Kalau Anak Kurang Ajar, Jangan Lembek Atas Nama Sayang
Ada satu kekeliruan yang semakin sering muncul dalam cara sebagian orang tua dalam memahami kasih sayang. Tidak sedikit orang tua yang takut menegur anak karena khawatir anak akan sakit hati. Anak membantah, dibiarkan. Anak berbicara kasar kepada orang tua, dimaklumi. Anak menghina guru, dianggap sedang mencari jati diri. Dan, anak yang tidak menghormati orang yang lebih tua, disebut sebagai anak yang kritis dan berani.
Di sini, kasih sayang berubah menjadi permisif. Padahal, ada perbedaan besar antara mencintai anak dan membiarkan anak melakukan apa saja. Mencintai anak berarti menginginkan masa depannya menjadi baik. Dan, masa depan yang baik tidak hanya membutuhkan kecerdasan, pendidikan tinggi, keterampilan digital, atau kemampuan mencari uang. Lebih dari itu, anak membutuhkan sesuatu yang semakin langka dalam kehidupan modern, yakni adab.
Oleh karena itu, ketika anak kurang ajar, ia memang harus diberi paham. Bukan dengan kekerasan, bukan dengan penghinaan, dan bukan dengan melampiaskan kemarahan orang tua, tetapi dengan ketegasan, konsekuensi, dialog, dan batas yang jelas. Orang tua perlu menyadari bahwa membiarkan anak tumbuh tanpa adab atas nama kasih sayang dapat menjadi bentuk pengkhianatan orang tua terhadap masa depan anak sendiri.
Secara psikologis, anak membutuhkan kasih sayang sekaligus batas. Anak perlu merasa diterima, dicintai, dan aman. Tetapi pada saat yang sama, ia juga perlu mengetahui bahwa tidak semua perilaku dapat diterima. Ketika anak melakukan kesalahan dan tidak pernah mendapat koreksi, ia dapat belajar bahwa perilakunya tidak memiliki konsekuensi; ketika ia berbicara kasar tetapi selalu dimaafkan tanpa pembinaan, ia bisa menganggap cara tersebut sebagai sesuatu yang normal; dan Ketika setiap keinginannya selalu dipenuhi, ia berisiko tumbuh dengan kesulitan menerima penolakan.
Di sinilah pentingnya membedakan antara menerima anak sebagai pribadi dan menerima semua perilakunya. Orang tua harus tetap mencintai anaknya, tetapi tidak harus menyetujui perilaku buruknya. Seorang ayah dapat tetap menyatakan kasih sayang, tetapi tidak dapat membiarkan cara anak berbicara yang menyakiti hati orang lain. Seorang ibu dapat menegaskan bahwa seorang anak boleh marah, tetapi tidak boleh menghina martabat orang lain. Kalimat-kalimat seperti ini sangat penting. Anak belajar bahwa emosi adalah sesuatu yang manusiawi, tetapi perilaku tetap memiliki batas.
Kasih sayang yang sehat tidak menghapus aturan. Justru aturan yang adil dapat menjadi salah satu bentuk kasih sayang. Anak yang tidak pernah diajarkan menerima batas, mungkin akan mengalami kesulitan ketika dewasa, karena dunia tidak selalu setuju atas semua kata-kata dan perbuatannya. Yang akan terjadi bahwa atasan bisa menolak idenya, teman bisa tidak menyukainya, pasangan bisa tidak memenuhi keinginannya, masyarakat memiliki aturan, dan hukum memiliki konsekuensi. Jika sejak kecil anak selalu diajarkan bahwa semua keinginannya harus dipenuhi, maka ia dapat mengalami kesulitan menghadapi realitas.
Sering kali orang tua berada dalam dua kutub yang sama-sama bermasalah. Kutub pertama adalah terlalu keras dalam mana anak dididik dengan ketakutan, bentakan, penghinaan, bahkan kekerasan. Kutub kedua adalah terlalu lembek dalam mana anak dibiarkan melakukan apa saja karena orang tua takut dianggap tidak menyayangi. Padahal, pendidikan yang sehat tidak harus memilih antara kekerasan dan kelembekan. Ada jalan ketiga, yakni ketegasan yang penuh kasih. Ketegasan berarti orang tua berani mengatakan "tidak", berani membuat aturan, berani memberikan konsekuensi, dan berani tidak selalu menjadi orang tua yang disukai anak pada saat itu.
Menjadi orang tua bukan kontes popularitas. Kadang-kadang anak memang kecewa karena dilarang; kadang ia marah karena keinginannya tidak dipenuhi; dan kadang ia menganggap orang tua terlalu ketat. Tetapi orang tua yang baik tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan apakah anak akan senang hari ini. Lebih dari itu, orang tua harus berpikir tentang manusia seperti apa yang sedang dibentuk untuk masa depan.
Tentu saja, ketegasan harus dilakukan secara proporsional. Mengoreksi anak tidak berarti mempermalukannya di depan umum, memberikan konsekuensi tidak berarti menyiksa, dan menegur tidak berarti merendahkan harga dirinya. Tujuan disiplin bukan membuat anak takut kepada orang tua, melainkan membantu anak memahami batas antara perilaku yang dapat diterima dan yang tidak.
Secara sosiologis, adab bukan sekadar persoalan sopan santun di rumah. Adab adalah kemampuan seseorang hidup bersama orang lain. Masyarakat tidak dapat berjalan dengan baik jika setiap orang hanya mengikuti keinginannya sendiri. Kita membutuhkan kemampuan menghormati orang lain, mendengarkan, menunggu giliran, menerima perbedaan, meminta maaf, dan mengendalikan diri.
Seorang anak mungkin sangat cerdas secara akademik dalam mana nilainya tinggi dan menguasai teknologi. Tetapi jika ia tidak mampu menghormati orang lain, sulit bekerja sama, mudah menghina, dan merasa dirinya selalu paling benar, maka kecerdasannya dapat menjadi masalah dalam kehidupan sosial.
Di sinilah keluarga menjadi sekolah sosial pertama. Anak belajar menghormati orang lain bukan pertama-tama dari buku pelajaran, melainkan dari pengalaman sehari-hari. Ia melihat bagaimana ayah berbicara kepada ibu, bagaimana ibu memperlakukan orang lain, dan bagaimana orang tua berbicara tentang guru, tetangga, rekan kerja, dan orang yang berbeda pendapat.
Orang tua perlu menyadari bahwa tidak mungkin orang tua yang setiap hari menghina orang lain, tetapi kemudian menuntut anak berbicara dengan santun. Tidak mudah mengajarkan anak menghormati orang lain jika di dalam rumah sendiri ia menyaksikan penghinaan menjadi bahasa sehari-hari. Anak belajar bukan hanya dari apa yang diperintahkan, tetapi dari apa yang dicontohkan.
Salah satu persoalan dalam pola pengasuhan modern adalah kecenderungan menjadikan anak sebagai pusat dari seluruh kehidupan keluarga. Semua keputusan harus mengikuti keinginan anak, dalam mana anak tidak boleh kecewa, tidak boleh menangis, dan tidak boleh kehilangan sesuatu sehingga setiap masalah harus segera diselesaikan oleh orang tua.
Akibatnya, anak dapat tumbuh tanpa kesempatan belajar menghadapi frustrasi. Padahal, frustrasi adalah bagian dari kehidupan. Orang tua harus sadar bahwa tidak semua keinginan akan terpenuhi, tidak semua orang akan menyukai kita, dan tidak semua cita-cita akan tercapai. Dengannya, anak perlu belajar menghadapi kegagalan, penolakan, dan kekecewaan secara sehat.
Orang tua yang selalu menyelamatkan anak dari setiap konsekuensi dapat tanpa sadar merampas kesempatan anak untuk belajar bertanggung jawab. Jika anak merusak sesuatu, ia harus belajar memperbaikinya. Jika ia menyakiti orang lain, ia harus belajar meminta maaf. Jika ia melanggar aturan, ia harus menerima konsekuensi yang masuk akal. Dengan demikian, disiplin bukan hukuman semata. Disiplin adalah proses pendidikan tentang hubungan antara pilihan dan konsekuensi.
Persoalan adab menjadi semakin penting di tengah dunia digital dewasa ini. Hari ini, anak tidak hanya belajar dari keluarga, sekolah, dan lingkungan sekitar. Ia juga belajar dari video pendek, komentar media sosial, permainan daring, influencer, dan berbagai bentuk interaksi digital. Masalahnya, dunia digital sering memberi ruang bagi perilaku impulsif. Orang dapat menghina tanpa bertatap muka, seseorang dapat menyebarkan kemarahan dalam hitungan detik, dan konten yang kasar kadang justru memperoleh perhatian lebih besar.
Anak kemudian dapat belajar bahwa menjadi viral lebih penting daripada menjadi beradab. Ia mungkin melihat orang terkenal karena menghina orang lain. Ia melihat pertengkaran dijadikan hiburan. Ia menyaksikan komentar kasar dianggap lucu. Perlahan-lahan, batas antara keberanian berbicara dan ketidaksopanan menjadi kabur. Oleh karena itu, pendidikan adab dalam keluarga tidak boleh berhenti pada aturan untuk tidak menggunakan gadget semata.
Orang tua perlu mengajarkan etika digital. Anak harus memahami bahwa orang di balik layar adalah manusia, maka tidak semua hal harus dikomentari, dibagikan, diikuti, dan ditiru. Anak juga perlu belajar bahwa jejak digital dapat memiliki konsekuensi, bahwa kebebasan berekspresi tidak berarti kebebasan menghina, keberanian berpendapat tidak berarti hak untuk merendahkan, dan anonimitas tidak menghapus tanggung jawab moral.
Salah satu bentuk kasih sayang yang paling sulit adalah berani membuat anak kecewa demi kebaikannya. Orang tua yang selalu ingin terlihat baik di mata anak bisa tergoda untuk menghindari konflik, sehingga orang tua lebih mudah memberikan telepon daripada menghadapi tangisan, mengalah daripada menjelaskan aturan, dan diam daripada menghadapi anak yang marah.
Namun, pendidikan membutuhkan keberanian, tentu bukan keberanian untuk menjadi otoriter, tetapi keberanian untuk konsisten. Jika sebuah aturan sudah dibuat, orang tua harus berusaha menjalankannya. Jika anak melanggar, konsekuensinya harus jelas dan masuk akal. Jika orang tua salah, orang tua juga harus berani meminta maaf, sebab ketegasan yang baik tidak berarti orang tua selalu benar. Ketika orang tua mampu meminta maaf, anak belajar bahwa wibawa tidak hilang karena mengakui kesalahan.
Pada akhirnya, mendidik anak bukan sekadar membuatnya patuh ketika masih kecil. Tujuannya adalah membentuk manusia yang kelak mampu mengatur dirinya sendiri ketika orang tua tidak lagi berada di sampingnya. Anak yang memiliki adab akan lebih mudah membangun relasi. Ia belajar menghargai orang lain tanpa kehilangan keberanian untuk menyampaikan pendapat, mampu menerima kritik tanpa langsung merasa diserang, dan dapat menggunakan kebebasannya tanpa merugikan orang lain.
Oleh karena itu, jangan lembek atas nama kasih sayang. Kasih sayang sejati bukan selalu memberikan apa yang anak inginkan, tetapi juga berarti memberikan apa yang anak butuhkan untuk menjadi manusia yang matang di masa depan. Ketika anak kurang ajar, ia harus diberi paham melalui kata-kata yang tegas, dengan batas yang jelas, melalui konsekuensi yang mendidik, dan dengan teladan yang konsisten.
Kasih sayang sejati dapat terwujud bukan dengan kekerasan, penghinaan, dan pembiaran. Anak membutuhkan orang tua yang berani mewujudkan kasih sayang tanpa membiarkan seorang anak bertumbuh menjadi manusia yang tidak tahu menghargai orang lain. Kasih sayang sejati bukan membiarkan anak bebas tanpa arah, melainkan menuntunnya agar suatu hari nanti ia mampu berjalan sendiri dengan kecerdasan, tanggung jawab, dan yang lebih penting adab.
Baca Juga:
Tentang Penulis
Andreas Neke, S.Ag., B.Th.
Pendidik dan penulis asal Flores, Nusa Tenggara Timur.
→ Lihat Profil PenulisMenyukai tulisan tentang makna hidup dan pergulatan manusia?
Temukan gagasan lebih mendalam dalam buku Remaja dan Pergumulan Jati Dirinya.
Lihat Buku →