan kita ke dalam sudut-sudut radikal yang saling membenci. Namun demikian, keputusan akhir selalu ada di tangan kita masing-masing.


Setiap kali kita memilih untuk tidak membagikan informasi yang belum teruji, melangkah keluar dari echo chamber untuk mendengarkan sudut pandang yang berbeda, dan setiap kali kita memilih untuk merawat hubungan keluarga di atas keinginan memenangkan perdebatan yang sepele, kita sedang menghidupkan kembali warisan Socrates. Kebenaran mungkin tidak selalu populer, dan jalan menuju ke sana sering kali sunyi. Namun, di dalam kesunyian berpikir kritis itu, kita menemukan kembali kejernihan akal dan kehangatan hidup bersama yang sejati.



ADVERTISEMENT
Andreas Neke

Tentang Penulis

Andreas Neke, S.Ag., B.Th.

Pendidik dan penulis asal Flores, Nusa Tenggara Timur.

→ Lihat Profil Penulis

Menyukai tulisan tentang makna hidup dan pergulatan manusia?

Temukan gagasan lebih mendalam dalam buku Remaja dan Pergumulan Jati Dirinya.

Lihat Buku →
Remaja dan Pergumulan Jati Dirinya