Kebebasan menurut Sartre: Manusia dan “Beban” Memilih
Ada satu hal yang sering kita inginkan dalam hidup, tetapi sekaligus sering kita takuti, yakni kebebasan. Kita ingin bebas menentukan jalan hidup, memilih pekerjaan, menentukan pasangan, menyatakan pendapat, dan mengambil keputusan tanpa terlalu banyak campur tangan orang lain. Namun demikian, ketika kebebasan itu benar-benar diletakkan di tangan kita, tiba-tiba muncul kegelisahan, sebab di balik kebebasan terdapat sesuatu yang tidak selalu menyenangkan, yaitu tanggung jawab.
Jean-Paul Sartre membawa persoalan ini ke titik yang sangat radikal. Bagi Sartre, manusia adalah makhluk yang tidak dapat melarikan diri dari kebebasan. Manusia bukan hanya memiliki kebebasan; dalam arti tertentu, manusia dikutuk untuk bebas (condemned to be free). Kita bebas karena tidak ada hakikat tetap yang sepenuhnya menentukan siapa diri kita sebelum kita menjalani kehidupan. Oleh karena itu, kebebasan, bukan hadiah yang selalu terasa indah. Ia juga merupakan beban. Kita bebas memilih, tetapi karena kita bebas memilih, kita tidak dapat sepenuhnya menyalahkan orang lain atas pilihan hidup kita. Di sinilah filsafat Sartre menjadi keras, tetapi sekaligus menggugah.
Salah satu gagasan paling terkenal dalam filsafat Sartre adalah "eksistensi mendahului esensi" (existence precedes essence). Untuk memahami gagasan ini, kita dapat membayangkan sebuah benda seperti kursi. Sebelum kursi dibuat, pembuatnya sudah memiliki gambaran mengenai apa yang akan dibuat. Fungsi dan bentuknya sudah dirancang. Dan, kursi dibuat untuk menjadi kursi.
Nmaun, manusia berbeda. Manusia tidak dilahirkan dengan sebuah "rancangan akhir" yang menentukan secara mutlak siapa manusia itu harus menjadi. Kita lahir ke dunia. Kita kemudian menjalani kehidupan, membuat pilihan, mengambil keputusan, serta melakukan tindakan. Dan melalui semua itu, sedikit demi sedikit kita membentuk diri kita sendiri.
Dengan demikian, manusia bukan sekadar menemukan dirinya; manusia juga menciptakan dirinya melalui pilihan-pilihannya. Seseorang tidak dapat terus berkata, "Saya memang begini." Kalimat tersebut, bagi Sartre, patut dicurigai apabila digunakan untuk menghindari tanggung jawab melalui perkataan seperti, "Saya memang pemarah." "Saya memang tidak bisa jujur." "Saya memang seperti ini." Atau, "Saya terpaksa menjadi seperti ini."
Sartre akan mengajak kita bertanya: Benarkah demikian? Mungkin masa lalu memengaruhi kita. Keluarga membentuk kita. Lingkungan sosial memberi tekanan. Ekonomi membatasi pilihan. Dan, pengalaman buruk meninggalkan luka. Semua itu nyata. Tetapi manusia tetap memiliki ruang untuk menentukan sikapnya terhadap semua keadaan tersebut. Di situlah kebebasan muncul.
Kita tidak memilih semua keadaan, tetapi kita memilih sikap. Sartre tidak sedang mengatakan bahwa manusia bebas dalam arti dapat melakukan apa saja. Kita tidak memilih dilahirkan dari keluarga mana, tempat kelahiran di mana, memilih masa lalu, atau keadaan ekonomi. Kita tidak dapat mengendalikan apa yang dilakukan orang lain terhadap kita, karena ada begitu banyak hal yang berada di luar kendali manusia.
Tetapi, Sartre menempatkan kebebasan pada sesuatu yang lebih mendasar, yakni apa yang kita lakukan terhadap keadaan yang tidak kita pilih itu. Dua orang dapat mengalami kegagalan yang sama. Yang satu menjadikannya alasan untuk menyerah, dan yang lain menjadikannya alasan untuk bangkit. Keadaannya mungkin sama, tetapi responsnya berbeda. Di dalam ruang kecil antara keadaan dan respons itulah kebebasan bekerja. Oleh karena itu, kebebasan bukan berarti memiliki kendali atas seluruh dunia. Kebebasan berarti menyadari bahwa diri kita masih memiliki kemungkinan untuk memilih. Dan, kemungkinan itu tidak pernah sepenuhnya hilang selama kita masih mampu mengambil sikap.
Namun demikian, jika manusia benar-benar bebas, mengapa kebebasan sering terasa menakutkan? Jawabannya karena kebebasan berarti tidak ada orang lain yang dapat mengambil seluruh tanggung jawab keputusan kita. Ketika kita memilih, kita sadar bahwa kita dapat memilih yang lain.
Kesadaran ini melahirkan kecemasan eksistensial. Bayangkan seseorang berdiri di persimpangan jalan. Tidak ada papan yang mengatakan dengan pasti jalan mana yang harus dipilih. Tidak ada suara dari langit yang menjamin bahwa pilihannya akan benar. Ia harus memilih. Dan setelah memilih, ia harus hidup dengan konsekuensinya. Itulah kecemasan kebebasan.
Manusia sering ingin memiliki kebebasan sekaligus kepastian. Kita ingin memilih sendiri, tetapi ingin ada orang yang menjamin bahwa pilihan kita pasti benar. Kita ingin menjadi penentu hidup sendiri, tetapi ketika pilihan itu gagal, kita ingin mencari seseorang untuk disalahkan.
Sartre menolak pelarian semacam itu. Baginya, kebebasan berarti keberanian untuk berdiri di hadapan ketidakpastian dan berkata, "Saya memilih ini, dan saya bertanggung jawab atas pilihan saya."
Sartre juga memperkenalkan konsep yang sangat penting, yakni mauvaise foi atau bad faith alias ketidakjujuran terhadap diri sendiri. Bad faith terjadi ketika seseorang menyangkal kebebasannya sendiri dengan berpura-pura bahwa dirinya tidak memiliki pilihan. Kita mengambil contoh ketika seseorang berkata, "Saya hanya menjalankan perintah." "Saya tidak punya pilihan." "Semua orang melakukan hal yang sama." "Keadaan memaksa saya." "Saya memang harus begini."
Kadang-kadang memang ada keadaan yang sangat membatasi. Namun Sartre mengingatkan bahwa manusia sering menggunakan keadaan sebagai alasan untuk membebaskan dirinya dari tanggung jawab. Seorang pegawai mungkin berkata bahwa ia hanya mengikuti aturan. Seorang pejabat mungkin berkata bahwa ia hanya mengikuti sistem. Seorang anak mungkin berkata bahwa ia hanya mengikuti keinginan orang tua. Seseorang yang menyakiti orang lain mungkin berkata bahwa ia dibentuk oleh masa lalu.
Semua penjelasan itu mungkin memiliki unsur kebenaran, tetapi jika digunakan untuk mengatakan bahwa "saya sama sekali tidak bertanggung jawab", di situlah bad faith muncul. Manusia berbohong bukan hanya kepada orang lain. Manusia juga dapat berbohong kepada dirinya sendiri. Ia meyakinkan dirinya bahwa dirinya hanyalah korban keadaan, padahal mungkin masih ada ruang untuk memilih.
Sartre juga menyinggung tenang masa lalu, tetapi ia tidak mengajarkan bahwa masa lalu tidak penting. Masa lalu adalah bagian dari kehidupan kita, tetapi masa lalu tidak identik dengan seluruh diri kita. Seseorang pernah gagal, tetapi ia tidak harus selamanya menjadi "orang gagal". Seseorang pernah berbuat salah, tetapi ia tidak harus selamanya menjadi "orang jahat". Seseorang pernah miskin, tetapi kemiskinan tidak secara otomatis menentukan seluruh masa depannya. Dan, seseorang pernah mengalami penderitaan, tetapi penderitaan itu tidak harus menjadi satu-satunya definisi dirinya.
Alasannya karena manusia selalu memiliki kemungkinan untuk melampaui apa yang sudah terjadi. Kita adalah makhluk yang selalu menuju sesuatu. Sartre menyebut dimensi ini melalui gagasan tentang manusia sebagai proyek. Kita tidak pernah sepenuhnya selesai. Kita selalu sedang menjadi. Hari ini kita adalah hasil dari pilihan kemarin, tetapi kita juga merupakan kemungkinan dari pilihan yang kita ambil hari ini.
Ada kesalahpahaman umum tentang kebebasan, manakala memahaminya berarti saya boleh melakukan apa saja yang saya inginkan. Sartre membawa persoalan itu lebih jauh. Jika saya memilih, maka saya tidak hanya memilih untuk diri sendiri. Pilihan saya menunjukkan gambaran tentang manusia seperti apa yang saya anggap layak. Ketika saya memilih kejujuran, saya bukan hanya mengatakan bahwa kejujuran baik untuk saya. Secara tidak langsung, saya menegaskan bahwa kejujuran adalah nilai yang layak dijalani manusia. Ketika saya memilih kekerasan, saya juga sedang mengafirmasi suatu cara tertentu dalam memperlakukan manusia.
Oleh karena itu, kebebasan memiliki dimensi universal. Pilihan pribadi memiliki konsekuensi yang melampaui diri pribadi. Pada titik ini kebebasan bertemu dengan tanggung jawab moral. Kita bertanggung jawab atas apa yang kita pilih. Sartre memberikan tekanan besar pada tanggung jawab. Kita mungkin tidak bertanggung jawab atas semua hal yang terjadi kepada kita, tetapi kita bertanggung jawab atas bagaimana kita meresponsnya. Ini bukan gagasan yang mudah diterima, karena akan lebih mudah mengatakan bahwa saya gagal karena orang lain, keluarga, keluarga kita yang salah, lingkungan, pemerintah, sekolah, pasangan, teman, atau keadaan.
Kadang-kadang semua itu memang memiliki kontribusi nyata. Sartre mengingatkan bahwa terus-menerus memindahkan tanggung jawab kepada pihak lain dapat membuat kita kehilangan kekuatan untuk mengubah hidup. Ketika kita berkata, "Saya tidak punya pilihan," kita sekaligus berkata, "Saya tidak memiliki kekuatan", padahal mungkin masih ada satu hal yang dapat kita pilih, yakni sikap kita.
Namun demikian, kebebasan menurut Sartre tidak berlangsung dalam ruang kosong karena kita hidup bersama orang lain. Di sinilah filsafat Sartre menjadi lebih rumit. Orang lain dapat menjadi sumber pembatasan. Tatapan orang lain dapat membuat kita merasa dinilai. Kita dapat mulai melihat diri kita melalui penilaian orang lain, "Saya harus terlihat sukses." "Saya harus dianggap baik." "Saya harus mendapatkan pengakuan." "Saya harus memenuhi harapan mereka."
Akhirnya kita hidup bukan berdasarkan diri sendiri, tetapi berdasarkan pandangan orang lain. Kita menjadi tawanan "tatapan", tetapi pada saat yang sama, orang lain juga tidak dapat dihilangkan dari kehidupan kita. Kebebasan kita selalu berhadapan dengan kebebasan orang lain. Oleh karena itu, kebebasan bukan berarti menghapus keberadaan orang lain, melainkan bagaimana saya menjalankan kebebasan tanpa menyangkal kebebasan orang lain.
Gagasan Sartre dapat direnungkan dalam kehidupan keluarga. Orang tua tentu memiliki harapan terhadap anak-anaknya. Anak pun memiliki harapan terhadap orang tua. Masalahnya muncul ketika cinta berubah menjadi kepemilikan, "Kamu harus menjadi seperti yang saya inginkan." "Kamu harus memilih pekerjaan ini." "Kamu harus menikah dengan orang itu." Dan, "Kamu harus hidup seperti yang keluarga harapkan."
Ada perbedaan antara membimbing dan menentukan seluruh kehidupan orang lain. Cinta yang sehat memberikan ruang bagi kebebasan, sebab mencintai seseorang berarti juga mengakui bahwa ia adalah pribadi yang memiliki kemampuan memilih. Tentu, kebebasan tidak berarti membiarkan seseorang tanpa nasihat atau tanggung jawab, tetapi kebebasan berarti menyadari bahwa kehidupan seseorang pada akhirnya harus dijalani oleh dirinya sendiri.
Kita juga dapat membawa pemikiran Sartre ke dalam kehidupan sosial. Masyarakat memiliki norma. Budaya memiliki tradisi. Agama memiliki ajaran. Negara memiliki hukum. Semua itu diperlukan, tetapi manusia tidak boleh berhenti menjadi manusia hanya karena ia menjadi anggota kelompok. Kita perlu memiliki keberanian untuk bertanya. Mengapa kita melakukan ini? Apakah karena benar? Atau hanya karena semua orang melakukannya? Pertanyaan lebih lanjut, Apakah kita mempertahankan sesuatu karena memang baik atau karena kita takut berbeda?
Kebebasan berpikir tidak berarti menolak semua tradisi. Kebebasan justru berarti mampu mengambil posisi secara sadar terhadap tradisi yang kita warisi. Kita dapat menerima tradisi bukan karena takut. Kita dapat mengkritiknya tanpa membencinya. Kita dapat memperbaruinya tanpa kehilangan akar. Dan, di situlah kebebasan menjadi matang.
Pada akhirnya, filsafat Sartre mengajak manusia menghadapi dirinya sendiri. Tidak ada seorang pun yang dapat menjalani hidup kita untuk kita. Orang tua dapat memberikan nasihat. Guru dapat memberikan pendidikan. Teman dapat memberikan dukungan. Masyarakat dapat memberikan aturan. Agama dapat memberikan pedoman. Tetapi... keputusan terakhir tentang bagaimana kita menjalani kehidupan tetap menjadi tanggung jawab kita.
Oleh karena itu, kebebasan bukan sesuatu yang dapat kita serahkan kepada orang lain. Bebas berarti bersedia menanggung konsekuensi. Kebebasan tanpa tanggung jawab adalah ilusi. Dan, tanggung jawab tetap menjadi bagian dari kebebasan. Di sinilah kebebasan menjadi dewasa.
Pemikiran Sartre terasa berat karena ia tidak memberikan banyak ruang untuk bersembunyi. Kita tidak dapat selamanya bersembunyi di balik masa lalu, menyalahkan keadaan, menjadikan orang lain sebagai alasan, mengatakan bahwa hidup kita sepenuhnya ditentukan oleh dunia. Ada sesuatu yang tetap berada di dalam diri kita, yakni kemampuan untuk memilih sikap. Mungkin kita tidak dapat memilih semua keadaan, tetapi kita dapat memilih bagaimana kita berdiri di dalam keadaan itu untuk menyerah atau berjuang, membenci atau memaafkan, dan berbohong atau berkata benar. Kita dapat memilih untuk menjadi korban selamanya atau perlahan mengambil kembali kendali atas hidup kita.
Itulah kebebasan yang memaksa kita berhadapan dengan diri sendiri, sebab setiap hari kita memilih. Bahkan ketika kita memilih untuk tidak memilih, kita tetap sedang mengambil sebuah pilihan. Dan, setiap pilihan perlahan-lahan membentuk manusia seperti apa yang sedang kita menjadi.Kita belum selesai. Tetapi selama masih ada ruang untuk mengambil sikap, kebebasan belum sepenuhnya hilang.
Manusia adalah makhluk yang tidak pernah selesai menjadi dirinya sendiri. Ia dibentuk oleh masa lalu, dilemparkan ke dalam keadaan, tetapi terus dipanggil untuk memilih siapa dirinya melalui tindakan-tindakannya. Oleh karena itu, kebebasan bukan sekadar hak. Kebebasan adalah tanggung jawab. Kebebasan bukan sekadar kesempatan, tetapi keberanian. Dan, kebebasan bukan sekadar kemampuan untuk mengatakan, "Saya boleh." Lebih dari itu, kebebasan yang matang adalah keberanian untuk berkata: "Saya memilih. Saya bertanggung jawab. Dan saya bersedia menjadi manusia yang lahir dari pilihan saya sendiri."
Baca Juga:
Tentang Penulis
Andreas Neke, S.Ag., B.Th.
Pendidik dan penulis asal Flores, Nusa Tenggara Timur.
→ Lihat Profil PenulisMenyukai tulisan tentang makna hidup dan pergulatan manusia?
Temukan gagasan lebih mendalam dalam buku Remaja dan Pergumulan Jati Dirinya.
Lihat Buku →