ADVERTISEMENT
Politik & Kebijakan Publik

Gempa Flores dan Geotermal: Saatnya Proyek Dikaji Ulang

Andreas Neke. 23 August 2026 57 kali dibaca
Gempa Flores dan Geotermal: Saatnya Proyek Dikaji Ulang

Saya menulis ini bukan sebagai ahli gempa (seismolog), bukan juga ahli geotermal atau panas bumi, yang disebut pakar geotermal atau ahli panas bumi. Tulisan ini semata-mata hasil kajian literatur yang kiranya dapat menjadi bahan pertimbangan untuk kebaikan bersama di Pulau Flores yang dijuluki sebagai Nusa Bunga.


Gempa bumi besar yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026 bukan sekadar bencana alam yang harus segera dilupakan setelah masa tanggap darurat berakhir. Ia merupakan peringatan geologis yang sangat serius tentang karakter Pulau Flores sebagai wilayah dengan dinamika tektonik tinggi. Oleh karena itu, ketika pemerintah terus mendorong Flores sebagai kawasan pengembangan energi panas bumi, pertanyaan ilmiah yang tidak boleh dihindari adalah sejauh mana risiko kegempaan telah benar-benar diperhitungkan dalam setiap proyek geothermal yang berada di Flores?


Pertanyaan tersebut tidak berarti bahwa setiap gempa di sekitar proyek panas bumi pasti disebabkan oleh aktivitas geothermal. Kesimpulan semacam itu justru tidak ilmiah. Namun demikian, hubungan antara panas bumi, struktur geologi, fluida bawah permukaan, dan kegempaan merupakan persoalan yang memang harus dikaji secara serius. Terlebih lagi, Flores sendiri berada dalam lingkungan tektonik yang sangat aktif.


Secara geologi, Flores berada dalam sistem Busur Sunda–Banda yang kompleks. Di bagian utara Flores terdapat Flores Back-Arc Thrust atau Sesar Naik Flores, suatu sistem sesar aktif yang berkaitan dengan deformasi tektonik kawasan Nusa Tenggara. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa Flores-Wetar Thrust merupakan salah satu struktur tektonik yang sangat aktif secara seismik di kawasan tersebut.


Gempa 15 Agustus 2026 memperlihatkan realitas itu secara dramatis. BMKG menganalisis gempa berkekuatan Mw 7,7 tersebut sebagai gempa dangkal dengan mekanisme penyesaran naik (thrust fault) yang berkaitan dengan Flores Back-Arc Thrust. Episenternya berada di laut sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo, dengan kedalaman sekitar 15 kilometer. Hingga 20 Agustus, BMKG mencatat lebih dari 3.300 gempa susulan, dengan magnitudo terbesar mencapai 6,2.


Data tersebut penting karena menunjukkan bahwa Flores bukan sekadar wilayah yang memiliki sumber energi panas bumi, tetapi juga wilayah dengan sistem tektonik aktif. Dengan kata lain, potensi geothermal dan potensi kegempaan sama-sama lahir dari karakter geologi Flores. Di sinilah kebijakan energi membutuhkan kehati-hatian ekstra.


Pemerintah sebelumnya telah menetapkan Flores sebagai Flores Geothermal Island. Badan Geologi dan Kementerian ESDM mengidentifikasi banyak prospek panas bumi di pulau ini, sementara Ulumbu dan Mataloko telah dimanfaatkan untuk pembangkitan listrik. Prospek lain mencakup Sokoria, Wae Sano, Ndetusoko, Mengeruda, Jopu, Lesugolo dan sejumlah wilayah lainnya. Potensinya memang besar, tetapi potensi energi tidak identik dengan keamanan lokasi.


Secara ilmiah, sistem geothermal bekerja di dalam lingkungan bawah permukaan yang kompleks. Reservoir panas bumi biasanya berada pada batuan yang memiliki rekahan atau permeabilitas tertentu. Air panas dan fluida bergerak melalui jaringan rekahan tersebut, memperoleh panas dari sumber panas di kedalaman, lalu naik melalui struktur geologi tertentu. Masalahnya, rekahan batuan juga merupakan medium tempat tegangan tektonik bekerja.


Dalam pengembangan panas bumi, terutama ketika dilakukan pengeboran dan injeksi atau reinjeksi fluida, perubahan tekanan pori (pore pressure) dapat mengubah kondisi tegangan efektif pada batuan. Secara sederhana, ketika tekanan fluida meningkat pada zona batuan yang telah berada dekat kondisi kritis, rekahan yang sudah ada dapat mengalami pergeseran. Fenomena ini dikenal sebagai induced seismicity atau kegempaan terinduksi.


Namun, harus ditegaskan bahwa kegempaan terinduksi umumnya berbeda skala dan mekanismenya dari gempa tektonik besar seperti Mw 7,7 Flores. Oleh karena itu, tidak ada dasar ilmiah untuk menyatakan bahwa gempa Flores 15 Agustus 2026 disebabkan oleh proyek geothermal. BMKG justru secara eksplisit mengidentifikasinya sebagai gempa tektonik yang bersumber dari Flores Back-Arc Thrust.


Tetapi, fakta tersebut tidak otomatis membuat proyek geothermal bebas dari persoalan kegempaan. Justru sebaliknya, gempa besar dapat mengubah distribusi tegangan pada kerak bumi dan mengaktifkan kembali sejumlah struktur geologi yang sebelumnya berada dalam kondisi stabil. Oleh karena itu, setelah gempa besar, seluruh proyek yang berhubungan dengan fluida bawah permukaan seharusnya dievaluasi kembali berdasarkan kondisi geologi terbaru.


Dalam perdebatan publik, ada bahaya lain yang menyederhanakan persoalan dengan mengatakan bahwa ada geothermal, lalu terjadi gempa, berarti geothermal menyebabkan gempa. Logika itu tidak dapat diterima secara ilmiah. Tetapi, logika sebaliknya juga sama bermasalahnya, "Gempa itu tektonik, maka proyek geothermal tidak memiliki hubungan dengan risiko gempa." Keduanya terlalu sederhana.


Yang diperlukan adalah kajian probabilistik dan geomekanika yang komprehensif. Setiap proyek harus mempertimbangkan tiga hal sekaligus yakni kondisi tektonik regional, struktur geologi lokal, dan perubahan tekanan fluida akibat kegiatan proyek. Flores memiliki alasan kuat untuk menerapkan standar kehati-hatian yang lebih tinggi. Penelitian geologi laut menunjukkan bahwa kawasan Laut Flores merupakan lingkungan tektonik aktif dengan sesar-sesar aktif, prisma akresi, dan struktur geologi kompleks. Artinya bahwa proyek geothermal tidak boleh hanya terarah kepada serapa besar energi yang dapat dihasilkan, tetapi juga apa yang terjadi terhadap sistem batuan dan fluida apabila proyek ini beroperasi selama puluhan tahun.


Gempa Mw 7,7 pada 15 Agustus 2026 seharusnya menjadi momentum untuk melakukan re-baselining seluruh kajian risiko geothermal di Flores. Pertama, pemerintah perlu memperbarui peta sesar aktif dan zona bahaya seismik pada seluruh wilayah prospek geothermal. Kedua, setiap proyek perlu memiliki jaringan pemantauan mikroseismik yang memadai sebelum, selama, dan setelah kegiatan pengeboran maupun produksi. Data tersebut harus terbuka bagi lembaga penelitian dan masyarakat sehingga perubahan aktivitas seismik dapat dianalisis secara independen.


Ketiga, perlu dilakukan modeling geomekanika dan reservoir secara terpadu. Jangan sampai kajian reservoir hanya menghitung potensi energi, sementara kajian struktur geologi dan tegangan kerak bumi hanya dianggap sebagai lampiran administratif semata. Keempat, pemerintah perlu menetapkan traffic light system yang mencakup kondisi normal, kondisi waspada, dan kondisi kritis berdasarkan perubahan frekuensi, kedalaman, lokasi, dan magnitudo gempa mikro maupun gempa yang dirasakan. Dan, kelima, setelah gempa besar seperti yang terjadi pada Agustus 2026, izin eksplorasi atau pengembangan yang berada di kawasan dengan hubungan struktur geologi signifikan harus menjalani audit keselamatan independen sebelum kegiatan dilanjutkan atau diperluas.


Publik menyadari bahwa geothermal merupakan energi terbarukan dan dapat berperan penting dalam transisi energi. Oleh karena itu, persoalannya bukan memilih secara emosional antara "geothermal atau tidak geothermal". Persoalan yang lebih manusiawi adalah di mana, bagaimana, dengan standar keselamatan seperti apa, dan siapa yang menanggung risikonya. Publik juga harus menyadari bahwa energi bersih tetap membutuhkan tata kelola yang bersih. Transisi energi tidak boleh mengubah masyarakat Flores menjadi pihak yang menerima risiko sementara manfaat ekonomi terbesar mengalir ke tempat lain.


Gempa Flores 2026 tidak boleh dijadikan alasan untuk menuduh geothermal sebagai penyebab bencana. Tetapi, gempa itu juga tidak boleh dipakai untuk menutup pertanyaan kritis mengenai keamanan proyek geothermal. Flores adalah pulau dengan potensi panas bumi yang besar sekaligus wilayah rawan gempa. Dua fakta geologis tersebut harus dibaca secara bersamaan.


Oleh karena itu, proyek geothermal di Flores perlu ditinjau ulang, tetapi bukan untuk menolak energi bersih, melainkan untuk memastikan bahwa energi bersih tidak dibangun di atas pengabaian terhadap risiko geologi. Jika setelah kajian ilmiah independen proyek terbukti aman, masyarakat mempunyai alasan kuat untuk mendukungnya. Lebih lanjut, jika ditemukan risiko yang belum dapat dikendalikan, pemerintah harus berani menunda, mengubah desain, memindahkan lokasi, atau bahkan menghentikan proyek.


Yang lebih urgen dalam setiap kebijakan publik adalah keselamatan manusia harus lebih tinggi daripada target investasi dan produksi energi. Flores tidak membutuhkan pembangunan yang sekadar cepat. Flores membutuhkan pembangunan yang memahami bahwa di bawah tanahnya terdapat panas yang dapat menjadi energi, tetapi juga terdapat sesar, tekanan, rekahan, dan sejarah gempa yang tidak boleh diabaikan begitu saja.


Ini artinya bahwa gempa 15 Agustus 2026 seharusnya menjadi pesan yang jelas bahwa sebelum mengebor lebih dalam, kita harus terlebih dahulu memahami bumi yang sedang kita pijak. Dengannya, pemahaman ini sudah ada atau belum...?



ADVERTISEMENT
Andreas Neke

Tentang Penulis

Andreas Neke, S.Ag., B.Th.

Pendidik dan penulis asal Flores, Nusa Tenggara Timur.

→ Lihat Profil Penulis

Menyukai tulisan tentang makna hidup dan pergulatan manusia?

Temukan gagasan lebih mendalam dalam buku Remaja dan Pergumulan Jati Dirinya.

Lihat Buku →
Remaja dan Pergumulan Jati Dirinya