Bajawa-Ngada dan Filsafat Manusia: Aku Ada Karena Kita
Filsafat manusia pada dasarnya merupakan refleksi kritis mengenai hakikat, martabat, kebebasan, keterbatasan, dan relasi manusia. Dalam konteks masyarakat Bajawa-Ngada, pemahaman tentang Filsafat Manusia tidak terutama berangkat dari manusia sebagai individu yang terisolasi, melainkan dari manusia sebagai pribadi yang berada dalam jaringan relasi sosial, kekerabatan, adat, alam, dan komunitas.
Gagasan tersebut dapat ditelusuri melalui sejumlah ungkapan antara lain seperti kita ata dan ata kita, ngay ngata go kita ata, da bopo molo ne'e da dho'o, da pi'o molo ne'e da sipo, meku ne'e doa delu, modhe ne'e soga woe, beke meze, kasa kapa, le papa mesu, serta to'o penge to'o, rejo penga rejo. Ungkapan-ungkapan tersebut menunjukkan suatu antropologi filosofis yang menempatkan manusia sebagai makhluk relasional, dialogis, saling membutuhkan, dan bertanggung jawab terhadap sesama.
Artikel ini menggunakan pendekatan hermeneutis-filosofis dengan mempertemukan kearifan lokal Bajawa-Ngada dengan pemikiran Martin Buber, Gabriel Marcel, dan Emmanuel Levinas. Analisis menunjukkan bahwa filsafat manusia Bajawa-Ngada mempunyai daya kritis terhadap individualisme, materialisme, instrumentalitas, dan kecenderungan menjadikan manusia sebagai sarana keuntungan. Dalam konteks kontemporer, kearifan tersebut dapat menjadi sumber etika sosial untuk mengembalikan manusia kepada martabatnya sebagai pribadi yang hidup bersama, mengasihi, menolong, menghormati, dan bekerja sama.
Pertanyaan perihal "siapakah manusia?" merupakan salah satu pertanyaan paling tua sekaligus paling sulit dalam sejarah filsafat. Manusia dapat dipahami sebagai makhluk rasional, makhluk bebas, makhluk sosial, makhluk berbudaya, makhluk terbatas, atau makhluk yang terbuka terhadap transendensi.
Akan tetapi, setiap kebudayaan mempunyai cara tersendiri dalam menjawab pertanyaan tersebut. Jawaban itu tidak selalu ditemukan dalam buku filsafat. Ia dapat hidup dalam bahasa, pepatah, ritus, struktur kekerabatan, rumah adat, cara bekerja, cara memperlakukan orang lain, dan berbagai kebiasaan yang diwariskan antar generasi.
Dalam masyarakat Bajawa-Ngada, pemahaman mengenai manusia tampak kuat dalam kehidupan komunal dan tradisi sosial. Penelitian mengenai woe, misalnya, memperlihatkan bahwa hubungan antar anggotanya dipelihara melalui kerja sama dalam pekerjaan, hajatan, maupun situasi duka. Ngadhu dan bhaga juga berfungsi sebagai simbol kesatuan, sedangkan sa'o pu'u menjadi tempat berkumpul anggota woe dalam ritual adat.
Masyarakat etnis Bajawa masih menjalankan berbagai upacara tradisional dalam siklus kehidupan dan tetap menjunjung adat istiadat yang diwariskan turun-temurun. Program pemajuan kebudayaan juga secara eksplisit menempatkan gotong royong sebagai salah satu modal sosial-kultural dan penguatan jati diri masyarakat adat. Oleh karena itu, kebudayaan Bajawa-Ngada dapat dibaca bukan hanya sebagai warisan tradisi, tetapi sebagai sumber refleksi mengenai manusia.
Tulisan ini menggunakan pendekatan hermeneutis-filosofis. Ungkapan-ungkapan lokal dibaca sebagai teks budaya yang mengandung pemahaman tertentu mengenai manusia dan relasinya dengan sesama. Pendekatan hermeneutis tidak bermaksud menerjemahkan setiap ungkapan secara harfiah, melainkan berusaha memahami horizon makna yang hidup di baliknya. Oleh karena itu, ungkapan lokal dalam tulisan ini dipertahankan dalam bentuk yang digunakan penulis, sementara interpretasi filosofisnya ditempatkan sebagai hasil pembacaan reflektif.
Secara teoritis, analisis dipertemukan dengan filsafat dialog Martin Buber, filsafat kehadiran dan disponibilité Gabriel Marcel, serta etika tanggung jawab Emmanuel Levinas. Ketiganya relevan karena sama-sama memberikan perhatian besar terhadap hubungan antara manusia dan sesamanya.
Buber menolak reduksi manusia ke dalam hubungan subjek-objek semata. Dalam I and Thou, ia membedakan relasi I-It dan I-Thou. Dalam relasi pertama yang lain mudah direduksi menjadi objek, sedangkan dalam relasi kedua manusia hadir sebagai pribadi yang dijumpai dan dihormati.
Marcel menekankan kehadiran, keterbukaan, partisipasi, dan disponibilité, yakni kesiapsediaan seseorang untuk hadir bagi orang lain. Sebaliknya, manusia yang tertutup terhadap sesama mengalami indisponibilité, yakni suatu keadaan ketika diri menjadi berpusat pada dirinya sendiri.
Levinas bahkan menempatkan perjumpaan dengan "yang lain" sebagai dasar etika. Kehadiran wajah orang lain memanggil manusia kepada tanggung jawab sebelum ia sempat menghitung manfaat atau keuntungan dari relasi tersebut.
Kita Ata dan Ata Kita: Aku Tidak Pernah Sendirian
Gagasan pertama yang penting adalah kita ata dan ata kita. Ungkapan ini dapat dibaca sebagai suatu antropologi relasional. Manusia adalah kita ata, pribadi yang unik, tetapi sekaligus ata kita, manusia yang berada dalam lingkaran kebersamaan. Dengan demikian, "aku" tidak berdiri di luar "kita". Identitas pribadi justru memperoleh maknanya dalam hubungan dengan keluarga, saudara, komunitas, dan lingkungan sosial.
Dalam kerangka Buber, gagasan ini memiliki kedekatan dengan prinsip bahwa manusia tidak menemukan dirinya dalam isolasi. Buber menunjukkan bahwa tidak ada "aku" yang sepenuhnya berdiri sendiri; struktur manusia selalu terbentuk dalam relasi dengan "engkau". Relasi dialogis menjadi ruang tempat pribadi menemukan kehadirannya. Oleh karena itu, kita ata dan ata kita dapat dibaca sebagai kritik terhadap egoisme. Manusia memang mempunyai kepentingan pribadi, tetapi kepentingan pribadi tidak boleh menghancurkan kepentingan bersama. Manusia bukan hanya "aku yang memiliki", tetapi juga "aku yang berbagi".
Ngay Ngata Go Kita Ata: Eksistensi yang Bersifat Komunal
Gagasan tersebut diperdalam melalui ungkapan ngay ngata go kita ata. Ungkapan ini dapat dimaknai secara filosofis sebagai kesadaran bahwa keberadaan seseorang mempunyai dimensi kebersamaan. Aku tidak menjadi manusia secara utuh tanpa keberadaan orang lain. Seorang anak menjadi anak karena ada orang tua. Seseorang menjadi saudara karena ada yang lain yang disebut saudara. Seseorang menjadi anggota woe karena ada komunitas kekerabatan yang mengakuinya.
Artinya, identitas manusia bersifat relasional. Pemahaman ini juga berdekatan dengan gagasan Gabriel Marcel mengenai presence. Bagi Marcel, hadir secara fisik belum tentu berarti benar-benar hadir bagi orang lain. Kehadiran manusia merupakan keterbukaan terhadap pengalaman, kebutuhan, dan keberadaan sesama. Dengan demikian, ngay ngata go kita ata mengandung pertanyaan etis: untuk siapa keberadaanku?
Jika keberadaan manusia hanya diarahkan pada dirinya sendiri, maka keberadaan itu kehilangan dimensi sosialnya. Sebaliknya, jika keberadaan pribadi menjadi sumber kehidupan bagi sesama, maka eksistensi manusia memperoleh kedalaman moral.
Relasi Sosial: Da Bopo Molo Ne'e Da Dho'o, Da Pi'o Molo Ne'e Da Sipo
Relasi manusia tidak berhenti pada pengakuan bahwa orang lain ada. Relasi harus diwujudkan dalam perhatian dan tanggung jawab. Hal tersebut tampak dalam ungkapan da bopo molo ne'e da dho'o, da pi'o molo ne'e da sipo. Secara filosofis, ungkapan tersebut dapat dibaca sebagai gambaran manusia yang hadir dalam perjalanan hidup sesamanya. Manusia tidak hanya hadir ketika orang lain berhasil, tetapi juga ketika orang lain mengalami kesulitan.
Inilah yang membedakan komunitas dari sekadar kumpulan individu. Komunitas adalah ruang di mana keberhasilan seseorang dapat menjadi kegembiraan bersama dan penderitaan seseorang dapat menjadi keprihatinan bersama. Penelitian tentang tradisi Dero-Sagi menunjukkan bahwa tradisi masyarakat Bajawa-Ngada mempunyai fungsi sosial yang kuat, antara lain menjadi ruang perjumpaan anggota masyarakat dan memperkuat relasi komunal. Tradisi tersebut sekaligus memiliki dimensi transendental sebagai ungkapan syukur. Artinya, relasi sosial dalam kebudayaan Bajawa-Ngada mempunyai dimensi moral sekaligus spiritual.
Manusia untuk Saling Menolong: Meku Ne'e Doa Delu, Modhe Ne'e Soga Woe
Manusia, menurut gagasan ini, tidak hanya hidup bersama tetapi juga hidup untuk sesama. Ungkapan meku ne'e doa delu, modhe ne'e soga woe menempatkan kasih sebagai prinsip relasional. Kasih bukan sekadar perasaan, melainkan tindakan nyata dalam bentuk pertolongan, perhatian, kepedulian, dan kesediaan berbagi. Di sinilah gagasan Bajawa-Ngada memiliki kedekatan dengan pemikiran Marcel. Bagi Marcel, hubungan manusiawi yang autentik dibangun melalui presence, communion, dan availability. Seseorang sungguh hadir ketika ia terbuka dan siap memberikan dirinya bagi sesama.
Dengan demikian, menolong bukan sekadar menjalankan kewajiban sosial. Menolong merupakan cara manusia mengafirmasi kemanusiaan orang lain. Namun kasih juga mempunyai batas. Kasih tidak boleh menjadi alat untuk menguasai. Oleh karena itu muncul prinsip beke meze, kasa kapa. Manusia boleh membantu, tetapi tidak boleh menjadikan bantuan sebagai alasan untuk mengendalikan. Manusia boleh mencintai, tetapi tidak boleh menggunakan cinta untuk memaksakan kehendak. Di sinilah kasih bertemu dengan kebebasan.
Beke Meze, Kasa Kapa: Menolak Dominasi
Manusia mempunyai kecenderungan untuk menguasai. Kekuasaan dapat muncul dalam keluarga, ekonomi, politik, maupun hubungan sosial. Seseorang yang mempunyai uang dapat merasa berhak mengatur orang miskin. Orang yang mempunyai jabatan dapat merasa lebih tinggi daripada bawahannya. Orang yang lebih tua dapat merasa berhak menghapus kebebasan yang lebih muda.
Prinsip beke meze, kasa kapa memberikan koreksi terhadap kecenderungan tersebut. Manusia tidak boleh memperlakukan sesamanya sebagai objek kekuasaan. Gagasan ini mempunyai resonansi kuat dengan Levinas. Bagi Levinas, perjumpaan dengan orang lain mengganggu kecenderungan manusia untuk menjadikan dunia sebagai wilayah kekuasaannya. Wajah orang lain memanggil seseorang untuk bertanggung jawab. Oleh karena itu, relasi manusia yang sehat bukanlah relasi penguasa dan yang dikuasai, melainkan relasi antar subjek yang sama-sama mempunyai martabat.
Le Papa Mesu: Keunikan sebagai Alasan untuk Saling Melengkapi
Manusia tidak diciptakan dengan kemampuan yang sama. Ada yang kuat secara fisik, ada yang kuat secara intelektual. Ada yang mempunyai kemampuan berbicara, ada yang memiliki keterampilan bekerja. Ada yang memiliki pengalaman, sementara yang lain mempunyai energi dan kreativitas.
Perbedaan tersebut bukan alasan untuk membangun kesombongan. Prinsip le papa mesu dapat dibaca sebagai pengakuan terhadap keunikan dan kemampuan setiap pribadi. Manusia mempunyai kekuatan sekaligus keterbatasan. Justru karena keterbatasan itu manusia membutuhkan sesama.
Filsafat manusia yang sehat tidak mengatakan bahwa manusia harus mampu melakukan segala sesuatu sendirian. Sebaliknya, manusia harus mampu mengenali keterbatasannya dan terbuka terhadap kemampuan orang lain. Dengan demikian, perbedaan menjadi sumber solidaritas.
To'o Penga To'o, Rejo Penga Rejo: Kerja Sama sebagai Hakikat Sosial
Keunikan manusia menemukan bentuk konkretnya dalam kerja sama. To'o penga to'o, rejo penga rejo dapat dipahami sebagai suatu prinsip bahwa kehidupan bersama membutuhkan kontribusi setiap orang. Penelitian mengenai sistem woe menunjukkan bahwa kerja sama tetap menjadi bagian penting kehidupan sosial, baik dalam pekerjaan, hajatan maupun situasi duka.
Dengan demikian, kerja sama bukan sekadar strategi ekonomi. Ia merupakan ekspresi antropologis bahwa manusia saling membutuhkan. Dalam masyarakat yang sehat, keberhasilan tidak hanya dipahami sebagai prestasi individu. Keberhasilan merupakan hasil dari jaringan kontribusi banyak orang. Oleh karena itu, orang yang sukses secara moral mempunyai kewajiban untuk tidak melupakan mereka yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Kritik terhadap Materialisme: Ketika Manusia "Dijual"
Di sinilah filsafat manusia Bajawa-Ngada menghadapi tantangan terbesar masa kini. Modernitas membawa banyak kemajuan. Pendidikan berkembang, teknologi mempermudah komunikasi, ekonomi membuka berbagai kesempatan, dan mobilitas sosial semakin luas. Namun modernitas juga dapat menghasilkan perubahan dalam cara manusia memandang sesamanya.
Manusia mulai dinilai berdasarkan fungsi dan manfaatnya. Orang dihargai karena uangnya. Keluarga dicari ketika dibutuhkan. Teman didekati karena koneksi. Relasi sosial dibangun karena kepentingan. Dalam kondisi ekstrem, manusia bahkan dapat "dijual", "dimanfaatkan", dan "dimanipulasi".
Fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui kritik Buber terhadap relasi I-It. Ketika orang lain dipandang terutama sebagai objek, hubungan manusia kehilangan dimensi dialogisnya. Marcel memberikan kritik yang serupa melalui gagasan mengenai manusia yang menjadi "fungsional". Ketika seseorang hanya dilihat berdasarkan fungsi atau kegunaannya, keunikan personalnya menghilang. Ia tidak lagi dipandang sebagai pribadi, tetapi sebagai sesuatu yang dapat digunakan.
Dalam konteks ini, seseorang dapat memanfaatkan anggota keluarganya untuk memperoleh jabatan, keuntungan ekonomi, status sosial, atau akses kekuasaan. Persoalannya bukan semata-mata bahwa orang mencari keuntungan. Persoalan yang lebih mendasar adalah ketika keuntungan menjadi lebih penting daripada manusia. Pada titik itu terjadi dehumanisasi.
Dari Ata Kita Menjadi "Objek": Krisis Kemanusiaan Kontemporer
Jika ata kita berarti sesama yang menjadi bagian dari kehidupan kita, maka eksploitasi terhadap sesama merupakan pengkhianatan terhadap prinsip tersebut. Keluarga yang seharusnya menjadi tempat kasih dapat berubah menjadi arena kepentingan. Persaudaraan dapat berubah menjadi transaksi. Pertolongan dapat berubah menjadi investasi. Kebaikan dapat berubah menjadi alat untuk menagih balasan.
Hubungan sosial yang demikian kehilangan unsur kemanusiaannya. Dalam kerangka Levinas, problem tersebut terjadi ketika manusia menutup diri terhadap tuntutan moral yang hadir melalui orang lain. Orang lain tidak lagi dilihat sebagai pribadi yang mempunyai wajah dan martabat, tetapi sebagai instrumen bagi kepentingan diri. Oleh karena itu, kritik terhadap materialisme bukan berarti menolak harta. Harta diperlukan untuk kehidupan. Yang perlu ditolak adalah ketika harta menjadi ukuran nilai manusia. Manusia boleh memiliki harta, tetapi harta tidak boleh memiliki manusia.
Relevansi Filsafat Manusia Bajawa-Ngada
Kearifan Bajawa-Ngada menjadi sangat relevan bagi masyarakat kontemporer karena menawarkan koreksi terhadap kecenderungan individualisme dan materialisme. Pertama, kita ata dan ata kita mengajarkan bahwa manusia adalah pribadi sekaligus bagian dari komunitas. Kedua, ngay ngata go kita ata menegaskan bahwa keberadaan manusia mempunyai dimensi komunal. Ketiga, da bopo molo ne'e da dho'o, da pi'o molo ne'e da sipo mengajarkan kehadiran dan perhatian terhadap sesama. Keempat, meku ne'e doa delu, modhe ne'e soga woe menempatkan kasih dan pertolongan sebagai dasar kehidupan bersama. Kelima, beke meze, kasa kapa memberikan batas bahwa kasih tidak boleh berubah menjadi dominasi. Keenam, le papa mesu mengajarkan penghargaan terhadap keunikan kemampuan manusia. Ketujuh, to'o penge to'o, rejo penga rejo menegaskan pentingnya kerja sama.
Keseluruhan gagasan tersebut dapat dirangkum dalam satu tesis bahwa manusia menjadi manusia melalui relasi yang menghormati martabat sesamanya. Filsafat manusia Bajawa-Ngada memperlihatkan suatu pandangan antropologis yang menempatkan manusia sebagai makhluk relasional. Manusia tidak dipahami terutama sebagai individu yang terpisah dari komunitas, melainkan sebagai pribadi yang memperoleh makna melalui relasi dengan sesama. Kita ata dan ata kita memperlihatkan kesatuan antara pribadi dan komunitas. Ngay ngata go kita ata menunjukkan bahwa keberadaan manusia mempunyai dimensi kebersamaan. Sementara da bopo molo ne'e da dho'o, da pi'o molo ne'e da sipo menegaskan pentingnya kehadiran dan perhatian terhadap sesama.
Meku ne'e doa delu, modhe ne'e soga woe menampilkan kasih sebagai dasar kehidupan sosial, sedangkan beke meze, kasa kapa memberikan batas agar kasih tidak berubah menjadi pemaksaan dan dominasi. Selanjutnya, le papa mesu menunjukkan bahwa perbedaan kemampuan bukan alasan untuk menciptakan hierarki kesombongan, melainkan kesempatan untuk saling melengkapi. To'o penge to'o, rejo penga rejo kemudian mengubah kesadaran tersebut menjadi kerja sama konkret.
Jika ditempatkan dalam dialog dengan Buber, Marcel, dan Levinas, kearifan Bajawa-Ngada memperlihatkan kedekatan dengan filsafat dialog, filsafat kehadiran, dan etika tanggung jawab terhadap yang lain. Buber mengingatkan bahaya mereduksi manusia menjadi "It"; Marcel mengingatkan pentingnya kehadiran dan keterbukaan; sedangkan Levinas menegaskan tanggung jawab etis terhadap yang lain.
Oleh karena itu, kearifan Bajawa-Ngada bukan sekadar nostalgia budaya. Ia merupakan sumber filsafat manusia yang dapat digunakan untuk membaca krisis kemanusiaan masa kini. Ketika keluarga mulai diperlakukan sebagai alat memperoleh keuntungan, ketika persaudaraan berubah menjadi transaksi, ketika orang lain dimanfaatkan karena uang dan koneksinya, dan ketika manusia dinilai berdasarkan manfaat ekonominya, prinsip ata kita menjadi semakin penting.
Kearifan leluhur mengingatkan bahwa manusia tidak boleh kehilangan manusia di dalam dirinya. Pada akhirnya, pertanyaan paling penting bukanlah berapa banyak yang kita miliki, tetapi siapa yang menjadi lebih manusia karena kehadiran kita. Sebab manusia bukan hanya makhluk yang memiliki. Manusia adalah makhluk yang berelasi, mengasihi, menolong, menghormati, dan bekerja bersama. Dan dalam perspektif Bajawa-Ngada, mungkin di situlah manusia menemukan kembali dirinya bahwa aku bukan hanya aku, melainkan aku adalah aku bersama kita.
Daftar Pustaka
Buber, M. (1923). Ich und Du [I and Thou]. Leipzig: Insel Verlag.
Djandon, D. (2020). "Fungsi Woe dalam Sistem Sosial Masyarakat Tradisional Desa Turekisa." Historis: Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah. Penelitian ini menunjukkan fungsi woe dalam mempertahankan keharmonisan, kerja sama, gotong royong, dan solidaritas sosial.
Levinas, E. (1961). Totalité et Infini: Essai sur l'extériorité. The Hague: Martinus Nijhoff.
Marcel, G. (1949). Being and Having. London: Dacre Press.
Marcel, G. (1951). The Mystery of Being. London: The Harvill Press.
Schröter, S. (2005). "Red Cocks and Black Hens: Gendered Symbolism, Kinship and Social Practice in the Ngada Highlands." Anthropological Forum. Kajian ini memperlihatkan kompleksitas simbolisme gender, kekerabatan, dan praktik sosial dalam masyarakat Ngada.
Sunarti, S. (2016). "Fungsi Sosial dan Transendental Tradisi Lisan Dero-Sagi Suku Bajawa-Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur." Jentera: Jurnal Kajian Sastra, 5(1), 86–99. Penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi Dero-Sagi mempunyai fungsi sosial dan transendental serta menjadi bagian dari keberlanjutan tradisi lisan masyarakat Bajawa-Ngada.
Pemerintah Kabupaten Ngada. (2024). Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Ngada Tahun 2024.
Baca Juga:
Tentang Penulis
Andreas Neke, S.Ag., B.Th.
Pendidik dan penulis asal Flores, Nusa Tenggara Timur.
→ Lihat Profil PenulisMenyukai tulisan tentang makna hidup dan pergulatan manusia?
Temukan gagasan lebih mendalam dalam buku Remaja dan Pergumulan Jati Dirinya.
Lihat Buku →